Lewat di tl langsung bikin diem bentar. Merinding beneran denger doanya
“Jika bapak mengkhianati rakyat, maka saya orang pertama yang bersaksi di hadapan Allah SWT dan meminta melipat gandakan siksaan Bapak di Neraka”
UAH Kepada Prabowo.
Ngeri bgt, urusan amanah rakyat emang taruhannya langsung akhirat. Jangankan jd pemimpin, jd rakyat yg denger kalimat ini aja langsung deg-degan bgt 😭
Tolong jawab jujur : Apakah ini murni kesalahan karakter si anak, atau lingkungan keluarga yang menciptakan monster❓Gimana pendapat kalian??
-Pak Tata, Ayah Taufik ini punya empat orang anak
-Anak pertama perempuan, sudah meninggal dunia karena sakit
-Anak kedua laki-laki, masih hidup dan tinggal di Garut."
-Pak Tata bilang bahwa anak keduanya ini juga bermasalah, seorang pemabuk, sering berkelahi, dan sudah dua kali bercerai.
-Anak ketiga si Taufik Hidayat
-Anak keempat bungsu laki-laki juga, sudah meninggal dunia secara tragis akibat overdosis obat-obatan
-Kematian anak bungsunya inilah yang menjadi salah satu pemicu Bunda Taufik mengalami depresi berat hingga meninggal dunia.
-Kalau kalian pikir perlakuan ke mantan istrinya ini sudah kelewatan, tunggu sampai kalian dengar apa yang dia lakukan ke orang tua kandungnya.
-Sang ayah, Pak Tata, pernah nyaris kehilangan nyawa karena kepalanya dihantam balok kayu oleh Taufik saat sedang mencangkul di sawah
-Pemicunya apa? Sangat sepele dan tidak masuk akal. Taufik ini yang pengangguran mengamuk hanya karena di rumah nggak ada lauk ikan untuk dia makan.
-Gimana mungkin ada anak yang tega bertindak seberingas itu ke ayah kandungnya sendiri demi urusan perut.
-Ternyata asal muasal dari sikap beringas anak-anak Pak Tata ini dari pola asuhnya sendiri, toxic parenting alias pola asuh pembiaran.
-Pak Tata sendiri mengakui kalau sedari kecil Taufik ini adalah anak emas karena dianggap memiliki wajah yang paling tampan di antara saudara-saudaranya.
-Karena fisik yang rupawan itu, Taufik selalu dimanja dan dibela mati-matian oleh sang ayah setiap kali berbuat ulah atau bertengkar dengan tetangganya.
-Hasilnya, sikap buta itu justru mematikan empati Taufik. Dan tahukah kalian, siapa korban paling tragis dari semua kekacauan ini? Sang ibu !!
-Ibu kandungnya sampai meninggal dunia akibat depresi berat. Beliau hancur secara mental melihat kelakuan anak-anaknya.
-Ada yang overdosis, ada yang pemabuk, dan Taufik menjadi pelaku kriminal.
-Sang ibu sampai sering linglung berjalan tanpa arah ke pegunungan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi kita bisa lihat, kisah ini benar-benar nyata.
Gimana menurut kalian? Apakah ini murni karena karakter Taufik yang memang sudah cacat sejak awal atau lingkungan keluarganyalah yang menciptakan monster ini?
Wapres sudah TERBUKTI melakukan tindak PENYUAPAN terhadap mahasiswa.
Berarti ini sudah sesuai dengan Pasal 7A UUD 1945.
Berarti sudah SAH dan harus DI BERHENTIKAN sesuai dengan hukum dan UU yang berlaku 🔥🔥
Demo ketidak becusan Prabowo sbg presiden ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia tp juga LN (Malaysia, Jepang, AS, Australia, dll).
Rakyat Indonesia di seluruh dunia prihatin, Indonesia diambang kehancuran di pimpin Prabowo
Mudah2an seluruh rakyat bersatu demi bangsa & negara.
Besok kalau demo apakah harus ajak Emak-emak? Baru kali ini aksi #demo oleh Aliansi Perempuan Indonesia yang bisa tembus ke Bundaran HI.
