Reading so many books but your review writing skills still staying bum so you can’t rlly articulate your thoughts on the book properly is just so humbling
kalo kata temenku, aku keliatan susah dideketin karna observant and a bit intimidating, jadi orang takut duluan buat approach. but actually aku tuh termasuk orang yg easy to approach. once someone gets into my life, i can be very attentive, thoughtful, and emotionally aware
@malteezes Asliii kegantengan nambah cowo cowo berpikiran terbuka, bisa memperbaiki diri, pengendalian emosi cakep dan nyantuy (buktinya gk nelen kata kata jelek org malah diolah jadi perbaikan)
this is another good example, like why are you questioning on how people cope or feel their emotions😭 it's literally normal to feel all these things mentioned below
sebenernya gw gasuka sm yg terlalu glorify pak anies. politic is diabolical and also fluctuatif. eventho pak anies its also my biggest what if tho. tp kayaknya trll glorify juga gak baik. idk ya
sebel juga ama yang nanya tapi berbelit-belit, gw paham harus ceritain dlu misal latar belakang konteks nya gt mungkin dia bertanya tentang apa, TAPIIII bukannya kasi tau konteks ko lu malah melebar kemana-mana yang bikin pertanyaan itu sendiri jadi ABSTRAK, gak straight apa–
salah satu hal yang gue muak ketika persentasi kelas (kelas gw) ADALAH JARGON. astagaaaa gue muak bgt itu buang2 waktu dalam kondisi tertentu, jargon emang bagus untuk membangun semangat tapiii situational anjir jgn jadi standar presentasi harus ada jargon juga fakkkkkk
jujur kalo gw ketika mutusin jargon dalam suatu presentasi tuh merasa berat jujur karena ada responsibility terhadap kesesuaian jargon yg gw ucapin ke audiens sama kualitas penyampaian kelompok gue sendiri.