ALASAN KENAPA HIDUP LU STRESS
1. Ga olahraga
2. Kurang kena matahari
3. Makan sembarangan
4. Jarang doa or meditasi
5. Suka nunda-nunda
6. Jam tidur berantakan
7. Kebanyakan scroll sosmed
8. Ga punya hobi or passion
9. Manajemen waktu yang buruk
10. Jauh dari diri sendiri.
Menurut ku cowo yg bayarin cewe nya makan, dianter-jemput itu bukan bare minimum.
Di balik itu mereka nahan makan, mereka nabung buat bayarin kita, mereka spent itu buat kita padahal bisa buat dirinya sendiri, in my opinion itu efort
Bapak bayar BPJS tiap bulan. Rp 100.000.
4 tahun. Total hampir Rp 5 juta.
Bapak mungkin mikir: "Ya kan buat jaga-jaga. Kalau sakit baru dipakai."
Justru itu. Gak perlu nunggu sakit.
Kacamata? Bisa diklaim. Bersihin karang gigi? Ditanggung. Tambal gigi? Gratis. Dan jutaan orang GAK TAU. Termasuk mungkin Bapak
Pantes temen gua yang main di kitchen bilang gaada yang suka sama nih orang lmao
Anak sakit, butuh di temenin lah kocak. Istri dirumah jaga, suami bisa bantu bawa ke dokter just in case. Hak pekerja bener bener ga dipandang ya di indo lol
Buat yg belum tau, kalau mentemen kehabisan tiket langsung kereta Jakarta - Jogja atau sebaliknya, mending naik Sawunggalih yg turun/naik di Kutoarjo.
Ini tiket di hari yg sama pun (Jumat, 1 Mei) harganya lebih murah daripada semua kelas Ekonomi non PSO yg langsung dari Jogja ke Jakarta.
Bandingkan:
• Sawunggalih + Prameks = 258 ribu
• Jayakarta : 270 ribu
• Progo : 290 ribu
• Jaka Tingkir : 300 ribu
• Bogowonto : 330 ribu
Dll.
Nanti dari Kutoarjo ke Jogja atau sebaliknya, kalian bisa naik Prameks, cuma 8 ribu.
++ Sawunggalih ini lumayan ngebut, Kutoarjo - Jakarta cuma 6 jam.
Kelas Eksekutifnya juga lebih murah daripada yg langsung dari Jogja
Guys, ada wacana yang beredar tentang pemerintah mau mengambil alih 51% saham BCA bank swasta terbesar di Indonesia.
Dan sebelum lo bisa menilai wacana itu, lo perlu tahu dulu siapa sebenarnya BCA dan perjalanan panjang yang sudah dilaluinya.
BCA lahir bukan dari niat mulia tapi dari kebutuhan bisnis:
Tahun 1957.
Liem Sioe Liong pendiri Salim Group membangun Bank Central Asia bukan untuk melayani rakyat Indonesia.
Tapi karena kerajaan bisnisnya butuh jantung keuangan yang bisa mengalirkan dana ke seluruh jaringan usahanya.
Tapi dari kebutuhan itu lahir sesuatu yang lebih besar dari yang direncanakan.
BCA dari awal bermain di dua dunia sekaligus: menjadi penyokong utama bisnis-bisnis Salim Group di satu sisi dan melayani segmen retail kecil menengah di sisi lain.
Dan sejak tahun 1970-an mereka sudah berani berinvestasi di teknologi komputerisasi ketika bank lain masih manual.
Ditambah satu faktor yang tidak bisa diabaikan: kedekatan Liem Sioe Liong dengan Soeharto. Hubungan yang terjalin sejak Soeharto masih di militer di Jawa Tengah ketika Liem sering memasok logistik untuk pasukan Soeharto.
Ketika Soeharto naik jadi presiden akses istimewa mengalir ke Salim Group.
Krisis 1998 momen yang hampir menghancurkan semuanya:
Rupiah jatuh dari Rp2.400 ke lebih dari Rp15.000 per dolar dalam hitungan bulan.
Bank-bank yang punya kewajiban dalam dolar tapi pendapatan dalam rupiah neraca mereka hancur.
BCA dilanda bank run.
Cabang-cabang penuh antrian.
ATM kehabisan uang.
Semua orang panik menarik tabungan sebelum banknya bangkrut.
BCA di ujung tanduk.
Pemerintah tidak bisa diam.
BCA terlalu besar untuk dibiarkan jatuh to big to fail.