Semua jalan ditempuh sama mereka, sempet dikibulin polisi.
Keren banget aksi nya semua hari ini! Omprengan MBG digebuk2 👀
#IndonesiaGelap
Seorang siswi SMAN 6 Jakarta, Neisha Amalia Evrian Putri, meninggal dunia dalam kecelakaan di Jalan Lauser, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
#Kecelakaan#JakartaSelatan#SMAN6Jakarta
Dear Bapak Presiden, dan seluruh pejabat yang hari ini mungkin sedang duduk nyaman di kursi kekuasaan..
Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan, bukan dengan amarah yang membabi buta, tapi dengan dada yang sesak dan hati yang sudah terlalu lama menahan🙏
Hari ini, ribuan mahasiswa dari BEM UI dan berbagai perguruan tinggi Jabodetabek turun ke Bundaran HI. Mereka menamai aksinya "Aksi Menuju Indonesia Bangkrut" - nama yang keras, tapi seperti ungkapan jujur dari hati-hati kami ini.
Nama yang lahir bukan dari kebencian, tapi dari kepedihan yang sudah lama tak kalian dengar.
Mereka bukan turun karena ingin terkenal. Mereka turun karena diam sudah terasa seperti pengkhianatan.
Rupiah pernah menyentuh Rp18.000 per dolar. Harga Pertamax naik lebih dari 30% hanya dalam semalam. Dan yang paling merasakan bukan kalian pejabat tentu saja, tapi ibu yang menghitung ulang belanja hariannya. Bapak yang diam-diam menggaruk kepala memikirkan uang rumah tangganya. Mahasiswa yang mengerjakan skripsi sambil khawatir uang kos bulan depan dari mana.
Indonesia adalah negara yang kaya. Tapi entah mengapa rakyatnya tak kunjung sejahtera. Indonesia adalah negara yang besar. Tapi entah mengapa perut rakyatnya belum bebas dari rasa lapar. Kita belum bicara tentang rasa kenyamanan, itu jauh.
Lima tuntutan mereka sederhana:
"Hentikan pemborosan APBN. Turunkan harga pokok dan BBM. Hentikan program MBG yang kini terseret korupsi. Hentikan Koperasi Desa Merah Putih. Hentikan militerisme di ruang sipil."
Bukan tuntutan anak kemarin sore. Ini adalah tuntutan dari mereka yang melihat pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan pokok, dan kebijakan yang dianggap semakin membebani kehidupan masyarakat - setiap hari, di depan mata mereka.
Kepada adik-adik yang hari ini turun ke jalan~
Kami berdiri bersama kalian. Bukan karena kami tak punya rasa takut. Tapi karena kami tahu: suara rakyat yang diam adalah suara yang sudah menyerah.
Jaga dirimu. Bawa air. Simpan nomor darurat. Jangan terpisah dari kelompokmu. Jika situasi memanas, selamatmu lebih penting dari segalanya. Ingat keluarga dan kami yang sedang mendoakan kalian.
Tapi jika kamu bisa, berdirilah. Tegak. Tenang. Berkepala dingin.
Karena perjuangan ini haruslah jadi kuat dan mampu bertahan.
Kepada para pejabat yang membaca ini.. jika ada:
Bukan mahasiswa yang membuat Indonesia mendekati bangkrut. Yang membuat Indonesia bangkrut adalah ketika kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya sudah habis, dan tak ada yang merasa perlu mengisinya kembali.
Dengarkan mereka. Sebelum jalanan berbicara lebih keras dari yang bisa kalian kendalikan.
- Karirfess, 12 Juni 2026 Untuk Indonesia yang masih layak diperjuangkan -
Demo adalah hak konstitusional. Karirfess mendukung penyampaian aspirasi yang damai, tertib, dan bertanggung jawab.
Guys, ada satu keputusan dalam sejarah Indonesia yang sampai hari ini masih diperdebatkan dan menurut gue adalah salah satu keputusan paling berani yang pernah diambil oleh seorang presiden Indonesia.
BJ Habibie melepas Timor Timur.
