Chelsy Kaltrin Candra (14) adalah seorang siswi SMP Negeri 1 Nabire, Papua Tengah, yang ditemukan tewas secara tragis di Jalan Raya Waroki, Kabupaten Nabire, pada akhir Juli 2026. Pelaku adalah Arya Wibawa Sulistiyo anak polisi bernama Arief hendro sulistiyo..
Bantu viralkan terus biar mendapatkan keadilan.. Polisi jangan membela kelakuan anak polisi seperti ini!!!
Inilah foto pelaku pembunuhn seorang remaja perempuan di Nabire..
Berdasarkan informasi:
Pelaku berumur 14 tahun, pelaku memperkosa, membunuh dan membakar remaja perempuan.
Pelaku adalah anak seorang polisi, dan kabarnya kepolisian yang menangani kasus ini adalah tempat ayah pelaku bekerja😃😄
Semoga ada keadilan untuk adik chelsi korban pemerkosaan, pembakaran dan pembunuhan
Bayangin, tanganmu diborgol, kakimu diiket, terus kamu diceburin ke waduk. Ngga ada yang liat seberapa tersiksanya kamu waktu air mulai penuhin paru paru. Ngga ada yang liat seberapa putus asanya kamu waktu matamu masih bisa natap matahari dan langit biru, tapi kamu sadar, kamu ngga bisa ngapa ngapain. Alm Bapak Sumarna, security Waduk Jatiluhur yang meninggal. Dia meninggal karena berupaya membubarkan kerumunan anak muda tapi dia dilakban dan diceburkan ke waduk. Jasadnya baru ditemukan jam 11.00 Katanya para pelaku masih SMP
semoga seluruh pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. @prabowo@ListyoSigitP@DivHumas_Polri@DediMulyadi71 bantu di followup bang budi @BudiBukanIntel
🚨🗣️New: Mohamed Salah on the controversial officiating decisions in Egypt and Argentina game, Messi and Argentina are being favored:
“People will say Argentina showed the mentality of champions. Fine. But tell me this: when exactly did Egypt get the same protection from the officials?
We scored a second goal. The stadium exploded. The world saw it. Then suddenly VAR became an archaeologist, digging through the ruins of football history to find a foul from another lifetime.
Funny how they could rewind the game Five minutes to cancel our goal, but when I was brought down in the box, everyone suddenly forgot where the replay button was.
That’s what hurts. Not losing. Not Argentina.
The inconsistency.
One decision gets examined under a microscope. Another gets buried under the carpet.
We were told football is decided on the pitch. Tonight it felt like it was decided in a control room.
And let’s talk about those final minutes.
Two penalty appeals. Two moments that could have changed everything. Nothing. No review. No urgency. No explanation.
Then Argentina go down the other end and score the winner.
That isn’t a plot twist. That’s the kind of script that leaves millions of people asking questions.
Egypt fought for every blade of grass. We defended. We believed. We earned our moments.
But every time we climbed the mountain, someone moved the summit.
The disallowed goal.
The ignored penalty shouts.
The cards flying around our bench because people who dedicate their lives to this game couldn’t understand what they were witnessing.
And now we’re expected to smile and say football won?
No.
Football wins when the rules are applied equally.
Football wins when VAR is a shield for fairness, not a sword that appears only when convenient.
Because from where I’m standing, Egypt didn’t just lose 3-2.
Egypt lost a goal, lost two penalty appeals, lost faith in consistency, and eventually lost a place in the quarter-finals.
Maybe Argentina deserved to advance.
Maybe they didn’t.
That’s football.
But what will make people angry isn’t the result.
It’s the feeling that one team was forced to play against eleven men, the clock, and a set of decisions that seemed to change shape whenever the game demanded it.
And that’s why this match will be remembered long after the scoreline is forgotten.”
Aneh ga sih?
Tujuan MBG itu untuk anak-anak sekolah.
Tapi ketika Dapur MBG dihentikan bahkan kalaupun cuma sementara, yang marah bukan anak-anak sebagai penerima Makan Bergizi Gratis.
Yang marah malah yang punya Dapur.
Jadi, ada kabar sedih dari Kalimantan Selatan. Ternyata ada situs bersejarah keren banget di sana, yaitu ratusan lukisan dinding gua yg umurnya udah 2.000 tahun. Lukisan ini jadi saksi bisu kehidupan leluhur kita zaman dulu.
Sayangnya, sekarang keberadaan situs ini lagi terancam gara2 ekspansi kebun sawit di sekitarnya. Masalahnya, akar pohon sawit, perubahan suhu di dalam gua, sampai sisa pupuk kimia bikin lukisan kuno ini perlahan rusak dan memudar.
Gagal juara di UCL tidak sedikit pun menggurungkan niat mereka untuk tetap hadir dalam perayaan gelar juara Premier League Arsenal, because… North London Forever, whatever the weather!
@kompascom “Dibawa”?
Biasanya membawa seseorang seperti ini HANYA DILAKULAN OLEH APARAT PENEGAK HUKUM
Apa wewenang Ormas melakukan tindakan semacam ini?
Hal2 ini yg mestinya ditangani sangat serius oleh kepolisian. Bukan malah mengurus jagung
Semoga negara ini makin aman, tertib
👆👎🏿
sedih banget…
guys tolong up kasus ini. gue selalu perih tiap berita ttg Papua. mereka disana bener bener jauh keadaannya dgn kita.
alamnya dikeruk habis habisan, tapi penduduknya miskin. ditembaki pula. yaAllah
Havertz has been injured four times
Saka has been out for a total of four months
Timber is currently sidelined for two months
Merino has been out for over four months
Eze missed two months
White was injured at the start of the season
Madueke was out for two months
Odagaard hasn’t been fully fit for most of the season
I don’t even want to talk about Calafiori being made of glass.
We didn’t make any signings in January, yet we made it to the UCL final unbeaten and are still top of the Premier League.
Respect him.
Serangan brutal militer Indonesia di Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, 5 warga sipil ditembak, gelombang pengungsian makin meningkat masif. Operasi militer Indonesia di atas tanah Papua, selain membunuh, warga sipil pun harus jadi korban pengunsian besar-besaran.