SELAMAT DATANG "1984" |
Segala hal yg disampaikan Menkomdigi โข @meutya_hafid ini, adalah narasi resmi yg memang "manis" & tampak sempurna dipajang di etalase kekuasaan.
Tapi, setidaknya ada 5 pertanyaan yg sampai saat ini, sy tak yakin akan dijawab oleh pihak terkait ;
1. Siapa pengelola data wajah ?
2. Apakah dipakai lintas lembaga ?
3. Jika bocor, siapa yg tanggung jawab ?
4. Berapa lama data tsb disimpan ?
5. Apakah kebijakan tsb bisa ditolak rakyat, tanpa kehilangan hak komunikasi ?
Misalnya, ini misalnya ya ๐
Kalau toh pihak Kemkomdigi memberi jawaban tp jawabannya kabur, maka dapat dipastikan ini bukan kebijakan keamanan data, melainkan ;
EKSPERIMEN KEKUASAAN, ARSITEKTUR PENGAWASAN, & KONTROL POPULASI DIGITAL.
Perlu diingat, bhw validasi wajah, bukan soal administrasi biasa, tp loncatan kualitatif.
Bro !!
Krn yg "dikunci";
bukan nomor loe, tp tubuh loe.
bukan identitas legal loe, tp identitas biologis loe,
data statis, tp biometrik tak bisa loe ganti.
Wajah, lokasi, waktu, komunikasi, jejaring sosial, hingga pola perilaku ada "di layar mata kekuasaan".
NOMOR BOCOR BISA GANTI KARTU, KALAU WAJAH BOCOR ?!
(Ganti wajah Joko "Jastip - Whoosh" Widodo ?) ๐
___________
Sejarah selalu konsisten, bhw;
kekuasaan tak takut pd orang yg bersenjata, kekuasaan justru paling takut pada orang yg tak bernama, tp bernalar.
Anonimitas itu ruang aman berpikir, setidaknya menurut sy, sedangkan biometrik adalah akhir anonimitas.
Jadi, registrasi SIM card dgn validasi wajah bukan solusi kejahatan, tp solusi kekuasaan thd rakyat yg suaranya "fals".
Sekali lagi,
SELAMAT DATANG "1984"
Sugeng rawuh
distopia permanen !!!
.
.
Damn !!!!
Gagal membedakan spons dgn es kue adalah kegagalan paling elementer dlm membaca realitas.
Maka, mudah dipahami jika sering salah tangkap, "main gebuk" dan/ atau kekerasan kerap jadi jalan pintas, krn nalar lebih dulu tumbang, sebelum empati sempat bekerja.
AKHIRNYA MENGEMIS MAAF.
Tapi, maaf selalu datang belakangan, setelah martabat rakyat kecil dipermalukan.
Inilah kalau anak lulusan SMA mengenakan seragam & dipersenjatai, cenderung :
AROGAN,
BUTA HURUF KONTEKS,
TAJAM DI PENTUNGAN.
.
.
Krn itu wajar jika ada tuntutan, sebaiknya aparat minimal berpendidikan S1.
Bukan karena strata pendidikan menjamin kebijaksanaan, melainkan krn literasi dasar, logika elementer, & kemampuan memisahkan fakta dari asumsi, tak menjadi kemewahan, melainkan ;
SYARAT MINIMUM KEKUASAAN.
Sebab, ketika kekuasaan dan/ atau kewenangan berada di tangan orang yg asing dgn buku, fakir literasi, tumpul logika, retak nalar, & rapuh empati, yg berbahaya bukan soal salah prosedur, melainkan arogansi & banalitas kekerasan yg merasa dirinya benar.
.
.
BUPATI BANDIT INI TERLALU "LICIN" |
Sepanjang ybs belum dijebloskan ke rutan, celah yg lebih kecil dari lubang jarum pun, bisa jadi jalan utk meloloskan diri.
TERLEBIH,
dari informasi yg beredar di kalangan wartawan, pemeriksaan dilakukan di ruangan Kapolres Kudus yg berada di lantai dua, sebuah detail yg wajar memantik lebih banyak tanya daripada jawaban.