Kalau BCA runtuh efek dominonya bisa menghancurkan seluruh sistem perbankan Indonesia.
Maka masuklah BLBI Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.
Dana talangan pemerintah senilai total sekitar Rp147 triliun untuk menyelamatkan bank-bank yang nyaris bangkrut termasuk BCA.
BLBI penyelamat atau mega korupsi?
Ini adalah bab paling kontroversial dalam sejarah BCA.
Secara resmi BLBI adalah dana darurat untuk stabilisasi sistem perbankan.
Dan dalam konteks krisis saat itu tanpa BLBI sistem perbankan Indonesia kemungkinan besar benar-benar lumpuh.
Tapi BPK menemukan banyak kejanggalan.
Audit menunjukkan indikasi penyimpangan yang masif ada dugaan dana talangan tidak sepenuhnya digunakan untuk stabilisasi, melainkan untuk spekulasi valas, membayar utang konglomerat, atau dialihkan ke pihak lain.
Untuk kasus spesifik BCA penyimpangan yang sama belum terbukti secara hukum di pengadilan.
Tapi narasi bahwa uang rakyat disalahgunakan lewat BLBI tetap menjadi luka yang tidak sembuh sampai hari ini.
Dari tangan negara kembali ke Salim dan ini yang kontroversial:
Tahun 1998 pemerintah lewat BPPN mengambil alih BCA karena situasi darurat.
Tahun 2002 kepemilikan mayoritas BCA dilepas ke pihak swasta melalui Farindo Investment.
Yang kemudian diketahui merupakan entitas yang mewakili kepentingan Anthony Salim putra dari Liem Sioe Liong.
Singkatnya:
BCA diselamatkan oleh uang rakyat lewat BLBI lalu beberapa tahun kemudian dikembalikan ke keluarga yang sama yang dulu menguasainya.
Langkah ini kontroversial.
Tapi secara finansial dianggap berhasil karena negara berhasil mendapatkan kembali sebagian besar dana talangan yang pernah dikeluarkan.
Kebangkitan BCA dan ini yang membuat mereka menjadi apa yang sekarang:
Di bawah kepemimpinan baru pasca-krisis BCA melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan kebanyakan bank lain.
Mereka tidak mengejar kredit jumbo ke korporasi besar yang berisiko tinggi.
Sebaliknya BCA memusatkan strategi pada retail dan UKM. Transaksi harian masyarakat gaji, belanja, bayar tagihan, cicilan kecil menjadi pasar utama.
Strategi ini menghasilkan CASA atau Current Account Saving Account yang mengalir stabil fondasi likuiditas yang luar biasa kuat dan murah.
Inovasi terus berjalan:
ATM yang terus diperluas, KlikBCA, mobile banking, sistem backend yang andal dan jarang bermasalah. Bukan hanya tampilan yang keren tapi mesinnya benar-benar solid.
Dan ada satu hal yang lebih berharga dari semua inovasi itu: reputasi yang dibangun dari krisis 1998.
Fakta bahwa BCA bisa selamat dari krisis terburuk dalam sejarah perbankan Indonesia dan uang nasabah tetap aman menjadi iklan gratis yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun.
BCA keluar dari krisis sebagai bank yang lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih dipercaya dari sebelumnya.
Sekarang wacana pemerintah ambil alih 51% saham BCA:
Ini adalah pertanyaan yang sedang ramai dibicarakan.
Dan jawabannya tidak sederhana.
Dari sisi internal BCA risikonya sangat nyata:
BCA selama ini dikenal lincah, efisien, dan fokus pada kepuasan nasabah. Keputusan bisa dibuat cepat karena tidak perlu birokrasi berlapis.
Kalau 51% sahamnya dipegang pemerintah risiko pertama adalah birokratisasi.
Keputusan yang biasanya cepat bisa tertahan karena harus menunggu persetujuan pejabat atau regulasi tambahan.
Risiko kedua: pergeseran strategi.
Yang tadinya fokus pada layanan transaksi harian dan pembiayaan UKM yang menghasilkan profit sehat bisa bergeser ke program pemerintah seperti penyaluran KUR dalam jumlah besar.
Kalau disalurkan tanpa seleksi ketat kredit macet naik kinerja bank turun
Angka-angka kebanggaan investor seperti ROE dan BOPO bisa tertekan. Dan investor tahu cara membaca angka-angka itu.
Dari sisi nasabah:
Jangka pendek tidak perlu panik. Uang tetap aman karena ada LPS. Layanan tidak akan berubah dalam semalam.
