can i have one day of work where im not on the bleeding edge of 2026 technology. i mean it's fun to be in the boat, contributing on how human-ai second brain is a merging concept and building in that direction. but god... i'm just a kid living in kemanggisan jakbar kntl
tau gak kenapa banyak gen z yg terobsesi dg typing huruf kecil semua?
sEbAgAi gEn Z, saya mau jelaskan. ini ada alasannya.
fenomena ini terjadi bukan karena gen z gak tahu aturan, tapi karena mereka merasa penat dengan aturan. 😬
gen z tumbuh di dunia yg penuh dg tuntutan dan ekspektasi, maka mengetik dg lowercase dipilih sbg cara utk menyampaikan pesan: "gw gak tunduk sama aturan lama"
mereka ingin dunia tahu bahwa mereka bukan generasi yg kaku.
:: kenapa huruf kecil? ::
karena huruf kecil terdengar seperti bisikan, bukan teriakan.
karena huruf kecil menunjukkan sikap santai, tidak marah-marah.
karena huruf kecil memberi kesan jujur, intim, dan rendah hati.
karena huruf kecil itu estetik, sederhana, walaupun tidak sempurna.
itu semua adalah hal-hal yang ingin mereka tunjukkan, hal-hal yg merepresentasikan watak generasi mereka.
tapi sebetulnya, ini bukan hal baru.
tau bell hooks? dia penulis, dan memakai lowercase untuk menuliskan identitas di karyanya.
dia melakukan itu jauh sebelum fenomena typing huruf kecil ini marak oleh gen z, dan tujuannya hampir sama: sebagai bentuk penolakan terhadap ego & aturan lama.
sekarang pun, typing lowecase ini juga diadopsi banyak brand sebagai strategi branding agar terbaca lebih ramah dan inklusif, tidak kaku.
buatku pribadi, gaya ketik lowercase ini gak ada benar salahnya, sepanjang tidak dipakai di ranah formal yg mensyaratkan adanya standar penulisan.
ini hanyalah cara yg dipilih untuk berekspresi, khususnya di media sosial, dan lebih asik untuk dilihat sebagai cara berpikir sebuah generasi yang sedang bertumbuh di eranya —dengan segala masalah versi mereka.