Dan konsekuensi politisnya
langsung dia tanggung sendiri:
laporan pertanggungjawabannya ditolak di sidang MPR 1999.
Karirnya sebagai presiden berakhir.
Dia tidak pernah bisa maju sebagai presiden lagi.
Tapi kenapa dia melakukannya?
Pertama konteks sejarah yang sering dilupakan:
Timor Timur bukan bagian dari batas wilayah Indonesia saat kemerdekaan 1945.
Wilayah itu adalah bekas jajahan Portugal selama ratusan tahun bukan Belanda seperti wilayah Indonesia lainnya.
Setelah lama menjadi jajahan Portugal, pada 17 Juli 1976, Timor Timur baru resmi menjadi provinsi Indonesia yang ke-27 di bawah Soeharto.
Dan sejak awalPBB tidak pernah mengakui integrasi itu sebagai sah.
Tekanan internasional tidak pernah berhenti selama 23 tahun.
Dan ini alasan-alasan Habibie yang paling fundamental:
Satu — kalkulasi rasional yang dingin.
Karena analisis untung-rugi yang tidak menguntungkan, keputusan yang paling rasional adalah untuk provinsi yang bukan bagian dari batas asli sejak kemerdekaan 1945 untuk diberikan pilihan demokratis apakah mereka ingin tetap berada di Indonesia atau tidak.
Habibie adalah insinyur.
Dia berpikir dengan kalkulasi.
Dan kalkulasinya sangat jelas:
Indonesia menghabiskan dana militer yang sangat besar untuk mempertahankan wilayah yang tidak diakui PBB, yang terus-menerus menjadi sumber konflik berdarah, yang terus mencoreng nama Indonesia di mata internasional dan hasilnya tetap tidak ada perdamaian selama 23 tahun.
Dua — konteks reformasi dan demokratisasi.
Pilihan ini sejalan dengan program demokratisasi umum Habibie setelah era Presiden Soeharto.
Habibie naik ke kursi presiden di tengah tsunami reformasi.
Memberikan suara kepada rakyat Timor Timur adalah konsisten dengan semangat memberikan suara kepada seluruh rakyat Indonesia.
Tiga — tekanan internasional yang sudah tidak bisa dibendung.
Habibie meminta Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada 27 Januari 1999 agar PBB menyelenggarakan referendum di mana Timor Timur akan diberi pilihan antara otonomi yang lebih besar di dalam Indonesia atau kemerdekaan.
Amerika Serikat, Inggris, Australia semua sudah bergerak ke arah yang sama.
Habibie memilih untuk memimpin proses itu daripada terus melawan arus yang sudah jelas arahnya.
Dan ini yang paling mengejutkan hasilnya:
Referendum digelar 30 Agustus 1999 di bawah pengawasan UNAMET, diikuti 451.792 penduduk Timor Timur.
Hasilnya: 78,5% menolak otonomi khusus yang ditawarkan Indonesia.
Hampir delapan dari sepuluh orang Timor Timur memilih pisah dari Indonesia.
Bukan hasil yang tipis.
Bukan hasil yang bisa diperdebatkan.
Sangat telak.
Dan itu menjawab pertanyaan yang selama 23 tahun tidak pernah dijawab secara demokratis:
mayoritas rakyat Timor Timur memang tidak mau bersama Indonesia.
Dan ini yang paling pahit untuk Habibie konsekuensi politisnya:
Laporan pertanggungjawaban Habibie sebagai presiden ditolak di sidang MPR. Satu-satunya faktor adalah lepasnya Timor Timur dari Indonesia.
Tidak ada ruang dan kesempatan baginya untuk mencalonkan diri jadi presiden lagi.
Habibie berbesar hati dan menyadari kegagalannya.
Dia tidak ngotot.
Tidak berkelit.
Tidak mencari kambing hitam.
Dia mengakui konsekuensinya dan mundur dengan bermartabat.
Dan ini yang paling bijaksana dari seluruh cerita ini:
Habibie tahu keputusannya akan menjatuhkan karirnya. Dia tahu dia akan dihujat.
Dia tahu MPR akan menolak laporannya.