Tapi jangka panjang bisa terasa bedanya. Inovasi digital yang selama ini jadi keunggulan BCA bisa melambat. Pelayanan yang terkenal ramah dan cepat berisiko menurun kalau birokrasi terlalu banyak campur tangan.
Dari sisi pasar modal dan sinyal ke investor asing:
Ini yang paling berbahaya.
BCA adalah bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. Kalau tiba-tiba diambil alih pemerintah sinyal yang dikirim ke investor global sangat jelas: di Indonesia, perusahaan swasta yang sudah sehat dan berjalan baik pun bisa diambil alih negara kapan saja.
Konsekuensinya: capital outflow. Modal asing kabur. Kepercayaan terhadap iklim investasi Indonesia turun drastis.
Dan soal uangnya ini yang paling kritis:
Untuk mengambil alih 51% saham BCA pemerintah butuh ratusan triliun rupiah. Nilainya fantastis.
Pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur: apakah lebih worth it menggunakan ratusan triliun uang rakyat untuk membeli saham bank yang sudah sehat dan jalan sendiri atau menggunakan uang itu untuk infrastruktur, sekolah, rumah sakit, dan listrik di desa?
BCA sudah menghasilkan keuntungan sendiri. BCA sudah berinovasi sendiri. BCA sudah melayani jutaan nasabah dengan sangat baik tanpa perlu intervensi negara.
Pelajaran terbesar dari perjalanan panjang BCA:
Di dunia perbankan kepercayaan adalah segalanya. Dan kepercayaan tidak bisa dibeli dengan iklan atau jargon manis.
BCA membuktikan ini dengan cara paling keras: mereka jatuh ke titik paling rendah di 1998 tapi justru dari sana mereka membuktikan bahwa uang nasabah benar-benar aman di tangan mereka. Dan dari pembuktian itu lahir loyalitas yang tidak bisa digoyahkan.
Kepercayaan yang sudah dibangun selama puluhan tahun dengan track record yang konsisten adalah aset yang jauh lebih berharga dari gedung, teknologi, atau bahkan laba.
Dan itulah yang paling berisiko hilang kalau BCA berubah dari bank swasta yang efisien menjadi BUMN yang birokratis.
Wacana pengambilalihan 51% saham BCA oleh negara terdengar nasionalistis. Tapi kalau dikaji lebih dalam — risikonya sangat besar dan manfaatnya sangat tidak jelas.
BCA bukan perusahaan yang sedang bermasalah yang perlu diselamatkan negara. BCA adalah bank yang sudah sehat, efisien, inovatif, dan menghasilkan keuntungan tanpa perlu intervensi pemerintah.
Mengambil alih yang sudah berjalan baik bukan nasionalisme. Itu adalah intervensi yang bisa merusak sesuatu yang sudah bekerja dengan sangat baik.
Dan sejarah sudah pernah membuktikan sekali ketika BCA di bawah kendali negara di 1998 yang terjadi adalah restrukturisasi darurat yang penuh kontroversi, bukan bank yang semakin sehat.
Guys, ada kabar duka yang sangat berat hari ini dan di baliknya ada cerita yang menurut gue harus diketahui semua orang.
dr. Myta Aprilia Azmi meninggal dunia pada 1 Mei 2026 dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal.
Tapi sebelum dia meninggal ada surat resmi dari IKA FK Unsri yang mengungkap fakta-fakta yang sangat mengkhawatirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ini bukan sekadar dokter yang sakit lalu meninggal:
Berdasarkan investigasi internal dan kronologi tertulis yang dikumpulkan IKA FK Unsri ada empat temuan yang menurut gue perlu lo baca dengan sangat serius.
Pertama — beban kerja yang tidak manusiawi.
Dr. Myta menjalani tiga bulan tanpa libur di bangsal dan IGD. Tiga bulan. Tanpa libur.
Dan selama itu dia bekerja tanpa supervisi dokter definitif melanggar aturan Kemenkes yang jelas menyatakan dokter internship statusnya dokter magang, bukan pekerja tetap rumah sakit.
Kedua — kelalaian medik yang sangat mengkhawatirkan.
Dr. Myta sudah melaporkan gejala sakit sejak Maret 2026. Tapi dia tetap dipaksa menjalani jadwal jaga malam dalam kondisi sesak napas berat dan demam tinggi.
Yang paling mengejutkan:
saturasi oksigennya sudah menyentuh 80% sebelum akhirnya mendapat penanganan yang layak.
Saturasi 80% itu bukan kondisi ringan. Itu kondisi darurat yang seharusnya langsung ditangani.