.
.
| @KPK_RI
https://t.co/nd02RgZz10
Mazmur 34 : 19 (TB) |
"Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya"
_________________
Ayat ini tidak menjanjikan hidup tanpa luka, justru mengakui luka itu ada.
Yang dijanjikan adalah kedekatan:
Ia tidak berdiri di podium kekuasaan, melainkan turun ke reruntuhan batin manusia.
Pada "titik gravitasi" ini, ketika bahasa runtuh & logika tak menolong, di sanalah kehadiran-Nya disebut dlm rentang jarak terdekat.
______________________
Saya tdk sedang menafsirkan ayat itu,
sy hanya berselancar di permukaannya.
Membiarkan luka turun
sbg ombak & hujan,
lalu diam,
spt tumpukan batang pohon
yg melanda ruang hidup,
di tengah bencana ekologis
yg lahir dari rahim kebijakan negara.
Tragis,
namun dianggap sah
secara administratif.
.
.
"Negara besar", tanpa keberanian bersikap, akhirnya hanya jadi ;
"PENONTON SOPAN"
di pinggir arena "koboi global".
___________
Negara besar tak selalu kalah di medan perang, tak sedikit yg kalah di meja utang.
Kebesarannya disandera oleh utang luar negeri yg diwariskan lintas rezim & lintas generasi.
___________
Tapi, ini bukan tentang Indonesia.
Ini tentang negara mana pun,
yg kedaulatannya berbunga,
'dignity - nya sdh jatuh tempo,
nyalinya mengecil krn cicilan.
.
.
๐โ๏ธ๐ฌ
| @Menlu_RI
Untuk jadi anggota DPR harus pakai SKCK, mantan napi korupsi msh bisa nyalon, harusnya kan tdk bisa dapat SKCK krn pernah melakukan tindakan kriminal yaitu maling duit rakyat tp knp bisa dpt SKCK jg?
"MIGRAIN ETIK" โข MENTERI PERLINDUNGAN PEKERJA MIGRAN RI | @kemenp2mi
Sekuler : menjaga etika.
Religius : menjaga citra.
_________
Di Indonesia, surplus jargon iman, taqwa, doa dan ayat - ayat Tuhan, hingga sloganยฒ religius bertebaran di jalanยฒ kota, tapi rasa malu diprivatisasi, lalu menjadikan klarifikasi sbg ;
IBADAH HARIAN PEJABAT.
.
.
Di negeri ini, dosa rakyat kecil dihukum, dosa pejabat diklarifikasi.
Di republik ini, seorang bangsat tetaplah mulia, asal bermantel pejabat.
Karena pejabat adalah status yg menyucikan bangsat, tanpa perlu tobat.
.
.
#FufufafaAibNasional
Di republik ini, banyak menteri/ pejabat negara, hingga elit politik yang baik, tapi baru terlihat baik, ketika tertangkap basah.
Mereka piawai mencuri dengan santun, klarifikasi dengan penuh etika, sedemikian menghipnotis, hingga publik percaya.
Tentunya, yang mudah percaya, publik dgn "spek Fufufafa".
Ternyata, yg membuat negara rugi, bukan korupsi, tapi netizen yg kepo dan terlalu melek.
____________
MAMAN DAN FADLI, SAMI MAWON.
.
.
๐
#Cenasuwok
Hallo @KPK_RI itu tersangka korupsi kenapa diperbolehkan pakai masker saat dipamerkan kepada publik - jurnalis. Ayo buat larangan pakai masker biar publik lihat muka perampok uang rakyat
Bung @fadlizon yang baik,
Mungkin karena tubuh - tubuh perempuan etnis tertentu itu, tak sewarna dgn darahmu, sehingga empati tak perlu kau kenal ?!!
PADAHAL, SEJARAH MENYIMPAN DENDAM LEBIH LAMA DARIPADA MANUSIA.
_________
Apakah harus darah dagingmu yg diperkosa, agar kau memahami bahwa luka dan noda sejarah itu nyata ?
.
.
DAMN !!!