Sebagai tenaga pendidik yang tiap hari lihat makanan dibuang gini, aku pengen program MBG di stop dan digantikan dengan program sekolah gratis.
Sayang tiap hari mbak disekolah buang maknan gini
cc:threadlisnasn20
16 desa di Aceh masih gelap 🕯hampir 3 bulan pascabanjir. ⚡️Listrik di 16 desa di enam kabupaten di Aceh belum pulih hingga 7 Februari 2026, sekitar dua bulan setelah banjir. Perbaikan terhambat karena jalan ambles dan jembatan putus sehingga tim PLN sulit membawa tiang, kabel, dan material. Warga sementara mengandalkan generator dan lampu tenaga surya, namun harus membeli bahan bakar yang memberatkan ekonomi karena penghasilan hanya dari kerja proyek pemulihan. PLN menyatakan medan sangat berat tetapi pemulihan terus diupayakan secepatnya.
demikian lah sekarang para gajah mati di tangan pemburu, hilang kepalanya.
11 Juli 2021, di areal perkebunan PT. Bumi Flora, tepatnya di Afdiling V Desa Jambo Reuhad, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, adek ini ditemukan.
GELAPNYA PENDIDIKAN KITA
Opini Kompas, 15 Maret 2025
Iman Zanatul Haeri
Cara memahami MBG dan makin tercekiknya guru serta makin mahalnya pendidikan
-Tread-
Negara ngak punya uang utk mningkatkan kesejahteraan guru; tapi punya uang utk MBG dan kesejahteraan petugasnya; Ngra tak punya uang utk mlindungi hutan tp punya keberanian utk mmukul rkyatny; negara membiarkn aparatnya miskin tp memaklumi kalo mreka jd penjahat. Ngra tak sopan!
Manusia akan beneran belajar berempati kalau dia ada di titik terendah hidupnya. Dihajar realita, dikasih penyakit serius, ekonomi runtuh, gak ada jalan lain, and many more. Life doesn’t humble you at your highest, but at your lowest.
Pertanyaan bagus, kenapa lebih banyak perempuan yang bekerja sebagai PSK jika dibandingkan laki-laki?
Prostitusi, salah satu profesi paling tua dalam peradaban umat manusia, sudah ada sejak ±2400 SM di Mesopotamia (Sumeria–Babilonia).
Namun, dominasi jumlah perempuan di dalamnya bukan soal “pilihan bebas”, melainkan hasil ketimpangan ekonomi, relasi kuasa, dan eksploitasi yang terus-menerus direproduksi sejarah.
Di dunia tani, kita memang akrab dengan bahasa alam. Banyak petani sejak dulu belajar membaca tanda-tanda kecil di sekeliling mereka, bukan dari radar, bukan dari satelit, tapi dari perilaku makhluk hidup yang berbagi langit dan tanah yang sama.
Capung terbang rendah sebelum hujan?
Semut memindahkan telur saat udara terasa makin lembab?
Bagi banyak petani, itu bukan sekadar cerita, tapi hasil pengamatan puluhan tahun.
Menariknya, sebagian dari kearifan itu memang punya dasar ilmiah.
Saat udara menjadi lembab dan tekanan udara menurun, tanda hujan akan datang, serangga kecil terbang lebih rendah karena kondisi udara berubah. Capung, sebagai predator, ikut turun mengikuti mangsanya. Begitu pula semut, ketika tanah mulai lembab dan berpotensi tergenang, mereka memindahkan telur ke tempat yang lebih aman. Bukan karena meramal, tetapi karena mereka merespons perubahan lingkungan mikro di sekitarnya.
Artinya, kebijaksanaan petani itu bukan mitos kosong. Ia lahir dari kepekaan, kesabaran, dan kedekatan mereka dengan alam. Namun, di saat yang sama, kita juga perlu mengakui bahwa ilmu pengetahuan modern bekerja di tingkat yang lebih luas. BMKG menggunakan satelit, radar, dan model atmosfer untuk membaca cuaca dalam skala besar. Jadi, bukan soal siapa yang lebih benar, melainkan soal dua jenis pengetahuan yang saling melengkapi, kearifan lokal yang membaca tanda-tanda dekat, dan sains yang membaca gambaran besar.
Dari petani, kita belajar bahwa kecerdasan tidak selalu lahir dari ruang laboratorium. Kadang, ia tumbuh dari tanah, hujan, dan keheningan yang membuat manusia belajar mendengar alam.
Semoga kita tidak hanya pintar secara teknologi, tapi juga peka secara hati, mampu membaca ilmu, sekaligus tetap menghargai hikmah yang dititipkan Tuhan melalui alam.