Calling all feminists and allies!
I’m conducting research on the “mirroring” phenomenon and its effect on the manosphere. If you’ve ever used reversal, parody, or challenge sexist rhetoric on X (Twitter) platform, please fill out this survey:
https://t.co/eWl0OhdSN2
Kenapa nggak ada di TV?
Ada temen gw yang kerja di Media, waktu upload konten tentang berita negatif dari salah satu instansi langsung kena teror, akhirnya menyebabkan Direkturnya males berurusan sama kawanan instansi tersebut.
Ada media yg terbungkam dengan alasan melindungi keluarga.
Intinya disini yang cacat adalah sistem kepemerintahan itu sendiri!
Kenapa ya laki-laki itu obsessed bgt nambah kata "cantik" ketika bahasannya soal ks..
Kenapa ga cukup aja dengan "bayi-bayi perempuan" gitu? Hal kayak gini jarang gasi ditemukan di tulisan penulis perempuan??
@kalembgtt Valid banget reaksi si bapak. Kenapa sih org di Indo anti banget sama pohon? Padahal selain memperbaiki kualitas udara, pohon juga bisa menurunkan suhu, terutama di perkotaan yg tanahnya udh ketutup sama aspal dan beton.
📍Bayangkan kamu lagi video call sama petugas pajak, lagi nerangin data SP2DK biar nggak kena masalah. Tiba-tiba mereka bilang: “Kami rekam semuanya, tapi kamu dilarang nge-record, simpan, atau sebar. Kalau nggak setuju, meeting-nya dibubarin.”
Selamat datang di era digital perpajakan 2026, di mana kamera hanya boleh menghadap satu arah.
Ini bukan plot film thriller, tapi isi Surat Edaran Direktur Jen-deral Pajak Nomor SE-8/PJ/2026 tentang Pedoman Pengawasan Kepatuhan Wajib Pajak (ditetapkan 15 Juli 2026).
Aturan ini secara tegas melarang wajib pajak, wakil, kuasa, atau pegawai merekam, menyimpan, menyebarluaskan, atau menyiarkan suara, gambar, video, maupun bentuk sejenisnya atas kegiatan penyampaian penjelasan dan/atau pembahasan SP2DK via video conference.
Sementara itu, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) justru wajib merekam seluruh proses. Sebelum meeting dimulai, Account Representative (AR) atau petugas DJP harus memberitahukan dua hal sekaligus: “Kami rekam, kalian dilarang.” Kalau wajib pajak tidak bersedia mematuhi, sesi video conference langsung dihentikan. Pelanggaran bisa dikenai sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Kamera hanya milik fiskus”, di satu sisi, DJP bilang ini demi keteraturan dan dokumentasi resmi. Di sisi lain, para pengamat (seperti Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute Prianto Budi Saptono) melihatnya sebagai ketimpangan posisi.
Wajib pajak sudah “dipanggil” dengan tekanan psikologis, lalu tidak boleh punya bukti sendiri. Kalau nanti ada sengketa soal isi pembahasan atau berita acara, yang punya rekaman resmi hanya pihak KPP.
Ibarat meeting kantor, bos rekam penuh, karyawan dilarang, lalu berita acara dibuat berdasarkan versi bos. “Trust me, bro” versi modern, tapi dalam urusan yang bisa berujung kewajiban pajak tambahan.
Aturan ini lahir di tengah target penerimaan pajak 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun. Realisasi semester I-2026 mencapai Rp1.035,7 triliun (43,9% target), dengan proyeksi akhir tahun sekitar Rp2.310,8 triliun (masih ada potensi shortfall).
SE-8/PJ/2026 sendiri adalah pedoman besar yang juga mengatur pengumpulan data (termasuk web scraping, remote sensing, hingga koordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas), pengawasan berbasis risiko, dan integrasi Coretax.
Era Coretax dan pengawasan berbasis data memang membuat DJP lebih “tahu segalanya”. Tapi transparansi seharusnya jalan dua arah. Aturan satu arah ini mungkin praktis dari sisi administrasi, tapi di mata publik bisa terasa seperti “kami boleh dokumentasi, kalian cukup percaya saja”.
Jadi, kalau suatu hari kamu dapat undangan video conference SP2DK, siapkan catatan tulis tangan yang rapi. Karena kamera resmi hanya milik satu pihak.
