Ngomong-ngomong tinggal di kota panas atau dingin, kalian prefer mana?
I’ll go first: TINGGAL DI KOTA PANAS.
Kebetulan dulu tinggal daerah panas & sekarang tinggal daerah dingin.
- Matahari lebih sering muncul bikin happy
- Mandi & minum air dingin jadi lebih nikmat
- Kurang suka vibes mendung & gloomy
Tapi emang minusnya tinggal di tempat panas, GERAH TERUS BAWAANNYA.
Udah pasti harus siap “kipas angin kecil” kalau keluar. Valid gak? 🙂
Funfact aja, sebelum Sawit jadi tanaman komersial di Indonesia
Sawit itu awalnya tanaman hias. Biji dari buah sawit dari Kebun Raya Bogor ini kemudian disebar ke Sumatera.
Lalu ditanam sama pemerintah lokal di Sumatera sebagai tanaman hias pinggir jalan.
Sampai kemudian, Belanda mengalami revolusi industri. Mereka berusaha mencari minyak nabati yang bisa diproduksi skala besar.
Minyak kelapa sebagai minyak tradisional kurang mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Akhirnya dipakailah sawit sebagai penghasil minyak nabati.
Perkebunan kelapa sawit berskala besar kemudian dibuka untuk pertama kalinya pada tahun 1911 di Sumatera Timur (sekarang Sumut).
Setuju sama kata bapak-bapak warmindo pas ngobrol siang tadi:
"Buah lokal sini tuh banyak. Cuma ngga terkenal. Lama-lama punah akhirnya."
Beliau mencontohkan: buah kupa (Syzygium polycephalum). Asli Indonesia. Warna ungu-hitam, dengan daging buah putih. Rasa asem sedikit manis.
Lebanese journalist Amal Khalil was found dead after hours of searching under rubble. She was killed in an Israeli strike, after the Israeli army fired at ambulances trying to reach her, delaying her rescue.
She is the fourth journalist killed by Israel while in the field since 2 March.
She was a professional, kind and dedicated journalist, and always a pleasure to run into in the field.
Subuh 1945, ia justru mengirim telegram saat semua raja lain masih menunggu arah. Di meja istananya, keputusan itu langsung memotong masa depan keluarganya sendiri.
Namanya Sultan Syarif Kasim II. Raja terakhir Siak Sri Indrapura.
Isi pesannya singkat.
Tidak ada syarat.
Tidak ada negosiasi.
Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia.
Beberapa hari kemudian, ia tidak berhenti di kata-kata.
Ia membuka kas kerajaan.
13 juta gulden keluar. Jumlah yang, jika dihitung hari ini, setara lebih dari Rp1 triliun.
Belum selesai.
Mahkota emas dilepas. Pedang bertatahkan berlian ikut diserahkan. Perhiasan kerajaan menyusul. Saat itu, Republik bahkan belum punya kas negara yang jelas.
Di titik ini, pilihannya sebenarnya masih terbuka. Ia bisa seperti Yogyakarta.
Tetap berkuasa...
Mendapat status istimewa !
Ia tidak memilih itu
Siak dilebur penuh ke dalam NKRI.
Tanpa syarat !
Tanpa kursi !
Tanpa jaminan masa depan politik !
Bersamaan dengan itu,
wilayahnya ikut masuk. Termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas. Salah satu ladang minyak terbesar Indonesia.
Negara tumbuh...
Devisa mengalir...
Hidupnya justru mengecil 😢
Ia meninggalkan istana. Pindah-pindah antara Jakarta, Aceh, lalu kembali ke Siak.
Tidak ada jabatan...
Tidak ada protokol...
Catatan tentang masa tuanya selalu sama : sederhana !
23 April 1968, ia wafat di RS Caltex, Rumbai.
Bukan di istana..
Bukan sebagai raja..
Tiga puluh tahun kemudian, negara baru memberi gelar.
Pahlawan Nasional, 1998.
Dan satu hal yang jarang disebut di awal cerita :
Ia tidak kehilangan tahta karena direbut.
Ia yang menyerahkannya sendiri !
Belum banyak studi akademik untuk
mempelajari pudar dan hilangnya kesultanan-kesultanan Nusantara yang sangat bervariasi setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Padahal studi ini penting, bukan saja dari sudut kepentingan akademik saja, tetapi juga bagi generasi bangsa ini agar mampu memahami masa lalu bangsanya, dan menatap ke depan untuk membangun Indonesia Raya yang kuat, bersatu dan berdaulat serta menempatkan dirinya sebagai sebuah bangsa dan negara besar yang berpengaruh dan berwibawa di dunia..
“Open the road.”
Palestinian children protest at barbed wire erected by Israeli settlers in occupied West Bank village of Um al-Khair—calling for their basic right to access their school, move freely, & live without occupation.
Imagine your child facing this on the way to class
Israel killed Farizal in South Lebanon.
He wasn’t a fighter — he was a UN PEACEKEEPER from Indonesia.
A father. A husband.
Israel killed him anyway.
And not a peep from Western media.
No global outrage. No condemnation. No accountability.
@joey_ardiva Ini namanya kecerdasan politik.
Bisa bandingin cuma bali vs pati.
Pati rakyatnya cerdas politik, tau hak mereka, lawan, demo.
Bali? Mau masing2 rumah dibakar diperkosa ditusuk disate juga santai aja karena gk ngerti hak politis sebagai rakyat
Wkwkwk murni tolol
Sumpah salut banget sama warga Bali, TPA dah ditutup, warga pada bakar sampah, trotoar masih jelek, pajak bandara entah kemana, lahan besar2an dijual ke bule2, tapi tetep santuy2 ae alias ga ada demo2, saluttttttt