Having two social media accounts made me realize something brutal:
The problem isn’t the algorithm. The problem is how addicted people are to consuming trash.
INFO SERANGGA
Anak kecil, terutama laki, yang suka main di kebon atau bal-balan di lapangan berumput di desa umumnya pernah kecokot tengu di area pringsilannya. Penyebab rasa panas dan gatal yang luar biasa di pringsilan itu sebenarnya bukan karena "tengu sedang berjalan-jalan" di atas kulit, melainkan karena kena air liur tengu yang nyokot pringsilan. Kombinasi cokotan dan iler tengu membuat Tubuh kita menganggap ada benda asing menyerang, sehingga muncul reaksi gatal dan panas/perih yang sangat hebat sebagai bentuk pertahanan diri.
Jaman aku masih cilik, pringsilannya bocah yang kena tengu biasanya diobati dengan lengo klentik. Ini adalah resep turun-temurun yang ampuh untuk menghilangkan tengu.
Aku dulu tu ga tau gimana cara kerja lengo klentik kok bisa ngilangin tengu yang nemplek di pringsilann tersebut.
Baru tahun ini aku tau sebabnya. Tengu bernapas melalui pori-pori kulit. Ketika diolesi lengo klentik (minyak dari kelapa) yang agak kental itu, tengu akan kesulitan bernapas (tercekik) sehingga akan mati atau terlepas dengan sendirinya dari kulit. Jadi sebenarnya kejam juga kalo pake klentik karena minyak itu membunuh tengu pelan-pelan. Pasti si tengu menderita sebelum modyar.
Selain itu lengo klentik memiliki sifat alami yang dapat mendinginkan dan melembutkan kulit. Hal ini membantu meredakan rasa perih dan gatal luar biasa akibat gigitan tengu.
Karena terbuat dari bahan alami, lengo klentik cenderung jauh lebih aman jika terkena area kulit yang tipis atau sensitif (seperti di area pringsilanmu yang kisut itu), dibandingkan menggunakan balsem yang rasa panasnya dan bisa sangat menyengat.
Foto: kewan tengu dilihat pakai mikroskop, diedit biar cute (aslinya warna agak merah).
Guys, Prof. Feri Latuhihin ekonom yang sudah setahun lalu memprediksi dolar akan tembus Rp17.000 ketika belum ada yang percaya baru bicara lagi. Dan kali ini lebih keras, lebih konkret, dan lebih mengerikan dari sebelumnya.
Gue mau rangkum dan kritisi semuanya termasuk pertanyaan yang menurut gue paling penting:
para ekonom sudah kasih saran, tapi apakah pemimpinnya mau dengar?
Atau yang kasih saran justru akan disebut antek antek asing?
Prediksi yang sudah terbukti dan peringatan baru yang lebih keras:
Setahun lalu Feri bilang dolar akan tembus Rp17.000. Banyak yang tidak percaya.
Sekarang dolar sudah di Rp17.300.
Sekarang dia memperingatkan skenario yang jauh lebih buruk:
dolar bisa tembus Rp25.000 kalau kondisi fiskal tidak segera dibenahi.
Bukan angka yang dia lempar sembarangan.
Dia punya hitungan.
Soal angka pertumbuhan ekonomi dan ini yang paling mengejutkan:
Purbaya marah-marah ke World Bank karena World Bank bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7%. Purbaya klaim angkanya jauh lebih tinggi dari itu.
Feri bilang sesuatu yang sangat mengejutkan: "Saya bilang 4,7% sudah bagus.
Kalau menurut saya bisa 0%."
Kenapa?
Karena ketika Feri cross check angka pertumbuhan 5,11% versi BPS dengan indikator lain khususnya pertumbuhan kredit perbankan angkanya tidak cocok.
Untuk mencapai pertumbuhan 5,11% kredit perbankan harusnya tumbuh minimal 11%. Kenyataannya: kredit tumbuh di bawah 8%.
Feri perkirakan pertumbuhan riilnya mungkin di sekitar 4% saja.
Dan Moody's serta Fitch sudah men-downgrade outlook ekonomi Indonesia dari stable menjadi negatif. Artinya lembaga rating internasional pun tidak percaya dengan angka yang pemerintah klaim.
