orang yg ngeracun kucing ga tenang sih hidupnya, kalau misal memang kucingnya ganggu bisa ngomong ke yg punya plisss. asli sih sedih banget nemuin kucingku yg udah 3 hari ga pulang ternyata udah mati di lahan kosong deket rumah.
guys, ada yang punya rekomendasi kosan daerah benhil/setbud atau jaksel yang accessible sama mrt kah? kl ada, mind to share ya. thank you! 🙏🏻
range: 2-3mio, max bgt 3,5 💸
Kemanakah hubungan sesama lelaki ini berakhir?
I promise, ini akan menjadi Tweet terakhir gw…pada hari ini…hehehe…
Kadang gw mikir gitu. Pas lagi sendirian di kamar kayak malem ini. Pas liat foto lama. Atau pas denger lagu yang dulu pernah dia nyanyiin sambil nyetir.
Gw pernah cinta habis-habisan. Yang pertama kali itu… nyaris lima tahun. Gw pikir, “Ini dia orangnya.” Udah mikir for ever. Udah kenalin ke temen, udah mulai bayangin rumah kecil dengan dapur terbuka dan dua cangkir kopi tiap pagi.
Eh, ditinggal. Perepewi.
Masih keep in contact, cuma “udah gak kayak dulu” dan perlahan jadi asing.
Kayak semua memori itu bukan milik gw lagi, tapi milik orang yang udah gak balik.
Lalu datang yang ketiga (yang kedua, skip dulu deh). Laki-laki Jerman. 11 tahun. Serius. Dewasa. Stabil.
Kami lewati banyak hal. Dari LDR, pindah-pindah kota, sampai bikin plan untuk civil partnership. Waktu itu mikir, “Oke. Mungkin cinta gak instan. Tapi kalau dijaga, bisa sampai.”
Tapi hidup gak sesimpel timeline. Gw pulang ke Indonesia. Dan perlahan, kita berdua sadar, ada hal-hal yang gak bisa dipaksain meski masih ada cinta. Ada jarak yang terlalu diam. Terlalu kaku untuk diteriakin.
Jadi kalau lo tanya, “Kemanakah hubungan sesama lelaki ini berakhir?”
Gw gak punya jawaban pasti. Tapi yang gw tahu, kadang hubungan itu gak berakhir. Kadang dia berubah bentuk. Dari pelukan jadi kenangan. Dari rencana jadi pelajaran.
Hubungan sesama lelaki seringkali gak dapet peta. Gak ada “parent talk”, gak ada ucapan “selamat” dari keluarga besar, gak ada template tentang bagaimana menjalani dan mengakhirinya.
Yang ada cuma kita.
Berdua.
Ngira-ngira.
Saling nebak.
Kadang saling nyakitin.
Tapi juga…
Saling menyembuhkan.
Sekarang?
Gw masih percaya cinta.
Tapi gw juga gak ngejar “akhir yang pasti” lagi.
Gw ngejar koneksi yang jujur.
Yang hadir tanpa pura-pura.
Yang mau belajar bareng.
Yang tahu kalau hubungan ini gak harus “berakhir di pelaminan” untuk tetap valid.
Karena buat gw, cinta itu bukan soal kemana dia berakhir.
Tapi tentang siapa yang tetap bertahan di tengah semua kemungkinan gagal… dan tetap bilang, “I choose you.”
Hari ini gw cukupkan.
Besok kita omongin lagi.