Tapi dia juga tahu bahwa mempertahankan Timor Timur dengan paksa tanpa legitimasi PBB, tanpa dukungan internasional, dengan korban jiwa yang terus bertambah dalah pilihan yang jauh lebih mahal bagi Indonesia dalam jangka panjang.
Mahal secara ekonomi.
Mahal secara diplomatik.
Mahal secara moral.
Dia memilih kepentingan bangsa jangka panjang di atas kepentingan politiknya sendiri jangka pendek.
Dan itu di era politisi yang berlomba-lomba mempertahankan kekuasaan dengan segala cara adalah sesuatu yang sangat langka.
Tokoh Katolik Franz Magnis Suseno mencatatnya sebagai sebuah keberanian:
setelah lebih dari 20 tahun diduduki, Habibie berani menawarkan kepada rakyat Timor Timur untuk menyatakan pendapat mereka dan Indonesia merelakan mereka mencapai kemerdekaan.
Habibie melepas Timor Timur bukan karena lemah. Bukan karena tidak cinta Indonesia.
Tapi karena dia cukup jujur untuk mengakui bahwa mempertahankan sesuatu yang tidak diakui dunia dengan biaya darah dan uang yang terus mengalir tanpa hasil bukan patriotisme.
Itu keangkuhan.
Dan dia cukup berani untuk menanggung sendiri konsekuensi dari keputusan yang benar itu kehilangan kursi presiden, kehilangan kesempatan mencalonkan diri lagi, dihujat oleh sebagian besar elite politik.
Pemimpin yang baik tidak selalu membuat keputusan yang populer.
Tapi pemimpin yang besar membuat keputusan yang benar bahkan ketika itu menghancurkan karir politiknya sendiri.
Habibie adalah contoh langka dari yang kedua.
Guys, lu pada tahu nggak kenapa Habibie mencopot Prabowo dari Pangkostrat?
Dan yang lebih penting lu pada tahu nggak bahwa pencopotan itu terjadi dalam kurang dari satu hari setelah Habibie menerima laporan?
Ini bukan gosip.
Ini diceritakan sendiri oleh Habibie
dalam wawancara yang direkam tahun 2006.
Ini konteksnya dulu:
Mei 1998. Soeharto baru saja mundur.
Habibie dilantik sebagai presiden.
Indonesia dalam kondisi paling kacau sejak 1965 demonstrasi massal, kerusuhan, ekonomi hancur, dan kepercayaan publik terhadap negara di titik nol.
Habibie baru duduk di kursi presiden.
Belum hafal protokolnya.
Dia sendiri cerita waktu mau duduk di kursi kerja presiden, dia bingung mau duduk di mana karena tidak tahu posisi duduk yang benar sebagai presiden.
Sampai protokol yang kasih tahu.
Di tengah situasi sekacau itu Wiranto datang menemui Habibie dengan laporan yang sangat serius.
Ini isi laporan Wiranto:
Ada gerakan pasukan Kostrat yang bergerak menuju dua titik: Istana dan kawasan Kuningan tempat rumah Habibie berada.
Pangkostrat saat itu: Prabowo Subianto.
Wiranto juga menyampaikan satu hal lagi yang sangat penting: dia memegang Kepres yang memberikan kewenangan bertindak mengamankan situasi kalau keadaan membutuhkan "seperti Supersemar."
Bayangkan momen itu.
Presiden baru yang baru beberapa hari menjabat. Pasukannya sendiri bergerak tanpa perintah.
Dan Pangab datang dengan Kepres yang bisa memberinya kewenangan mirip Supersemar.
Habibie mendengar semua itu.
Diam sebentar.
Lalu menyimpulkan satu hal tentang Wiranto:
"Saya terkesan orang ini jujur."
Dan ini keputusan Habibie:
Tidak ada rapat panjang.
Tidak ada sidang kabinet darurat.
Tidak ada negosiasi.
Habibie memberikan petunjuk langsung kepada Wiranto:
"Sebelum matahari terbenam Pangkostrat diganti.
Dan kepada penggantinya ditugaskan untuk segera mengembalikan semua pasukan Kostrat ke tempatnya masing-masing."