Soal defisit APBN dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Feri memaparkan data yang sangat konkret:
Defisit APBN Januari: Rp35 triliun.Defisit Februari: Rp135 triliun.Defisit Maret: Rp240 triliun.
Kalau dianualisasi secara linear defisit sudah setara 3,72% dari GDP melampaui batas 3% yang menjadi patokan fiskal.
Dan di saat yang sama harga minyak dunia naik karena perang.
Subsidi BBM membengkak.
Inflasi berpotensi double digit.
Jatuh tempo utang tahun ini saja sekitar Rp888 triliun ditambah bunga Rp99 triliun.
Itulah mengapa Feri menduga dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot Purbaya kemungkinan memang tidak setuju dengan arah kebijakan bukan karena sabotase sembarangan, tapi karena mereka melihat angka-angka yang tidak memungkinkan untuk terus mempertahankan spending sebesar sekarang.
Soal MBG dan ini yang paling tegas:
Feri mengucapkan sesuatu yang menurut gue perlu didengar keras-keras oleh siapapun yang masih berargumen bahwa MBG adalah investasi:
"Mohon dikasih tahu kepada Pak Presiden bahwa kalau MBG itu dianggap investasi itu bohong besar."
Investasi yang sesungguhnya adalah infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan.
Atau investasi non-fisik yang menghasilkan produktivitas jangka panjang: pendidikan dan riset dan pengembangan.
Makan siang bukan investasi.
Makan siang adalah konsumsi.
Dan konsumsi yang dibiayai utang itu bukan membangun masa depan. Itu memakan masa depan.
Feri menghitung bahwa untuk MBG yang benar-benar targeted ke yang membutuhkan cukup Rp10 triliun per tahun. Bukan Rp335 triliun.
Dan sisa Rp325 triliun itu seharusnya bisa jadi buffer fiskal atau dialokasikan ke investasi yang benar-benar menghasilkan produktivitas jangka panjang.
Soal class menengah yang semakin tergerus:
Dari 57 juta kelas menengah di 2019 sekarang tinggal 47 juta. Turun 10 juta orang dalam kurang dari 10 tahun.
Dan tabungan rata-rata kelas menengah yang dulu Rp3 juta per orang sekarang sudah mendekati nol. Mereka tidak lagi makan tabungan. Mereka sudah mulai makan hutang.
Dan Feri menyebut satu indikator yang sangat mengkhawatirkan: omset pegadaian sedang melonjak luar biasa. Ketika orang menggadaikan barang untuk kebutuhan sehari-hari — itu bukan tanda ekonomi yang baik-baik saja.
Soal BI yang tidak bisa berbuat apa-apa:
Feri menjelaskan dilema yang sangat real yang sedang dihadapi Bank Indonesia:
Kalau suku bunga dinaikkan untuk melawan inflasi dan menjaga rupiah ekonomi yang sudah lemah akan tambah terbebani. Kredit macet naik. Investasi turun lebih dalam.
Kalau suku bunga diturunkan rupiah makin melemah dan inflasi makin tidak terkendali.
"BI tidak bisa melakukan apa-apa.
Naikkin salah, nurunin salah."
Dan intervensi di pasar valas untuk menjaga rupiah cadangan devisa tidak tanpa batas.
Kalau outlook ekonominya memang buruk intervensi itu seperti menggarami lautan.
Soal komentar terhadap Purbaya dan ini yang paling kontroversial:
Feri mengucapkan sesuatu yang sangat bold:
bahwa menurut dia Purbaya tidak paham soal ekonomi.
Contoh yang dia berikan:
ketika perbankan mengalami undisbursed loan kredit yang sudah disetujui tapi belum dicairkan senilai Rp2.735 triliun, Purbaya justru mengucurkan tambahan dana dari BI sebesar Rp227 triliun.
Logika Feri:
kalau bank sudah kelebihan likuiditas yang tidak bisa disalurkan menambah likuiditas lagi adalah seperti menuangkan air ke ember yang sudah penuh.
Itu bukan solusi masalah kredit.
Itu memperburuk excess liquidity yang justru bisa memperlemah rupiah lebih jauh.
