Mari tetap menghormati identitas lain yg selaras kacamata dan konklusi-keyakinannya. Tapi mari mengakui kecacatan identitas yg tdk selaras kacamata dan konklusi-keyakinannya.
Bagaimana Islam dan Alquran menyentuh luka manusia:
Kerasnya Umar RA, dibentuknya menjadi ketegasan. Keterasingannya, bekal kuat menjadi kebijaksanaan.
Salah satu hal yang sangat gua syukuri selama 5 tahun di mesir adalah : terbiasa jalan kaki.
K rmh temen/kampus/kumpul project/ngaji kitab/pasar/rumah makan
“Semuanya harus jalan kaki + transportasi umum”
Output produktivitas dalam sehari emg ga banyak, tapi lebih sehat
Andai ada ruang kearifan dan kebijaksanaan ketika dibandingkannya produk2 hukum yang ada, betapa indahnya Islam melihat realita manusia, keseimbangan yang dijaga untuk memuliakan dan saling menjaga kemuliaan.
Andaikata, masyarakat berpendidikan di indo tau bagaimana kompleksnya dinamika tradisi keilmuan islam, akan takjub bahwa fatwa yg sering di-“diskreditkan” krn ada nuansa keagamaan, betapa luarbiasanya “peraturan” dan “keteraturan” dalam Islam.
Inspirasi kita dalam cerita bergantung dengan tokoh yg kita pilih.
Membaca/menonton ulang cerita jg bisa jdi jalan menemukan sosok baru dalam inspirasi.
Sejak sd, tanpa sadar sy memilih sudut pandang bu mus, bahkan sampai skrg.
Sy coba ulang utk menemukan sosok ikal, krn sy rasa butuh dgn inspirasinya
Tapi ada hal lain, yg memang ga bisa dipaksakan dr kecenderungan kita utk memilih, sisanya tinggal penyelarasan inspirasi jadi jalan keluar
Sebenernya kocak ga kocak sih perang iran ke israel, ketika dikaitin sama isu palestina.
Ya, kalo serangan iran ga pure tntg isu “keummatan”. Dan “ya” respon publik mayoritas justru bawa “israel” jadi common enemy, baik di isu palestina ataupun perang iran.
Sebagian publik bakal kecewa.
Palestina bukan lagi tendensi utama negara2.
Keterlibatan negara timteng yg lebih banyak ke perang
Kemungkinan pergeseran pemain perang, israel ini jg taik malah nyeret negara2 lain.
Dan kejahatan israel ke palestina ttp lanjut.
ngeliat gmn perang israel-iran, urusan "keamanan" emg jadi salah satu prioritas negara2 timteng. walhasil gua baru tau bnyk perkembangan teknologi militer dan kebijakan seputar "keamanan" negara2 terkait.
baru ngeh, indo bnyk bgt ketinggalanya.
Kenapa justru bnyk yg kehilangan konteks tntg suara utk memperjuangkan “keadilan” palestina?
Apa ga dipertimbangin, klo bentuk respon dalam meluruskan suatu hal jg punya konsekuensi?
Apa ga faham, bahwa seorang mahasisea jg punya tanggung jawab intelektual?
Jangan2 masisir itu belum bisa bedain mana “damai”, dan mana “santai”.
Kemudahan yg selama ini Azhar kasi utk belajar, jgn disamaratain dgn kondisi masyarakat mesir. Dan jgn sampe membuat bias nalar kritis utk bedain mana yg haq dan mana yg bathil.
“Ya” memang usaha Al-Azhar selama ini utk palestina malah jarang terekspos.
Tapi dmn prioritas tanggung jawab kita? Apa kita sdh matang dalam mempertimbangkan konsekuensi opini kita? Apakah kita sadar, bahwa apa yg kita pilih dn pikirkan akan dipertanyakan di yaumul mizan?