Opini itu seperti lobang pantat, tiap orang punya satu. Biarin aja meski kadang ada yg lebih bau dari yg lain. Tentu saja lobang pantat para rapper lokal juga bau, cuma mereka gak hanya beropini: rap lokal udah 3,5 dekade berevolusi dari teknis sampe non-teknis, barat sampe timur
Sebelum pertandingan ini, ada yang bilang nggak ada peluang Arsenal kalah dari MU. Sangking hebatnya Arsenal saat itu.
Setelah pertandingan ini? Lutut pemain Arsenal mulai gemetar.
Kata orang Surabaya: wis nggreweli.
Menuntaskan mendengar album baru @Seringai - IV: Anastasis [2026]. Salah satu album terbaik 2026. Merinding mendengar riff gitar Angga Kusuma di album ini, sound @RickySiahaan masih terasa. Dibuka “Melunaskan Dendam” ditutup lagu ke-12 “Tirani Lagi.” https://t.co/63GY4a71KP
"bakal rame ga ya, soalnya bentrok sama sumac & moor mother"
NJIR KUNTARI FULL HOUSE DI REWIRE FESTIVAL orang2 ngantri sampe jalan besar woy emang gua sapa :((
kadang yang perlu kita luruskan bukan karyanya, tapi cara kita memahaminya. menganggap satu adegan dalam video klip sebagai bentuk normalisasi perilaku justru menunjukkan betapa dangkalnya cara kita membaca karya. seni sejak dulu tidak pernah diciptakan untuk menjadi buku panduan moral yang steril, melainkan untuk merepresentasikan realitas, emosi, dan perspektif manusia apa adanya.
yang juga sering dilupakan, audiens bukan sekumpulan orang tanpa nalar yang langsung meniru apa yang mereka lihat. masyarakat punya kemampuan berpikir, menilai konteks, dan memisahkan mana ekspresi artistik dan mana perilaku yang pantas dijadikan teladan. ketika setiap visual langsung dianggap berbahaya, sebenarnya yang sedang kita lakukan adalah merendahkan kapasitas publik itu sendiri.
lebih jauh lagi, jika logika ini terus dipakai, maka banyak karya seni harus disensor hanya karena ada kemungkinan disalahartikan. film tidak boleh menampilkan kekerasan, musik tidak boleh menampilkan kegelisahan, sastra tidak boleh menyinggung realitas yang pahit. padahal justru di situlah fungsi seni, memotret kehidupan dengan jujur, bahkan ketika kenyataan itu tidak selalu nyaman dilihat.
jadi sebelum buru buru menuduh sebuah karya sebagai bentuk normalisasi, mungkin yang lebih perlu diperkuat adalah kedewasaan kita dalam membaca karya. karena sering kali yang bermasalah bukan ekspresinya, melainkan cara sebagian orang terlalu cepat menghakimi tanpa benar benar memahami konteksnya.
😼🐍 Dans cette séquence, trois jeunes chats des sables apparaissent à l’entrée de leur terrier, en plein milieu d’un environnement désertique.
Un serpent à sonnette surgit et s’approche dangereusement. L’attaque est rapide : l’un des petits est touché et meurt...
Les deux autres tentent alors de faire face, malgré leur taille et leur vulnérabilité, en attendant l’intervention de leur mère.
Quelques instants plus tard, celle-ci arrive et engage un combat avec le serpent, qu’elle parvient finalement à repousser.
Vous y avez cru vous aussi ?
Cette vidéo est en réalité générée par intelligence artificielle.
Preuve, s’il en fallait encore, que ces contenus sont désormais capables de tromper très facilement notre perception du réel...