Ku rasa sangat amatlah kejam klo kita berpikir ada manusia yg ga punya ambisi dan cita-cita😔
Ambisi dan cita-cita ga harus soal karir tpi soal hobi gitu, masa hidupnya hanya soal menjadi istri/ibu, bagaimanapun dia manusia utuh ada hal2 yg harusnya jadi miliknya sendiri☹️
Translate liputan ttg pidato Londo Ireng yg ditulis oleh Londo-Ora-Ireng di De Volksrant (arti literal : yapping-nya masyarakat) yg koran besar di Belanda by Grok (Belanda ke Inggris) dgn sedikit polesan:
IS INDONESIA ON THE WAY TO BANCRUPTCY?
The Indonesian economy is threatening to collapse, but President Prabowo Subianto denies it in every possible tone. He calls critics “black Hollanders” (traitors) and for the time being does not appear to plan to stop his enormous, money-devouring projects.
A sample from the Indonesian newspaper headlines of recent times: governor of the central bank Perry Warjiyo steps down; the rupiah is still fluctuating around a historic low; the number of bananas is still more than thirty thousand kilos higher a year later.
But Indonesian President Prabowo Subianto denies that his country, the world’s fourth-largest economy by purchasing power, is heading for a crisis. He emphasises that growth is still a solid 5.6 percent.
In a speech last week he compared critics to londo ireng, Javanese for “black Dutchmen.” The term originally referred to Ghanaian mercenaries in the colonial army, but was later extended to Indonesians who sided with the Dutch during the war of independence.“They still exist, they are now journalists, analysts, NGOs,” according to Prabowo.
In a mocking tone: “They have been claiming for months that Indonesia is going to collapse. First it was going to happen in April, then in May, June, July… But nothing is happening!”
Catatan:
- ini sebagian liputan/berita. Bagian awalnya.
- pilih translate ke Inggris yg serumpun Belanda spy lebih sedikit kesalahan yg perlu dikoreksi.
Akhirnya Londo beneran merespon.
Baca berita ini, sesungguhnya jadi khawatir. Sekalipun dibuat judulnya tanda tanya; "Apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan?"
Sementara leadnya, "Perekonomian Indonesia terancam ambruk, tetapi Presiden Prabowo Subianto membantahnya dengan segala cara. Ia menyebut para pengkritiknya sebagai “Londo Ireng” (pengkhianat) dan, untuk saat ini, tampaknya tidak berniat menghentikan proyek-proyek raksasa yang menguras anggaran negara."
Harus kita ingat bahwa Soeharto tidak bodoh. Jahat, iya. Korup, iya. Bodoh? Tidak.
Tapi meskipun tidak bodoh, Soeharto dan para "teknokrat jenius" nya tetap saja gagal total.
Bayangkan jika kita dipimpin Soeharto lagi, tapi versi yang bodoh dan anti-sains. Robohlah negara ini.
Seburuk-buruknya 1997-1998, Indonesia masih berdiri dan tidak roboh seperti Yugoslavia. Setelah Soeharto digulingkan, Habibie dan para teknokratnya berhasil mengendalikan situasi. Ini hanya bisa terjadi karena teknokratnya masih ada dan tidak dibasmi suatu rezim fasis yang sombong, belagu, dan anti-sains.
I don’t mean to sound melodramatic but do y’all ever think about how humanity used to navigate the world by the stars and now people can’t make a grocery list without help from AI.
Inilah 1998 ya guys. Mereduksi independensi moneter jd sekadar instrumen legitimasi kekuasaan eksekutif. Hilang checks and balances fiskal-moneter ngorbani stabilitas harga untuk populis instan, tar pasti ada capital flight, dan hilang tuh kredibilitas makroekonomi nasional.
“We don’t need feminism”….I’ve worked at a company for almost 5 years making $12.50 an hour. A male friend of mine applied there recently. They had no idea we knew each other. During his interview, they offered him $16.50 an hour, even though he had zero experience. After that, I found out four other male employees who were hired in 2020 were also making $16.50. I asked a female coworker what she made before she left. She was making $12.50 too.
BUKU INI SERU BGT PLSS??????
Yg sering nanya "kok patriarki bisa sampe ada sih?" "Kapan mulainya sistem ini ya?" "Apa dari sononya begini ya?"
nah ini buku yg tepat!!!!
Kayak… ngerti gak sih, mereka berkorban demi rasa aman yang bahkan harusnya jadi HAK mereka sejak awal.
Dan setelah berkorban pun, ada yang tetep gak dapetin rasa aman itu.
Gila gak sih.
Gimana ya caranya menamai duka anak-anak yang … gak pernah neko-neko, gak kriminal, tapi ironisnya malah harus ke psikolog karena JUSTRU dia “anak yang baik”.
Mereka berusaha kasih semua karena percaya jadi anak baik akan membuat mereka aman, tapi ternyata enggak.