Cuih, model kayak gini mana peduli BPJS bayar ala kadarnya untuk faskes. Mana peduli dengan hak nakes yang akan hilang (BPJS cuma bayar paket, pemanjangan ranap tidak akan ditutupi plafon). Semua peduli dengan dirinya sendiri. Saat sakit nakes dicari, sat sembuh siapa peduli.
Banyak hal yang bikin geleng2 kepala waktu audit medis dan jumpa langsung sama BPJS, karena saya berusaha untuk keep waras, jadi saya cuma bawa ketawa aja
Pasien tidak bisa dikoding pulmonary edema sebagai dx sekunder pada dx primer CHF, CKD, karena BPJS beranggapan udem pulmo..
Membayar iuran bulanan BPJS bukan berarti kalian membeli saham kepemilikan rumah sakit yg bisa dikendalikan sesuka hati. Mari kita bedah empat kesesatan logika soal BPJS yg paling sering memicu keributan dan adu urat di ruang UGD!
Check this out 👇
Kesehatan itu hak.
Tapi kesehatan perlu biaya.
Mau Anda beralasan biaya dikeluarkan oleh pemerintah melalui pajak, atau iuran sistem UHC, atau asuransi swasta, atau Anda mau bayar out-of-pocket, semua butuh biaya yg berasal dari masyarakat.
BPJS menjadi "terbaik" bukan karena efisiensi pelayanannya, melainkan karena ia berhasil melakukan sesuatu yang mustahil dalam kapitalisme: memberikan akses kesehatan bagi ratusan juta orang dengan biaya yang hampir tidak masuk akal (murah).
Padahal sangat jelas dan terang benderang kalau PENGABDIAN itu adalah PERBUDAKAN MODERN…
Upah murah dengan berjuta tuntutan…
Named dan nakes cuma disuruh mengabdi tapi tidak punya hak untuk sejahtera…
Logika somplak…
“Medical Jousting” Jadi ingat ada lewat satu twit tentang ibu seorang dokter yg periksa ke primary care tp dokter tsb tidak ikut serta dalam proses pemeriksaan klinis, dan habis2an dia kritisi dokter primary care tsb secara online tanpa melihat dari sisi dokter pemeriksa dan …