POLISI JEPANG KALAU GEREBEK MARKAS YAKUZA, AURANYA KAYAK DEBT COLLECTOR NAGIH CICILAN 12 BULAN NUNGGAK. ππ€£
Ini polisi Osaka, jauh-jauh datang ke Toyohashi, Aichi, buat menggeledah markas kelompok yakuza yang terkait kasus penipuan.
Lebih dari 20 polisi datang, gebrak pintu sambil teriak, βOSAKA YAA! CEPET BUKA!β
Yang di dalam malah anteng. Markas organisasi kriminal, tapi pas polisi datang mendadak cosplay rumah kosong. WKWKWK.
Bayangin, kelompok yang reputasinya bikin orang takut, giliran diketok polisi malah kayak bocah ngumpet dari emak gara-gara belum mandi.
Ternyata di Jepang, sekelas yakuza pun bisa kena mental kalau yang nagih bukan pinjol, tapi Kepolisian Osaka. π
Gua setuju semisal Singapore, Malaysia bahkan Brunei mau gugat Indonesia ke hukum internasional.
Pemerintah Indonesia dableg anjeng di demo berkali-kali sama rakyat ga bebenah.
Ketemu baliho gede banget di Gatsu arah Semanggi. Kelihatan banget bikinnya pakai AI.
Dirgahayu TNI, tapi muka dua tokohnya malah segede dosa. Muka tentaranya juga jelas bukan wajah kita-kita yang katanya bangsa besar dan pemberani, nggak gentar sama antek asing. π€π»
Tulisannya cuma beberapa kata, tapi typo di mana-mana. Mulai dari semboyan TNI sampai nama pihak yang kayaknya bayar baliho ini aja salah. π
Bikin baliho aja nggak becus, gimana mau ngurus negara? What a joke.
11 orang anggota greenpeace yang dibawa polisi sempat bakal di tes urine
tim hukum greenpeace bilang itu tidak perlu
karena menurut mereka di uu narkotika tes urine hanya boleh untuk pengguna atau yang tertangkap tangan pakai narkotika
jeany bilang tidak ada temannya yang pakai narkotika
katanya akhirnya tes urine tidak dilakukan
mereka sempat dibawa ke unit keamanan negara, lalu dipindah ke unit kriminal umum
soal aksinya
enam pemanjat, dua di antaranya perempuan, punya kemampuan khusus untuk memasang baliho di tempat tinggi
aksi dimulai sejak subuh, sengaja saat orang masih tidur demi keselamatan mereka
baliho kuning berisi keresahan soal naiknya biaya hidup, krisis iklim, dan kebakaran hutan dan lahan
terbentang jelas sekitar pukul 06.00 wib, tapi hanya 30 menit karena polisi minta segera dicopot
JANGANKAN RAKYAT BIASA, SEKELAS BU AFNI ZULKIFLI (BUPATI SIAK) AJA DIBUNGKAM SAMA KOMDIGI TERKAIT VIDEO KEGIATAN RESMI PENANAMAN POHON EKS KARHUTLA. SAMPE VIDEO KEGIATAN BELIAU DI TAKEDOWN. KACAAUUUU
Kuota habis dalam tiga menit, lalu yang tidak kebagian kursi tetap datang dan menunggu di luar! Begitulah teman-teman diaspora dan PPI Edinburgh menyambut diskusi kami di Old College, University of Edinburgh, Minggu kemarin.
Panitia sampai harus mencari ruangan yang lebih besar. Karena hari Minggu, ruangan harus sudah bersih dan ditutup pukul lima sore, padahal diskusi masih berjalan hangat. Maka kami pun keluar dan melanjutkan diskusi di tangga Old College.
Gedung ini mulai dibangun tahun 1789, di masa Pencerahan Skotlandia, ketika Edinburgh ramai dengan perkumpulan diskusi tempat orang beradu gagasan soal ekonomi, kota, dan kehidupan bersama. Sore itu, tangga yang sama dipenuhi anak-anak muda Indonesia yang duduk ngemper, bertanya, menyanggah, dan tertawa bersama. Rasanya seperti rembug di serambi kampus waktu kami kuliah dulu.
Kami membahas kota dan masa depannya, juga situasi terkini di tanah air dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Di setiap pertanyaan tersirat rasa cinta dan kepedulian pada Indonesia, serta tekad untuk ikut membuatnya lebih baik. Walau jauh, mereka tetap memikirkan rumah.
Terima kasih PPI Edinburgh, Karsa City Lab, dan semua yang hadir, di dalam ruangan maupun di tangga Old College. Sampai jumpa lagi!