Baru Cincha Laura Kiehl artis yg brani nyenggol kebijakan pemerintah yg morat-marit ky ranjang Teddy.
Dia tegas menyuarakan kesejahteraan & keadilan rakyat yg TIDAK merata sejak kepemimpinan badut gemoy
Artis lainnya masih aman dan tenang berlindung dibalik lagu ok gas.. ok gas...
Gue pernah coba jadi orang yang selalu available buat semua orang.
Chat dibales cepet. Dimintain tolong langsung bantu. Dicari pas lagi sedih, selalu nyempetin hadir.
Tapi suatu hari gue capek banget.
Gue milih diem dulu sebentar. Cuma pengen lihat, siapa yang bakal nyari gue.
Tweet ku semoga lewat ke orang-orang yang nonton konser F4. Aku mau ngabarin kalo di konser F4 kemarin ada orang yang H-3 sebelum konser kena campak, tapi tetep maksa pergi nonton konser. Siapapun yang nonton konser segera melakukan pemeriksaan atau karantina mandiri ya, apalagi—
Apakah kami bukan lagi bagian dari Indonesia sehingga 7 bulan bencana kami dicuekin, atau karena suara bapak hanya 24% waktu pilpres terus bapak tidak peduli
cc:threadedhiegayo
Nasib tragis menimpa satu keluarga di Solok Selatan, Sumbar (31/5/2026). Gara-gara berani melaporkan kasus pemerkosaan anaknya ke polres beberapa bulan lalu, rumah mereka malah dikepung 15 orang dan diserang secara brutal.
Di dalam rumah cuma ada ibu (ER), suami, dan bayinya yang masih berumur 2,5 tahun!
Mirisnya, pelaku pemerkosaan yang harusnya mendekam di penjara tapi gak ditangkap-tangkap polisi, malah ikutan datang mengepung dan menyerang korban!
Padahal keluarga korban baru aja berani pulang setelah berbulan-bulan kabur, murni cuma mau mengadakan acara akikah anaknya.
Pelaku pemerkosaan bebas berkeliaran dan malahan balik mempersekusi korbannya tanpa takut hukum.
Tolong pak Kapolri, atensi kasus di Solok Selatan ini!
Bantu sebarluaskan video/berita ini gaes agar pelaku cepat diciduk!
Gak mampu beli susu, adik nya cuma diberi air putih 💔
Ardi (14) harus mengubur masa mudanya demi jadi ayah dan ibu bagi kedua adiknya. Setiap hari ia memeras keringat jadi pencari rumput, tapi upahnya tak pernah cukup untuk belikan susu buat adik bungsunya yang baru 4 tahun.
Kalau rindu orang tua, Ardi cuma bisa ajak adik-adiknya menangis di kuburan.
Kisah ironis dan menyesakkan dada ini dialami oleh seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama Profesor Raldi Artono Koestoer.
Melihat tingginya angka kematian bayi prematur dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya sewa inkubator rumah sakit yang sangat mahal, ia menggunakan kecerdasannya untuk merakit inkubator bayi portabel berteknologi canggih namun sangat hemat listrik.
Hebatnya, ia sama sekali tidak mengomersialkan alat penopang kehidupan tersebut, melainkan meminjamkannya secara gratis kepada ribuan ibu miskin di berbagai pelosok daerah.
Namun bukannya diberi medali penghargaan atau dana bantuan riset oleh negara, gerakan mulia sang profesor justru mendapat tamparan keras dari sistem birokrasi.
Pada tahun 2016, pemerintah melalui kementerian terkait mendadak menegur dan mencoba menghentikan operasional peminjaman inkubator tersebut.
Alasannya sangat kaku, alat penyelamat nyawa itu dianggap melanggar aturan karena belum memiliki sertifikat izin edar dan Standar Nasional Indonesia layaknya produk alat medis komersial buatan pabrik raksasa.
Tuntutan untuk mengurus perizinan yang memakan biaya sangat mahal dan proses yang rumit tentu tidak masuk akal untuk sebuah proyek amal yang dijalankan secara swadaya.
Ironi menyedihkan ini sempat memancing kemarahan publik secara luas, memperlihatkan bukti nyata bagaimana sebuah inovasi jenius anak bangsa yang murni bergerak untuk misi kemanusiaan justru nyaris dicekik mati oleh aturan kertas di negerinya sendiri.
Ibunya Meninggal Di BunBun Orang Tak Dikenal.
Ayahnya Kabur, Remaja Ini Perlihatkan Foto Kelulusannya,
Dan Perjuangan Neneknya:
Dibalik Foto Ini, Ada Nenek Yang Rela Bekerja Apa Aja Demi Menghidupi dan Menyekolahkan Diriku. Ungkap nya
Sukses terus adek, sehat sehat juga ya nenek 😇
Ibunya kanker, adiknya tuna wicara dan anak sekecil ini berjualan keliling kampung menjadi tulang punggung keluarga!
Sementara presidennya masih sibuk jalan-jalan ke luar negeri! 😥
Kemayoran, Jakarta Pusat, 2026.
Selepas hujan, trotoar basah berubah menjadi panggung ironi.
Seorang anak kecil duduk memeluk bayi, menyuapinya dengan botol susu.
Kantong plastik merah tergantung di lengannya, sementara suara kereta melintas bersamaan.
Dunia terus bergerak, tapi anak itu berhenti di pinggir jalan, menjual kesedihan yang bukan miliknya.
Di kampung, orang berbisik: “Kalau orang tua benar, anak tidak akan terlantar.” Tuduhan pun muncul: orang tua sengaja menempatkan anak di ruang publik untuk memancing simpati.
Rupiah dianggap lahir dari air mata.
Namun di balik tudingan itu, ada kenyataan pahit: kemiskinan sering memaksa keluarga menjadikan anak sebagai wajah penderitaan.
Ironi itu jelas, Anak menjadi korban, bukan pelaku.
Orang tua bersalah, tapi juga terjepit oleh kemiskinan.
Negara abai memberi perlindungan, Masyarakat ikut bersalah, karena hanya menonton atau memberi receh tanpa solusi.
Anak yang seharusnya bermain, kini menjadi “orang tua kecil.”
Bayi yang seharusnya tidur di rumah, malah menangis di jalan.
Dan kita semua orang tua, negara, masyarakat, dunia terlibat dalam membiarkan kesedihan itu dijual.
Apakah ada yang lebih menyakitkan daripada negeri yang mengaku kaya, tapi membiarkan anak-anaknya tumbuh di trotoar basah selepas hujan?
Aksi siswi sekolah ini bikin nyesek, dia gak malu utk membantu ayahnya yang tukang cat menyelesaikan pekerjaannya 😔
Membantu pekerjaan orang tua tak ubahnya membantu ekonomi keluarga disaat pemerintah tak bisa sejahterakan rakyatnya.
Lihatlah lebih lama, lalu tanyakan pada nurani kalian sendiri: ketika hutan diratakan dan penghuninya kehilangan rumahnya, siapa sebenarnya yang sedang dibinasakan? Alam tidak butuh manusia untuk hidup. Manusialah yang tak bisa hidup tanpa alam.
.
repost vt. Anton Rudiyanto
Namanya Arif (36 tahun), seorang pemuda disabilitas pemulung kardus asal Bekasi Utara
Luar Biasa Keren
ia berhasil sadarkan banyak orang bahwa BerQurban itu soal Niat bukan harus tunggu kaya