@sosmedkeras Lu digaji dari pajak rakyat, sdah tugas lu, kerja sdh difasiltasi negara, ngpain sentimen sm mahasiswa. Mahasiswa udah bayar UKT mahal msh punya niat bantu, jadi relawan. Catat jadi relawan!
Menguatirkan kembalinya Dwifungsi militer kurang tepat. Dwifungsi belum pergi ke mana-mana dari tanah air lebih dari setengah abad. Pernah mekar, sesekali menciut, tetapi belum pernah kabur.
#militerisme#dwifungsi#UUTNI
https://t.co/3TW91q7sPl
Beberapa waktu lalu saya ikut wawancara ujian masuk S3 di sebuah universitas (dalam negeri).
Pengalaman tsb membantu saya sadar kenapa gap antara akademik & industri di negara kita besar banget —mengkonfirmasi kritik perguruan tinggi yg kita dengar belakangan.
Ini ceritanya:
Ini Bukan Tentang Gaza (Saja)
Saat ini, dalam jeda kemanusiaan 4 hari (kabarnya akan diperpanjang), terjadi pertukaran tawanan. Dunia melihat betapa sandera Israel diurus dengan baik oleh para pejuang Palestina. Mereka yang terluka bahkan dibawa ke RS dan dirawat. (Mereka terluka bukan karena diserang pejuang Palestina ya. Orang2 Israel terluka, bahkan tewas, justru karena serangan serdadu Zionis sendiri; mereka mau menyerang pejuang Palestina, tp melakukannya membabi buta sehingga mengorbankan warga mereka sendiri.)
Sebaliknya, para tawanan Palestina, semua menceritakan betapa buruknya perlakuan serdadu Zionis kepada mereka. Sejak bertahun-tahun lalu, Amnesty International dan banyak lembaga kemanusiaan lain yang sudah melaporkan penyiksaan yang dialami oleh para tawanan Palestina.
Kata ‘ditahan’ tidak tepat untuk mereka, lebih tepat 'ditawan' atau 'diculik'. Karena faktanya, amat banyak dari mereka yang dipenjarakan semena-mena tanpa ada kesalahan; atau ditimpakan kesalahan yang dibuat-buat tanpa ada bukti. Kalaupun ada yang masuk ke pengadilan, yang mengadili juga rezim Zionis, mana bisa dipercaya: penjajah “mengadili” orang yang dijajahnya.
Selama masa jeda 4 hari ini, Israel memang tidak membombardir Gaza. Tapi mereka menggila di Tepi Barat. Tidak ada Hamas di Tepi Barat. Jadi, alasan “membasmi Hamas” tidak bisa dipakai Zionis. Per tanggal 28 Nov, ada 117 tawanan Palestina (orang Tepi Barat semua) yang dilepas oleh Zionis, tapi dalam periode yang sama mereka merangsek rumah-rumah di Tepi Barat, membunuhi warga dan menangkap 116 orang lagi! [Total warga Tepi Barat yang dibunuh Zionis 7 Okt-28 Nov: 239 orang]
Jadi, ini bukan tentang Gaza saja. Ini tentang Palestina. Wilayah yang “dijatah” untuk bangsa Palestina hanyalah Gaza dan Tepi Barat (sisanya dianggap milik Israel, secara sepihak oleh PBB dan mayoritas negara-negara dunia yang setuju dengan “two state solution”), padahal seluruh tanah Palestina adalah milik mereka. Tahun 1947, mereka diusir dari tanah mereka, yang sekarang menjadi “negara” Israel.
Tapi di wilayah yang tersisa inipun, orang Palestina tidak bisa hidup merdeka. Israel menginginkan semuanya: Gaza ingin mereka kosongkan (rencana mereka: warga Gaza ditampung Mesir, Turki, dan negara-negara lain). Demikian pula Tepi Barat.
Inilah rencana sejak awal Israel: menginginkan semuanya, dengan alasan yang dibuat-buat, main klaim ayat “tanah yang dijanjikan.” Israel bisa melakukan segala jenis kejahatan kemanusiaan, karena dipimpin oleh orang-orang haus darah, uang, dan kekuasaan.
Buktinya. Simak video ini.
Lalu siapa yang bisa membantu Palestina menghadapi penjahat-penjahat itu? PBB tidak berdaya. Harapannya tinggal di masyarakat sipil, di kita. Terus berjuang dengan apa yang bisa dilakukan, minimalnya, terus bersuara di media sosial dan lanjutkan boikot ekonomi.
#FreePalestineFromIsraeINOW
#IsraeliNewNazism
"Bertambah banyaknya jumlah sekolah, sama buruknya dengan bertambah banyaknya jumlah senjata."
Mengapa? Karena banyak sekolah didirikan untuk mencari uang dan menanamkan cara berpikir doktriner pro kemapanan, bukan untuk benar-benar mencerdaskan.
— Ivan Illich
Ada gejala yang tidak sehat pada beberapa ilmuwan sosial di Indonesia, yaitu kecenderungan menggunakan analisis semiotik secara tidak proporsional. Pada akhirnya menuntun ilmu sosial lebih banyak berbicara hal-hal superfisial dan mungkin juga trivial.
https://t.co/ftThLuL5Qh
Menyambangi hutan kalimantan tengah, menyusuri sungai, serta mengobrol dengan para pemangku adat Dayak. Kerja-kerja lapangan antropologi ya beginilah 😎