Umur 17, hormon puber sedang tinggi-tingginya, lalu kamu jatuh cinta setengah mati sama guru bahasa Inggris baru kamu yang cantik, karismatik, dan bikin dunia jungkir balik. Ini yang kejadian sama Johanne (Ella Øverbye) di Drømmer (Dreams), romansa coming-of-age Norwegia garapan Dag Johan Haugerud, pemenang Golden Bear di Berlin Film Festival 2025 yang juga jadi bab ketiga dari trilogi Sex, Dreams, and Love". Film yang bikin senyum-senyum sendiri pas nonton karena lucu, manis dan emosional
Di sini, Johanne nggak cuma naksir; dia cinta banget, bahkan dibilang udah terobsesi, sampe nulis memoar intim tentang perasaannya, lengkap dengan fantasi seksual yang bikin geleng-geleng kepala sekaligus iri sama keberaniannya. Catatan romantis itu kemudian dibaca sama neneknya, dan lalu juga ibunya. Tapi bukannya ngamuk, mereka berdua malah terkagum-kagum sama tulisan Johanne yang disusun dengan sangat baik. Lalu perdebatan muncul, mau dipublikasikan kah? Atau ini malah bisa jadi invasi privasi yang bisa ngerusak hidup orang-orang yang ada di dalamnya?
Ngeksplorasi tema seks, cinta, identitas, dan norma sosial tanpa judgement, Haugerud gak cuma bikin romansa cinta pertama yang terasa magis. Lewat dominasi voice-over Johanne yang kita masuk ke kepalanya yang penuh gejolak cinta muda dan pergolakan hormonal, tapi Haugerud nggak cuma stuck di situ. Dia juga ngelebarin perspektifnya ke orang lain: ada ibu yang liberal tapi sangat protektif, dan nenek asik yang ngeliat ini sebagai sebuah queer awakening. Hasilnya? Debat antar-generasi dengan pikiran yang terbuka, jadi menarik karena gak cuma soal "boleh kah dipublish?" tapi juga soal batasan antara fantasi vs realita, consent di usia minor, dan gimana imajinasi bisa jadi pisau dua mata, apalagi sampe ngelewatin batasan antara guru dan murid
Durasi 110 menitnya mungkin terasa kepanjangan kalo kamu nunggu plot twist besar, karena Drømmer lebih fokus ke studi karakter dengan banyak dialog dan monolog yang kuat. Haugerud juga sengaja nggak kasih jawaban pasti, ngedorong kita buat mikir sendiri untuk bjsa menikmati romansa coming-of-age queer terbaik tahun ini dengan hati. #JWC #JWC2025
4/5
Kisahkan guru-guru underpaid di sekolah khusus anak bermasalah yg mendadak dipusingkan dengan kabar rencana penutupan sekolah, Steve hadirkan tontonan empatik yg bergerak dinamis dengan kamera kerap mobat mabit demi memotret betapa capeknya jadi tenaga pendidik yg juga mesti merangkap sebagai orang tua, teman, perawat bahkan terapis.
Selama 90 menit yg dipenuhi kegelisahan juga kekacauan, film yg disadur dari novela bertajuk "Shy" karya Max Porter ini ingin mengapresiasi jasa para guru sembari bicarakan kelelahan mental yg harus dihadapi (termasuk akibat sistem yg tak menghargai kinerja mereka) & bagaimana anak-anak yg berbuat onar sejatinya sedang berteriak minta tolong lantaran keluarga yg mestinya bisa diandalkan justru menelantarkan alih-alih ulurkan tangan dengan penuh kasih.
Bagus!