Gue tidak akan menghakimi apakah Feri 100% benar soal ini. T
api pertanyaan teknisnya valid dan layak dijawab secara publik oleh Kemenkeu.
Dan inilah pertanyaan yang paling fundamental:
Para ekonom Feri Latuhihin, Mahfud MD, Feri Amsari, berbagai pengamat lain sudah memberikan saran yang konkret, berbasis data, dan bisa diverifikasi.
Saran yang konsisten:
rasionalisasi MBG, ramping kabinet, perbaiki kepastian regulasi, prioritaskan investasi produktif, jaga fiskal dari defisit yang melebar.
Dan apa respons dari lingkaran pemerintah?
Orang yang kritik MBG disebut tidak nasionalis. Orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi disebut tidak mendukung presiden.
Dan siapapun yang mengutip data dari lembaga internasional seperti World Bank atau IMF bisa dengan mudah diberi label antek asing.
Dari nonblok menjadi goblok kata Feri mengutip kritik terhadap kebijakan luar negeri.
Dan label yang sama bisa dikenakan pada kebijakan ekonomi: dari mendengar para ahli menjadi memusuhi para ahli.
Indonesia punya banyak ekonom yang kompeten. Punya data yang bisa dibaca.
Punya pengalaman sejarah termasuk bagaimana Habibie menyelamatkan ekonomi di 1998 dengan tiga langkah berani yang gue sudah bahas sebelumnya.
Yang kurang bukan nasihatnya.
Yang kurang adalah keberanian untuk mendengar nasihat yang tidak menyenangkan dan keberanian untuk mengambil keputusan yang menyakitkan jangka pendek demi kepentingan rakyat jangka panjang.
Dan selama nasihat para ekonom direspons dengan label "antek asing" sementara rupiah terus melemah, defisit terus membesar, dan kelas menengah terus tergerus
Kita semua yang menanggung akibatnya.
Bukan para pejabatnya.
Bukannya fokus ke sumber masalah, menteri ini malah memulai perang gender
Kalo dipindah ke tengah karena kemudahan akses gue setuju, tapi bukan karena yang laki laki itu kebal musibah 😭
Seorang Sufi ditanya, kenapa selalu husnudzon pada seseorang? Padahal jelas orang itu tidak baik.
" Aku takut jika aku suudzon padanya, nanti malah benar2 jadi buruk bagi orang itu. Kalau aku husnudzon Insya Allah orang itu akan berubah jadi baik." Jawabnya.
Manual VS Digital
Menggambar dan menulis manual bukan sekadar cara lama, tapi fondasi cara kita berpikir. Cara kita berpikir tidak hanya terjadi di otak, tapi juga dipengaruhi oleh tubuh—terutama gerakan, sentuhan, dan interaksi fisik dengan dunia sekitar.
Di sisi lain, digital tetap penting untuk efisiensi & eksekusi yg presisi. Tapi tanpa fondasi manual, hasilnya sering terasa terlalu rapi tapi kurang “jiwa”. Keseimbangan keduanya adalah kunci.
Gua baru tahu bahwa rutin main musik ternyata beneran ngaruh ke kemampuan otak!
Jadi ada penelitian yang melibatkan 600 musisi vs 600 non-musisi untuk dibandingkan kemampuan otaknya, khususnya memori jangka pendek.
Hasilnya lumayan bikin kaget sih yaitu musisi punya memori jangka pendek yang lebih baik, terutama memori verbal, visuospatial, dan musik.
Artinya, aktivitas musikal yang kita anggap “cuma hobi” ini ternyata punya efek kognitif nyata yang nggak bisa diremehin. Nah ini juga bukan penelitian kecil, ini adalah penelitian dari berbagai lokasi dengan analisis yang ketat banget.
Kenapa bisa begitu?
Alasannya adalah karena main musik melibatkan berbagai hal meliputi koordinasi motorik, atensi tinggi, pemrosesan pola & ritme, memori berulang, dan integrasi multisensorik yang memicu otak untuk latihan terus.
Sumber:
Grassi (2025). Do Musicians Have Better Short-Term Memory Than Nonmusicians? A Multilab Study.
Bonus video gue main gitar untuk yang suka main guitar hero atau lagu lawas