teume luar pada kaget plus dukung teumeina yang ngecancel si sya😭 sampe dibilang kita berhak marah soalnya duit rakyat bukan cuma kasus fandom ini kasus warga negara indonesia masalahnya😭
lu ga ngerti setelah kejadian korban bisa ngerasa sangat amat malu dan jijik dengan diri sendiri makanya respon seperti itu wajar banget, kalian tuh butuh banyak alasan utk percaya korban tpi ke pelaku gampang aja percayanya.
habis membaca salah satu konten kreator Indonesia yang menyuarakan tentang opresi perempuan yang ada di Afghanistan dan kalian tau apa isi komennya? komenan bodoh masyarakat Indonesia yang mendukung diktator taliban yang mengopresi perempuan
gue yang ngesend banyak ide pkkmb buat temen gue yang di isi dan yg excited krn mereka lolos (sebenarnya gue juga mau) when yh.... mereka keren banget....
WN(Lain):
Jarak antara kamu dan mimpimu adalah usaha dan do'amu.
WNI:
Jarak antara kamu dan mimpimu ada pemerintah korup, pajak yang merampok, kemiskinan struktural, ketimpangan literasi, ketimpangan kesempatan antar kelas, kebijakan publik kontra rakyat, usaha, baru do'a.
sumpah my biggest “when yh” itu bukan tentang pacaran tapi WHEN YAH pindah ke negara 4 musim itu dengan pendapatan rata-ratanya yang tinggi, pendidikan sangat berkualitas, termasuk negara dengan penduduk paling bahagia di dunia, alam yang indah sejalan dengan pembangunan kota dan fasilitas transportasi yang sangat baik, kriminalitas rendah, bisa healing tanpa stress ekonomi (work-life balance), lingkungan sosial yang ramah dan nyaman, dan pemerintahan yang selayaknya baik.
kekerasan pada transpuan kembali terjadi, kali ini pelaku ngejar-ngejar korban dan mengarahkan semacam stun gun (kejut listrik) kepada korban.
woi anjing, sakit ya pada ya? kalo timbul resitensi karena hal ini jangan lagi lu sebut konflik horizontal ya anjing, mayoritas kontol!
tiap kali denger wacana "kurikulum pencegahan LGBT" buat anak SD, gua selalu kepikiran film Monster (2023) karya Koreeda
banyak org selesai nonton film itu terus nanya "emang monster-nya siapa?"
and that's the point, monster-nya bukan Minato, bukan juga Yori. mereka cuma dua anak kecil yang bahkan belum sepenuhnya ngerti apa yang mereka rasain
buat gua, monster-nya adalah masyarakat yang bikin anak-anak ini percaya kalo ada sesuatu yang salah dalam diri mereka, sampe mereka harus tumbuh dengan rasa takut, rasa malu, bahkan nganggep diri mereka "berotak babi" cuma karena ngerasa beda
anak queer itu exist, and will always be.
mereka bukan jadi queer karena diajarin di sekolah, nonton film, atau ketemu orang LGBT. tapi kalo dari kecil mereka terus diajarin LGBT adalah sesuatu yang harus "dicegah", then once they fully understand themselves, hal pertama yang ikut tumbuh bukan penerimaan diri, melainkan rasa takut, rasa malu, dan keyakinan bahwa mereka adalah barang rusak
kalau dari kecil negara mulai menanamkan bahwa keberadaan mereka adalah sesuatu yang harus "dicegah", yang lahir bukan generasi yang "straight", yang lahir justru anak anak yang ngabisin masa kecilnya dengan "kenapa gua salah?"
that's the real tragedy, dan menurut gua, itulah monster yang sebenarnya, I hope no other Minato or Yori ever has to grow up believing they're the monster