Ini namanya WEAPONIZED INCOMPETENCE ya.
Laki pura2 dongo supaya idupnya otomatis diurusin orang lain yang biasanya perempuan, baik bini, ibunya, atau anaknya yg udah besar.
Bisa bantu? Bisa. Bisa mikir?? Bisa.
Mau?? Kagak, cosplay dongo aja trus ngakunya "safe space".
Job data entry untuk mahasiswa. Full WFH.
Ngetik masukin data ke form yang udah disediakan. Per hari targetnya 10 data. Waktu pengerjaan 1 jam - 1,5 jam (maksimal). Jam kerja bebas selama target tercapai. Hari Minggu libur.
Idealnya digaji berapa per bulan?
Rencana gw umur 23:
- mau S2 di UK, abis itu kerja 1-2 th dulu baru bilang ke org yg gw suka dari lama. Kerja terus di multinasional company sampai karir tertinggi, etlis bisa megang level region.
Kenyataan:
- meski dapet S2nya, tp sial emang sesuai prediksi bkmg sejak s1, bahwa ga bakal bisa sama doi.
- udah keterima kerja di multinational company, malah startup gw dapet funding.
Things happened. Gausa saklek2 amat sama rencana, atau gausa worry kl ga punya rencana samsek.
hobi lebih cerdas buat perempuan
• main sudoku, TTS, puzzle
• menggambar/melukis
• belajar mengetik 10 jari
• journaling & reflect
• fotografi & videografi
• baca buku nonfiksi/ensiklopedia
• belajar bhs inggris & mandarin
• pilates/yoga/angkat beban
• belajar investasi & mengelola uang
gue juga suka banget nanas, tiap hari beli. trus ada bapak2 di kantor bilang gini
“si atha nanas mulu, abis digempur danen ya?”
trus aku datar aja sambil ngomong “pak gak semua orang nafsuan kayak bapak, jangan disamain dah”
Tahu dari mana problem utamanya karena jurusan dan lapangan kerja?
Coba bikin data dulu. Kamu lebih sering gugur di tahap CV atau setelah interview?
Kalau belum dipanggil sama sekali, bisa jadi masalahnya bukan jurusan, tapi CV kurang kebaca, pengalaman tidak disambungkan ke role yang dilamar, portofolio kurang jelas, atau apply ke posisi yang mismatch.
Kalau sudah sering interview tapi gagal, baru cek cara jawab, ekspektasi gaji, komunikasi, atau kecocokan role.
Pendidikan tidak linear memang bisa jadi hambatan, tapi jangan langsung jadikan itu diagnosis utama sebelum lihat datanya.
Saran nih buat yg udah ngirim ratusan lamaran tapi blm dapat kerjaan juga, terutama buat roles yg back offices:
1. Jgn abisin waktu buat daftar LinkedIn Easy Apply / Jobstreet / Glints dll. Apalg yg diposting udh lewat dr 1 hari, hampir pasti CV lo ga akan dibaca. Kenapa? Ya karena pendaftarnya udh ratusan bahkan ribuan mgkn. Jadi drpd abisin waktu tebar lamaran yg ujung2nya ketiban, mending fokus cari yg fresh. Utamakan kualitas drpd kuantitas.
aku kuliah di kampus top 3, ipk di atas 3.5, pengalaman yg relevan sama posisinya ada, pengalaman organisasi ada pernah jd leader divisi, fluent in english (yah setidaknya cukup,,,, B2-C1 gt dah), beasiswa ada dri organisasi yg bereputasi..
CARI MAGANG? OH TTP SULIIIIIIITTTTTT
Terserah sih, tapi basically manusia tuh memang benci proses yg tinggi beban mentalnya tapi rendah penghargaan instannya. Skripsi tu energi intelektual yg gede. Sementara culture selalu nuntut tangible outcome. No wonder kenapa intelektualitas ngga dihargai.
Sejak menjadi orang tua, pada awalnya aku mikir:
Kita memang harus menghemat agar keuangan stabil in this economy.
