katanya sih we'll eventually meet better person based on seberapa tulus kita, but is it real?
what if we keep bertemu org yg gabisa menghargai ketulusan kita?
“sebelum belajar how to be a good parent, learn how to be a good spouse first” AGREE ANJGGG WHAT’S THE POINT OF BEING A GOOD FATHER IF YOU’RE A SHITTY HUSBAND
Gak usah sok keras!
Dulu komunis
Dulu (mungkin sampai sekarang) etnis Tionghoa
Sekarang teman2 LQBTQ+
Tapi bisa aja
Besok Kpopers
Besok supporter bola
Besok pembaca
Besok anak gym
Besok sinefil
Besok penonton Spongebob
etc
Tak ada yg pernah tahu kelompok mana yg akan dijadikan kambing hitam di negara yg bobrok ini. Jadi, kasihilah sesamamu manusia, wahai manusia. Yang iblis ya udah sih emang susah dibilangin.
Ku menemukan damai setelah stop over explaining ke orang (hobi dan termasuk hal lain), biarin aja mereka bingung. Kalau kelihatannya mereka berminat baru jelasin, gak perlu buang waktu kita ke orang yang bahkan gak ngehargain kesenangan kita, atau ngeliat hanya dengan "Ih sayang"
JUJUR JUSTRUUUUU rasanya jadi capek karena mempertanyakan gue terlalu aware ya? kok orang lain gabisa paham yg gue rasakan? apa emang gue terlalu lebay? karena jadinya rasanya our standards itu ketinggian dibandingkan 'normal'nya orang lain. capek coy😇
Lagi scroll scroll timeline nemu video ini 😭😭😭
Jadi ada kejadian di sebuah rumah, tukang urut sama yang diurut sama sama tidurrr anjirrrr wkwkwwk😭😭😭 KALO GINI KAPAN SELESAINYA WOIIIIII 😭
this country will never be progressive kalo orang-orangnya cuma mau melihat dunia dari kacamata "di ajaran [insert agama] kayak gini gak boleh, harus dibasmi!", instead of accepting semua hal itu kompleks, diverse, dan banyak faktor2 yg mempengaruhi how things came to be