serius dah, suka sama banyak hal tuh seru banget. musik, cinema, anime, kpop, buku, art, olahraga, dan sebagainya. nyari temen jadi lebih gampang ( menurut gua ), banyak yang bisa diobrolin, KAGAK BOSEN DAH POKOKNYA, ada aja gebrakan yang bikin lu heboh terus.
Ospek di kampus aja kalo ada 1 orang yg meninggal pasti diusut penegak hukum. Dikejar sampe ke pucuknya. Latsarmil Kopdes ini 5 orang meninggal, terus dibiarkan aja karena melibatkan struktur tentara, gitu?
Tajam ke sipil, tumpul ke tentara. Negara hukum macam apa kita ini?
Salah satu kehilangan momentum terbesar bangsa:
Indonesia sedang membuang peluang emas mencetak generasi intelektual terbaik, tepat di depan mata, tepat saat Indonesia Emas 2045 tinggal 19 tahun lagi.
Ribuan anak muda Indonesia berbakat yang seharusnya bisa dikirim kuliah ke luar negeri belajar kecerdasan buatan, nuklir, teknik antariksa, bioteknologi, dan kedokteran canggih justru tidak mendapat beasiswa karena anggarannya sudah habis terserap untuk program MBG + Kopdes
Rp335 triliun APBN 2026 dialokasikan untuk memberi makan siang.
Bukan untuk mengirim satu generasi pelajar terbaik ke universitas terkemuka dunia.
Bukan untuk membangun 100 laboratorium riset kelas dunia.
Bukan untuk mencetak 50.000 insinyur dan ilmuwan yang bisa membawa Indonesia loncat ke era industri maju.
Bandingkan saja: beasiswa LPDP 2026 hanya menyentuh sekitar 5.000–7.000 penerima per tahun dengan anggaran di bawah Rp5 triliun.
Sementara MBG mendapat 67 kali lipatnya.
Dengan Rp335 triliun, Indonesia bisa mengirim 1 juta mahasiswa kuliah S1 penuh selama 4 tahun ke universitas terbaik dunia. Atau membiayai 3 juta mahasiswa S1 di universitas dalam negeri terbaik lengkap dengan biaya hidup. Atau membangun 500 pusat riset dan inovasi teknologi di seluruh Indonesia.
Akhirnya
kita akan sampai di 2045
dengan perut kenyang
tapi
masih mengimpor teknologi,
masih mengimpor insinyur,
masih mengimpor solusi dari bangsa lain yang justru hari ini sedang serius mencetak ilmuwan mereka.
Sejarah 1965 kehilangan satu generasi intelektual karena paksaan politik.
Sejarah 2026 berpotensi kehilangan satu generasi intelektual karena salah prioritas anggaran.
Dua jalur kehilangan yang berbeda. Tapi akibatnya bisa sama besarnya.