Suatu hari kakak perempuanku nelepon. Beliau cerita kalau kakak laki-lakiku lagi bingung karena anaknya mau masuk SMP. Biaya masuk sekolah waktu itu sekitar Rp8 juta. Kakak perempuanku udah bantu semampunya, ngasih Rp1 juta. Tapi kakak laki-lakiku masih kurang sekitar Rp5 juta.
Aku lalu cerita ke suamiku. Beliau nanya, "Kakakmu udah dibantu berapa sama yang lain?"
Aku jawab, "Baru satu juta."
Awalnya aku mikir cukup bantu sebagian aja.
Tapi suamiku malah bilang, "Udah, kasih aja semua kekurangannya."
Aku sampai kaget. "Semuanya?"
Beliau cuma ngangguk lalu bilang, "Kalau kita cuma bantu sebagian, kakakmu tetap masih kurang. Nanti dia harus pinjam ke mana lagi? Harus minta tolong ke siapa lagi? Kalau dia harus berkali-kali datang minta bantuan ke orang lain, pasti gak enak dan bisa bikin harga dirinya terluka."
Lalu suamiku bilang pelan,
"Emang tega lihat kakakmu harus merendahkan dirinya di depan orang lain?"
Aku langsung terdiam. Baru saat itu aku sadar, suamiku bukan lagi mikirin uang, tapi lagi menjaga harga diri kakakku.
Beliau lalu bilang satu kalimat yang sampai sekarang masih aku ingat,
"Dia itu kakakmu. Kalian sama-sama pernah ada di dalam kandungan ibu yang sama."
"Kalau hari ini Allah kasih kita rezeki, sementara saudaramu lagi kesusahan, jangan terlalu banyak berhitung. Kalau bukan kita yang bantu saat dia lagi susah, terus siapa lagi?"
Hari itu aku belajar, membantu saudara bukan karena mereka selalu benar atau selalu baik sama kita. Tapi karena Allah sudah menjadikan kami saudara.
Kadang yang paling menyakitkan bukan kekurangan uang, tapi saat seseorang harus berkali-kali meminta bantuan demi bisa bertahan hidup.
Kalau kita mampu meringankan bebannya, kenapa harus membiarkan dia kehilangan harga dirinya di depan orang lain?
Semoga Allah melembutkan hati kita, supaya bukan cuma ringan bersedekah kepada orang lain, tapi juga ringan menjaga kehormatan saudara sendiri.
Aamiin ya Rabbal 'alamin. 🤲
Standard gajinya 2 digit🤔
Pengeluaran terbesar
- skincare
- gaya hidup
- party
- favorite lagu dugem breakbeat
- bahan pokok naik tidak berpengaruh dengan kehidupan
Me: hanya tersenyum melihatnya🥲
Pas liat komentarnya 🫵😭
Cr~unfilteredmediaid
Bgst ini yg ngedit 😂... Rupanya di tengah kesibukan World Cup.. Messi ditemani presiden FIFA menyempatkan berkunjung ke rumah Bapak Jokowi meminta dukungan buat Argentina
Enakan nikah dipestain mewah gede gedean sama mertua, pulang ke rumah yang dibeliin mertua pake mobil yang dibeliin mertua juga.
Gausah romantisasi nikah di KUA dengan narasi mendiskreditkan nikah mewah.
Gapapa nikah mewah, gapapa nikah di KUA.
Gapapa tinggal sendiri, gapapa juga tinggal sama mertua.
Yang ga boleh banding bandingin orang lain sama kehidupan kita.
Setelah membaca utas bang @zoelfick ini, saya ingin beropini mengapa budiman bisa se emosi itu.
Budiman sudah tidak mampu lagi membantah realita lapangan yang ternyata jauh dari orasi-orasi yang digaungkan oleh seluruh pejabat pemerintah pusat.
Budiman ingin sekali terlihat “savage” didepan para mahasiswa. Namun seluruh pertanyaan mahasiswa yang dilandasi oleh realita membuat emosi budiman memuncak karena seluruh pertanyaan mahasiswa tidak ada yang sesuai dengan ekspektasi budiman.
Dan akhirnya senjata terakhir budiman tentu saja yang sudah kita ketahui bersama, dipenjara tahun 98 dan merasa dirinya yang paling berjasa di era reformasi.
Stop wak......✋️✋️✋️
Yang di pulau Jawa wajib tahu, kenapa di Jawa mati lampu, alasan sebenarnya bukan karna pemeliharaan tapi karna skandal. Silahkan di baca
Ini sudah keterlaluan si pln kalo bener
Berat..
Justru kalau minta hentikan MBG, pasti kalah calonnya.
Pegawai SPPG itu jumlahnya jutaan orang, belum lagi keluarganya, belum lagi supply chainnya dari transportasi hingga bahan baku.
Menghentikan MBG itu hanya akan membuat kelas menengah di perkotaan senang.
Tapi akan bikin marah kelas bawah dan orang2 kampung yang pekerjaannya bergantung dari MBG.
Makanya itu, kita semua ini udah dijebak secara politik oleh MBG.
Tidak akan ada politisi yang akan membatalkan MBG. Dijamin itu.