Ketiga — dugaan malapraktik administratif.
Obat Sulbacef kosong di rumah sakit.
Dan pasien yang merupakan tenaga kesehatan di wahana tersebut yaitu dr. Myta sendiri diminta mencari obat sendiri di luar.
Dokter yang sakit disuruh cari obatnya sendiri.
Keempat — tindakan intimidasi dan upaya penutupan informasi.
Ada arahan dari oknum pembimbing untuk merahasiakan kondisi dr. Myta agar tidak terjadi prolong atau perpanjangan masa internsip.
Dan ada narasi gaslighting yang menyerang para dokter internship ketika mereka menyuarakan hak dasar kesehatan mereka dengan sebutan "generasi Z lembek."
Ini bukan kasus individual.
Ini adalah cerminan sistem:
Yang membuat kasus ini lebih dari sekadar tragedi personal adalah konteksnya yang sangat sistemik.
Dokter internship di Indonesia berstatus dokter magang bukan pegawai tetap.
Tapi dalam praktiknya mereka diperlakukan seperti tenaga kerja penuh tanpa perlindungan yang memadai.
Tidak ada batasan jam kerja yang ditegakkan.
Tidak ada supervisi yang dijamin.
Tidak ada mekanisme yang melindungi mereka ketika mereka sakit dan membutuhkan istirahat.
Dan ketika mereka berani bersuara mereka dibungkam dengan label "lembek."
Dokter yang sesak napas dengan saturasi 80% dan demam tinggi tetap dipaksa jaga malam.
Ini bukan tentang ketabahan atau dedikasi.
Ini adalah eksploitasi yang berpotensi fatal.
Dan terbukti fatal.
IKA FK Unsri bergerak dan ini langkah konkret yang mereka tuntut:
Surat resmi tertanggal 30 April 2026 dari Ketua Umum IKA FK Unsri, dr. H. Achmad Junaidi, Sp.S(K)., MARS., ditujukan langsung kepada Menteri Kesehatan RI. Isinya empat tuntutan.
Audit menyeluruh terhadap RSUD K.H. Daud Arif sebagai wahana internship dan evaluasi kelayakan oknum pembimbing yang terlibat dalam kronologi ini. Perlindungan agar tidak ada sanksi administratif atau ancaman prolong terhadap dr. Myta dan rekan-rekan internship lain yang mengalami beban double job akibat kekosongan posisi.
Somasi administratif kepada RSUD agar memberikan penjelasan resmi dan pertanggungjawaban atas pengabaian kondisi klinis dr. Myta sejak awal sakit.
Dan tidak menutup kemungkinan langkah hukum jika ditemukan unsur pidana terkait kelalaian yang mengancam jiwa.
Yang paling menohok dari seluruh cerita ini:
Dr. Myta Aprilia Azmi sudah melewati bertahun-tahun kuliah kedokteran yang keras.
Sudah melalui koas.
Sudah lulus ujian.
Sudah berhasil sampai di tahap internship tahap terakhir sebelum resmi menjadi dokter penuh.
Dan di tahap itu dia jatuh sakit, melaporkan kondisinya, tidak didengar, tetap dipaksa bekerja, saturasi oksigennya jatuh ke 80%, dan akhirnya tidak sempat menikmati gelar dokter yang sudah dia perjuangkan bertahun-tahun.
Sementara ada oknum pembimbing yang sibuk memikirkan bagaimana supaya kondisinya tidak menyebabkan prolong bukan bagaimana supaya dia bisa sembuh.
Untuk semua dokter internship yang sedang membaca ini:
Kalian bukan "generasi Z lembek." Kalian adalah manusia yang berhak atas jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, dan penanganan medis ketika kalian sakit. Itu bukan privilege. Itu hak dasar.
Dan untuk sistem yang selama ini menganggap dokter internship sebagai tenaga kerja murah tanpa perlindungan kasus dr. Myta harus menjadi titik balik. Bukan hanya menjadi trending topic sehari lalu dilupakan.
Semoga dr. Myta Aprilia Azmi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga perjuangan ini tidak sia-sia.
Al-Fatihah.
cc: threads
Gmail lo udah ngirim peringatan "Storage almost full" tiap hari?
Sebelum bayar Google One Rp32rb/bulan, coba bersihin dulu. Lo bisa kosongin 5GB+ dalam 10 menit tanpa hapus email penting.
Google sengaja gak gampangin cara bersihinnya biar lo bayar. Gini caranya.