Satu kalimat perintah.
Satu hari. Selesai.
Prabowo dicopot dari Pangkostrat sebelum hari itu habis.
Dan ini pertemuan yang paling mengejutkan setelahnya:
Prabowo tidak terima.
Dia datang langsung ke ruang kerja presiden menemui Habibie.
Habibie sebenarnya bisa menolak.
Tidak ada kewajiban protokol untuk menerima perwira yang baru dicopot tanpa permintaan formal.
Tapi Habibie menerima karena dua alasan pribadi:
Satu — ayah kandung Prabowo adalah Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang sejak Habibie SMA sudah jadi idolanya. Keluarga yang sangat dihormatinya secara intelektual.
Dua — Habibie menduga mungkin ada titipan pesan dari ayah mertua Prabowo yaitu Soeharto yang saat itu sudah tidak bisa ditemui langsung.
Tapi yang terjadi di ruangan itu sama sekali tidak seperti yang Habibie perkirakan.
Prabowo menurut cerita Habibie sendiri langsung berkata:
"Anda ini presiden apa? Naif."
Dan ini jawaban Habibie yang menurut gue paling berkarakter dalam seluruh cerita ini:
Tidak marah.
Tidak tersinggung.
Tidak balas dengan ancaman atau kemarahan.
Habibie menjawab santai:
"Masa bodoh.
Yang penting saya presidennya.
Saya yang menentukan finish."
Lalu Habibie menambahkan refleksi yang sangat jujur: banyak orang memandangnya sebelah mata "Habibie kan tukang, bisa buat kapal terbang, mejanya penuh teknologi, tidak ngerti yang lain."
Tapi bagi Habibie justru itu keuntungan.
Karena dia tidak merasa terhina oleh kata-kata itu.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Habibie adalah presiden yang legitimasinya paling dipertanyakan dalam sejarah Indonesia.
Naik bukan karena dipilih rakyat.
Naik karena Soeharto mundur.
Banyak yang meremehkannya.
Banyak yang menganggapnya tidak punya otoritas nyata.
Banyak yang berpikir dia hanya boneka transisi yang bisa dikendalikan.
Tapi dalam momen paling krusial itu ketika pasukan bergerak tanpa perintah menuju Istana dan rumahnya sendiri Habibie tidak panik.
Tidak ragu.
Tidak menunggu situasi makin memburuk.
Dia memberi satu perintah.
Sebelum matahari terbenam.
Dan ketika perwira yang dicopot itu datang menyebutnya naif di mukanya langsung dia menjawab dengan ketenangan orang yang tahu persis di mana otoritasnya berdiri.
Yang penting saya presidennya.
Saya menentukan finish.
Habibie mencopot Prabowo
bukan karena dendam pribadi.
Bukan karena politik.
Tapi karena ada gerakan pasukan yang tidak sesuai struktur komando bergerak menuju Istana dan rumah presiden tanpa perintah resmi.
Dan dalam sistem militer manapun di dunia itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan.
Tidak peduli siapa yang memimpin gerakan itu.
Tidak peduli seberapa dekat hubungan personalnya dengan presiden.
Habibie mungkin dianggap naif oleh banyak orang.
Tapi orang yang dianggap naif itu dalam satu hari mengambil keputusan militer yang mungkin menyelamatkan Indonesia dari skenario yang jauh lebih buruk dari yang benar-benar terjadi.
Dan 27 tahun kemudian perwira yang dicopot itu menjadi presiden.
Sementara yang mencopot sudah lama berpulang dan dikenang sebagai salah satu tokoh paling bersih dalam sejarah republik ini.
Sejarah punya cara tersendiri untuk menjawab siapa yang naif dan siapa yang tidak.
Anakku bangun 4x semalam.
Selama 8 bulan dulu
Kita coba semuanya.
White noise machine. Rp 500 ribu.
Bedtime routine ketat. 7 malam, mandi, baca buku.
Minyak telon. Pijat bayi. Doa.
Gak ada yang works. Sampai aku cerita ke dokter anak.
Dia tanya satu pertanyaan:
"Kamar tidurnya pakai lampu apa?"