5 Trend Personal Bisnis di 2022 ke Depan💡
Era digital identik dengan gig economy. Putaran bisnis dunia kreatif mulai dari Citayam Fashion week, sampai Daily Mini Vlog di Tiktok 🚀
Skuy kita bedah tipis;
Ada yang komen di post gue tadi.
13 tahun di BUMN. Resign usia 35-an. Yang dirindukan? Sargima — sarapan pagi bersama.
Gue langsung ngerti kenapa.
Bukan soal makanannya. Tapi soal ritualnya. Rasa belonging yang susah dijelasin — tapi langsung lo rasain kalau udah nggak ada.
Yang jarang dibahas soal resign dari korporat:
Lo nggak cuma ninggalin kerjaan. Lo ninggalin identitas.
Gue 4 tahun di perusahaan. Dan pas keluar — shift identity itu berat dampaknya. Butuh waktu untuk ngerti: gue ini siapa kalau bukan “orang kantor”?
— Kalau setuju, langsung dikerjain hari itu
— Outfit: terserah. Seriously, terserah
Produktivitasnya? Bali menang jauh.
Yang gue kangenin dari BUMN? Jujurly upacara sih wkwk
Lo yang pernah kerja di korporat — mana yang paling lo relate? 👇
BUMN gue dulu:
— Rapat jam berapa. Tapi mulainya jam berapa
— Semua setuju di meeting. Eksekusinya who knows
— Outfit: kemeja. Setiap hari.
Bali sekarang:
— “Meeting” itu artinya ngobrol sambil ngopi
Hal-hal yang beneran bikin produktif di Bali:
✓ Nggak ada commute. Nol. Energi lo utuh dari pagi
✓ Kafe-kafe di sini dirancang buat orang yang kerja lama
✓ Ketemu orang yang juga lagi building something — itu nular
Kita adalah navigasi dari ribuan persimpangan jalan—beberapa kecil, beberapa monumental—dan pada setiap titik, kita memiliki kesempatan untuk membuat pilihan dengan kesadaran atau membiarkan arus kehidupan mendorong kita ke arah yang tidak kita inginkan.
Pilihan yang kita buat setiap hari membentuk bukan hanya masa depan kita, tapi juga esensi dari siapa kita. Dalam dunia yang penuh dengan opsi tak terbatas, kita sering tersesat dalam keputusan kecil sambil menunda pilihan transformatif yang benar-benar membebaskan potensi kita.
Kebebasan sejati bukanlah memiliki semua pilihan di dunia, tetapi mengetahui pilihan mana yang layak diambil.
Kebijaksanaan terdalam terletak pada kemampuan untuk membedakan antara pilihan yang menawarkan kenikmatan sementara dan yang menghasilkan kebahagiaan jangka panjang.
Kesederhanaan bukanlah tanda kelemahan. Justru, butuh kekuatan untuk menerima dan menjalani hidup secara sederhana. Dengan berpikir cerdas, kita memahami bahwa tidak perlu menjadi spektakuler untuk hidup bahagia.
Hidup cerdas tidak selalu berarti menjadi luar biasa. Kadang, kebijaksanaan sejati ditemukan dalam menerima dan menikmati hal-hal biasa. Saat kita berhenti mengejar kesempurnaan, kita mulai menemukan kebahagiaan.
Agustus bukan hanya soal merayakan kemerdekaan bangsa, tapi juga merayakan kemerdekaan berpikir.
Dalam dunia yang sering menuntut kita untuk berpikir seperti orang lain, kemerdekaan sejati adalah ketika kita berani berpikir sendiri, menentukan jalan kita sendiri.
Ketika masa depan demokrasi dipertaruhkan, kita semua harus waspada. Peringatan Darurat! Saatnya bersama-sama mengawal putusan MK dengan penuh tanggung jawab. Suara rakyat harus dijaga, keadilan harus ditegakkan.
Dalam situasi darurat ini, peran kita sebagai warga negara sangatlah krusial. Pastikan bahwa suara kita didengar dan hak kita dilindungi. Ini adalah waktu di mana kita harus berdiri bersama, memastikan bahwa prinsip-prinsip demokrasi tetap tegak di atas segalanya.