Di hatinya nggak ada kamu.
Di hatinya cuma ada masa lalu.
.
Di hidupnya nggak perlu kamu.
Di hidupnya kamu cuma dianggap benalu.
.
Di pikirannya kamu cuma badut.
Di pikirannya kamu cuma angin bersin.
Semoga:
Yang cintanya jauh, didekatkan.
Yang hatinya ragu, diyakinkan.
Yang hubungannya rumit, disederhanakan.
Yang rindunya terhalang, dihadapkan.
Yang air matanya jatuh, terobatkan.
Yang doanya baik, dikabulkan.
Yang harapannya indah, direalisasikan.
Bukan maksud mengekang. Terkadang memang muncul rasa ketidakrelaan jika kau sedang bersama yang lain.
Egois, ya?
Memang itu bagian dari menyayangi.
Tidak bisa dihilangkan, hanya belajar untuk semakin mengerti.
Tadi aku kaget karena aku liat orang mirip banget sama aku. Parah miripnya. Manalagi dia ngelakuin apa yang aku lakuin. Setelah aku dekati, dia juga mendekat. Ternyata aku berdiri didepan kaca wadidaw
Seseorang yang pernah menyakitimu sangat berhak untuk tahu bahwa kau sudah mampu untuk bisa berdiri tegak tanpanya. Kau sudah mampu menjadi seseorang yang merdeka. Dan terpenting, tanpanya; kau mampu menjadi seseorang yang lebih baik.
Rasa patah dan sakit hanya sebuah lalu-lalu untuk sebuah langkah yang baru.
Bila selepas badai memang selalu menghadirkan pelangi. Maka berharap kepada yang (pernah) mematikan hati harus segera disudahi.
Sudah ya sedihnya, dadamu berhak lapang untuk seseorang yang mencintaimu dengan senang. Air matamu berhak berhenti untuk seseorang yang menyayangimu dengan pasti.
Kau harus menjadi pribadi yang siap menyambut kehadiran dan merayakan kehilangan.
Dengan menangmu, dengan senangmu.
Untuk sesuatu yang hanya tahu bagaimana caranya menyakitimu, hatimu harus keras, akalmu wajib cerdas.
Menjauhlah, meski pun berat. Karena pada diri seseorang yang benar menyayangimu. Kau pantas dipeluk erat-erat.