Makanya, beberapa kali jika anak meminta sesuatu, kita ngga langsung turuti.
Feeling kita blg harus hemat.
Tapi kemudian ilmuku bertambah ketika baca buku Thrivers.
Di part kedua chapter ketiga, di sana disebutkan ttg self control.
Seorang anak yg berkembang, ia harus mampu mengontrol emosi, keinginan, dan tindakannya. Krna hal tsb berkorelasi dgn kemampuan dan ketahanannya utk sukses.
Dan ternyata, salah satu cara melatihnya adalah menunda kesenangan.
Sejak memahami ini, sudut pandangku sedikit berubah.
Ketika anakku menginginkan sesuatu tp kami ulur, (saat ini kami mengajarkannya agar banyak2 berdoa), alasannya bukan semata krna ingin berhemat.
Ada pelajaran yg ingin kami tanamkan.
Bahwa tidak semua keinginan harus langsung terpenuhi.
Saat ini kami mengajaknya utk banyak2 berdoa agar Allah mengabulkan keinginannya.
Bahwa ada proses menunggu.
Bahwa ada jeda antara meminta dan menerima.
Krna kami berharap, kelak ia tumbuh menjadi pribadi yg mampu mengontrol diri.
Harapan kami: kemampuan sederhana utk menunggu hari ini, kelak menjadi salah satu bekal terbaiknya di masa depan.
gw 25, beberapa kali interview suka kena judge "jadi kamu dari lulus gak ada pengalaman kerja di kantor/perusahaan? trus bisanya ngapain? ini kamu cuma belajar macam² aja tapi gak kerja². freelance pun gak relevan". setemplate itu sampe gw mau muntah 🤏🏻
enggak sedih ya, kerja di big 4, energy company, service gitu2 lu pikir gampang?
lancang banget mulutnya nganggep rendah org kerja di perusahaan bonafid
soal ekosistem di cina lebih advance, that's one thing. tapi kalo ngerendahin high paying job yg ada di sini sih lu yg katrok
Itu karena orang pake konsep Mesir kuno. Timbangan. Selama kumulatif kebaikan > keburukan, merasa aman.
Coba pake konsep probability supaya sejalan jg dg kepercayaan surga/neraka itu basisnya rahmat Allah; hak prerogatif Allah
Ada satu kalimat dari Sigmund Freud yang mungkin bisa menjelaskan kenapa sebagian orang terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak.
"Unexpressed emotions will never die. They are buried alive and will come forth later in uglier ways."
(Emosi yang dipendam tidak akan pernah benar-benar mati. Ia hanya terkubur, lalu suatu hari akan muncul kembali dengan cara yang lebih menyakitkan.)
setelah baca bab 1-3, gw langsung sadar 🥺
— selama ini gw terlalu fokus pada “mau jadi apa”, padahal yang lebih penting adalah “mau jadi siapa”
mulai hari ini, gw akan lebih mindful dengan kebiasaan kecil dari yang bangun pagi, olahraga, baca buku, bahkan cara gw mengatur kerjaan
kebiasaan kecil bukanlah hal sepele, itu adalah fondasi dari segalanya
kita tidak perlu motivasi yang tinggi setiap hari, kita hanya butuh sistem yang membuat kebiasaan baik jadi otomatis dan kebiasaan buruk jadi sulit dilakukan
perubahan bukan soal kekuatan kehendak, tapi soal desain yang cerdas, seperti desain lingkungan, desain identitas, dan desain proses
buku atomic habits mengajarkan gw bahwa semua bisa berubah, asal gw mau mulai dari yang terkecil dan melakukannya secara konsisten
ini baru bab 1-3, belum bab selanjutnya dan gw makin excited buat ngabisin waktu dengan membaca ini buku hehe
Jam 10 pagi udah nyari cemilan.
Jam 2 siang nyari minuman manis.
Jam 10 malam buka kulkas lagi. 😭
Sejak rutin makan ini, rasa pengen ngemil
berkurang lumayan banyak.
Kenyangnya lebih lama dari yang gue kira. 🫣✨