สายรีอย่างเดียว แล้วก็เป็นสายสปอยล์ที่สุด รักเมน Support ทุกอย่างทุกเรื่องที่จะทำให้เค้ายิ้มเค้ามีความสุข เพราะความสุขของเค้ามันคือความสุขของเรา No Drama
Gottman Institute, lembaga riset pernikahan 40 tahun, punya istilah untuk ini:
Emotional Withdrawal.
Bukan marah. Bukan benci. Tapi BERHENTI mencoba.
Data mereka:
Rata-rata istri menyampaikan keluhan yang sama 6 kali sebelum berhenti bicara.
6 kali, Pak. Dan setelah berhenti? Gottman bilang: pasangan punya window 6–18 bulan sebelum hubungan masuk fase "emotional divorce" ,
masih tinggal serumah, tapi sudah hidup terpisah secara emosi.
Mereka gak cerai. Tapi mereka juga gak bersama.
Dan di baris terakhir, istrinya nulis:
"Capek ngomong sama orang yang gak mau dengar. Jadi ya buat apa aku tanggepin, katamu lebih waras kalo diem?ya aku diem"
Bukan chat cowok lain. Bukan history belanja rahasia.
Catatan di Notes HP.
Judulnya: "Hal-hal yg gak perlu aku bilang lagi."
Isinya:
"Minta tolong gendong anak, dia bilang capek. Udah."
"Cerita soal tetangga yg bikin kesel, dia bilang aku lebay. Udah."
"Nangis habis berantem, dia gak peluk. Gak nanya. Udah."
"Minta quality time, dia bilang weekend aja. Weekend dia futsal. Udah."
17 poin.
17 hal yang pernah istrinya sampaikan. Yang dijawab "nanti" atau "ya udah" atau "gak usah baper."
Istrinya gak pernah marah.
7 tahun nikah. Gak pernah teriak. Gak pernah banting pintu. Gak pernah nangis di depan dia.
Tiap ada masalah, dia cuma bilang: "Ya udah."
Tiap dia lupa anniversary, istrinya bilang: "Gak apa-apa."
Tiap akhir pekan dia main futsal dan istrinya sendirian sama anak,
jawabannya tetap: "Santai aja."
Dia bangga. "Istri gue tuh kalem. Gak ribet. Gak drama."
Dia cerita itu ke temen-temennya kayak prestasi.
Sampai suatu malam, dia nemuin sesuatu di HP istrinya.