Publik lebih sering mengenal anak-anak Soekarno yang masuk politik.
Padahal ada Kartika Sari Dewi Soekarno.
Putri Soekarno dan Dewi Soekarno ini memilih hidup jauh dari kekuasaan. Kisahnya jarang tersorot.
Prabowo bilang “saking pintarnya jadi goblok.”
Ucapan itu ditujukan kepada pakar yang mengkritik pemerintah.
Kritik terhadap pakar sah. Tapi kalau kepakaran dijadikan bahan olok-olok karena kesimpulannya tak sejalan dengan pemerintah, tendensi anti-sains mulai terlihat.
Jawabannya belum tentu strategi.
Bisa saja memang ingin mengedukasi.
Tapi di media sosial, pengalaman lama bisa menjadi modal perhatian baru. Dan Salsa tampaknya tahu satu hal: publik belum lupa.
Bu Guru Salsa sengaja memancing ingatan netizen?
Kontennya soal bahaya pornografi justru membuat publik kembali mengingat video lama yang pernah membuat namanya viral.
Kebetulan atau strategi?
Bu Guru Salsa kembali viral. Kali ini ia bicara soal bahaya pornografi.
Tapi respons netizen justru kembali ke video lama yang pernah membuat namanya viral.
Ini soal asosiasi. Tema yang sama bisa memicu ingatan yang sudah kuat melekat pada seseorang.
Kini Salsa kembali bicara soal pornografi.
Ia tak perlu menyebut video lama. Netizen sendiri yang menghubungkannya.
Kalau memang ingin membangun citra baru, kenapa memilih tema yang paling mudah membuka kembali ingatan publik?
Bagi Sartre, mengganggu otoritas bukan berarti asal menentang.
Tugas intelektual adalah memaksa kekuasaan menjelaskan dirinya sendiri.
Sebab kekuasaan tidak membutuhkan intelektual yang membuatnya nyaman. Ia membutuhkan kritik yang membuatnya terus bisa diuji.
Prabowo menyebut pakar “saking pintarnya jadi goblok”.
Sartre justru mengatakan: “The role of the intellectual is to disturb authority.”
Dua kalimat ini bertemu pada satu persoalan: bagaimana kekuasaan seharusnya menghadapi orang yang mengkritiknya.
Prabowo bilang “saking pintarnya jadi goblok.”
Ucapan itu ditujukan kepada pakar yang mengkritik pemerintah.
Kritik terhadap pakar sah. Tapi kalau kepakaran dijadikan bahan olok-olok karena kesimpulannya tak sejalan dengan pemerintah, tendensi anti-sains mulai terlihat.
Pakar tentu bisa salah. Pemerintah juga bisa salah.
Kalau argumennya keliru, bantah dengan data. Kalau metodenya bermasalah, bongkar metodenya.
Dengan menyebut pakar “goblok” tidak menjawab argumennya. Itu hanya memindahkan perdebatan dari gagasan ke orangnya.
Ini yang berbahaya.
Kebijakan publik butuh pengetahuan yang bisa diuji. Jika pakar kehilangan wibawa karena berbeda dengan kekuasaan, ruang koreksi ikut menyempit.
Dalam sains, yang menentukan bukan kekuasaan. Bukti.
Prabowo bilang “saking pintarnya jadi goblok.”
Ucapan itu ditujukan kepada pakar yang mengkritik pemerintah.
Kritik terhadap pakar sah. Tapi kalau kepakaran dijadikan bahan olok-olok karena kesimpulannya tak sejalan dengan pemerintah, tendensi anti-sains mulai terlihat.
Kalau argumennya salah, bantah datanya.
Kalau metodenya keliru, bongkar metodenya.
Laku menyerang kepakaran karena kritiknya tak disukai membuat perdebatan bergeser dari ilmu ke politik.
Dulu Moreno Soeprapto dikenal sebagai pembalap dan pernah menjadi kekasih Dian Sastro.
Kini ia anggota DPR dari Gerindra. Namanya kembali viral. Bukan karena balapan atau kisah asmara. Kali ini gara-gara menjulurkan lidah saat rapat DPR.
Dulu Moreno Soeprapto dikenal sebagai pembalap dan pernah menjadi kekasih Dian Sastro.
Kini ia anggota DPR dari Gerindra. Namanya kembali viral. Bukan karena balapan atau kisah asmara. Kali ini gara-gara menjulurkan lidah saat rapat DPR.
Pendojohan Anies-Purbaya untuk 2029 ramai setelah Purbaya dicopot dari kursi Menkeu. Wacana ini muncul karena keduanya dianggap mewakili corak intelektual-teknokratis, jadi alternatif di tengah menjamurnya negarawan karbitan cum politikus proyekan, dan impotensi alternatif kiri.
Pertanyaannya bukan apakah pesan Salsa benar.
Yang menarik adalah bagaimana pesan itu bekerja.
Sebab ketika Salsa bicara pornografi, publik ternyata belum benar-benar lupa cerita lamanya.
Bu Guru Salsa kembali viral. Kali ini ia bicara soal bahaya pornografi.
Tapi respons netizen justru kembali ke video lama yang pernah membuat namanya viral.
Ini soal asosiasi. Tema yang sama bisa memicu ingatan yang sudah kuat melekat pada seseorang.
Kritik terhadap Maudy Ayunda terus berdatangan. Salah satunya datang dari sesama penerima LPDP, Meilanie Buitenzorgy.
Dia mengkritik cara Maudy membahas bad news yang just sedang dihadapi masyarakat.
Di media sosial, citra lama tak selalu harus dilawan.
Cukup gunakan tema yang membuat publik mengingatnya. Publik akan menghubungkan sendiri.
Kalau memang itu strategi komunikasi, caranya cukup halus: kontroversi lama menjadi pintu masuk untuk membangun citra baru.