Kenapa banyak wanita yang akhirnya menyesal setelah menikah?
Dari podcast ini gue belajar
Jangan menikah dengan orang yang tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Apalagi kalau sampai menjadikan pasangan sebagai tempat pelampiasan emosi.
Jangan juga memaksa orang untuk selalu mengerti kamu.
Karena setiap orang punya latar belakang yang berbeda, dengan kapasitas penerimaan yang berbeda juga.
Lebih baik belajar untuk improve diri, memperbaiki ketidakcocokan yang ada.
Menikahlah ketika kamu sudah benar-benar “siap” dari sisi psikologis, spiritual, dan emosional.
kunci hubungan itu adalah saling pengertian, baru kemudian komunikasi.
Respect dan memahami sudut pandang satu sama lain itu penting.
Perempuan juga perlu punya kekuatan untuk berkata “TIDAK”
dan berdaulat atas dirinya sendiri.
Ternyata usia 30++ itu bukan tua.
Justru itu awal dari kehidupan yang sebenarnya dimulai.
Menikah atau tidak menikah bukan jaminan seseorang akan bahagia.
Karena menikah itu adalah pilihan hidup.
Dan pernikahan bukan sesuatu yang cocok untuk semua orang.
Guys, gue baru dengerin obrolan Vincent Verhaag dan Jedar di podcast dan ada beberapa hal yang bikin gue diem sebentar.
Bukan karena dramatis.
Tapi karena beda dari yang biasanya gue denger dari pasangan selebritis.
Jedar bikin "pasal" buat rumah tangganya.
Dan Vincent accept dan nurutin semua itu
Isinya antara lain kalau aku marah kamu sabar. Kalau aku diam kamu harus peka.
Kalau aku salah, kamu minta maaf lebih dulu.
Di luar konteks kedengarannya satu pihak banget. Dan Vincent sendiri ngakui "agak NPD ya istrinya."
Tapi yang menarik dia tetap accept.
Bukan karena takut.
Tapi karena dia baca pasalnya, setuju, dan nganggap itu bagian dari komitmen yang dia pilih.
Dan pasal yang paling gue suka?
Pasal 5
"Kamu boleh sukses setinggi langit.
Tapi pulangnya tetap ke aku.
Karena aku itu rumah, bukan alamat."
Tapi yang paling bikin gue mikir bukan pasalnya.
Tapi empat hal yang Jedar tetapkan sebagai garis merah sejak sebelum nikah dan ini nggak ada kompromi, nggak ada diskusi kalau udah kejadian.
Narkoba cerai.
Selingkuh cerai, harta jatuh ke istri.
Judi cerai.
KDRT cerai, harta dan hak asuh ke istri.
Dan Vincent setuju bukan cuma di mulut.
Tapi masuk ke perjanjian pranikah.
Tertulis.
Legal.
Bahkan untuk El Barak anak Jedar dari pernikahan sebelumnya yang secara hukum bukan tanggung jawabnya Vincent masukin ke perjanjian bahwa dia akan tanggung jawab sama seperti anak kandungnya sendiri.
Dan dalam keseharian ini bukan cuma omong kosong.
Empat tahun menikah.
Vincent bilang dia nggak pernah keluar malem tanpa istri.
Nggak minum alkohol.
Bukan karena dilarang tapi karena dia sendiri yang ngerasa "what am I doing here" setiap kali nyoba.
"My target of having fun is at home."
Dan waktu mereka sempat di titik paling berat baru nikah, COVID, uang hilang hampir Rp10 miliar kena penipuan, bayi baru lahir, susu nggak keluar karena istri stres mereka nggak sampai ke titik "mendingan pisah."
Mereka cuma jadi jauh sebentar.
Lalu balik lagi.
Yang gue pelajarin dari cerita ini:
Bukan soal pasalnya yang menguntungkan satu pihak.
Bukan soal siapa yang lebih dominan dalam rumah tangga.
Tapi soal satu hal yang jarang banget ada di pasangan manapun
Aturan main yang jelas, disepakati dari awal, dan dipegang berdua.
Banyak rumah tangga yang hancur bukan karena ketiadaan cinta tapi karena ketiadaan kesepakatan soal hal-hal yang nggak bisa dikompromikan.
Jedar dan Vincent dengan semua keabsurdan pasal-pasalnya setidaknya tahu persis garis merahnya di mana.
Dan Vincent tahu persis konsekuensinya kalau dia langkahi.
Menua itu wajib.
Bosen itu haram.
Gampang diucapkan.
Susah dijalankan.
Tapi kalau lo udah nentuin dari awal bahwa bosan bukan pilihan bukan karena romantis, tapi karena sadar bahwa lo yang tua bareng orang itu, bukan anak-anak mungkin persepsinya beda.
Laki-laki itu lebih enggak bisa hidup sendiri, lebih tergantung sama perempuan, daripada perempuan.
Perempuan lebih bisa hidup sendiri, lebih bisa nggak tergantung sama laki-laki.
Salah satu penelitiannya, Dykstra & Fokkema (2007, European Journal of Ageing) tentang abis putus, perceraian atau kehilangan pasangan, tingkat kesepian laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan.
Perempuan lebih cepat membangun ulang support system. Cenderung punya relasi emosional yang lebih banyak dan lebih dalam (teman, keluarga).
Kita bahas 2 sisi: sisi kamu yang ditanya dan sisi orang yang nanya. Ini sisi kamu dulu.
Pertanyaan seperti: “Kapan nikah?” “Kapan punya anak?” “Kapan punya rumah?” dan semacamnya itu sebenarnya masalahnya bukan hanya di pertanyaannya. Yang lebih bikin kamu nggak nyaman adalah reaksi batinmu yang muncul setelah mendengarnya.
Maksudnya gimana?
Kamu perlu menyadari, yang nggak nyaman, yang terusik itu egomu. “Keakuan” yang melekat (attach) pada label identitas diri, merasa terancam.
“Aku” merasa kalah dibandingkan dengan standar sosial yang seolah harus dicapai: “Umur sekian harus udah nikah, umur sekian harus udah punya nikah, dst.” Pikiran langsung drama: “Dia menghakimi, dia menganggap hidupku gagal, dsb.”
Daripada langsung bereaksi, cobalah sekadar hadir, just be, hanya sadari apapun pikiran dan perasaan yang muncul: perasaan tersinggung, marah, malu, sebel, dan sebagainya.
Kalau kamu menyadarinya, dorongan untuk bereaksi perlahan mengendur. Kalau nggak langsung bereaksi, nggak bereaksi dari ego, maka kamu dari reaksi emosional jadi respon yang santai. Sans aja. Misalnya: “Doain ya” atau senyum aja.
Nah kalo ini sisi orang yang nanya.
Dia nanya gitu itu karena batinnya terprogram, terkondisi oleh orang tuanya, oleh lingkungan, standar sosial yang dulu
dia harus capai.
Artinya dia nanya dari keterkondisian batin, dari diri yang terprogram, dari egonya.
Kalau kamu bereaksi dari egomu, maka ego dia dapet teman bermain. Jangan mau jadi teman bermainnya. Jangan ikuti permainan egonya.
Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu justru jadikan sebagai guru yang menuntunmu
menengok ke dalam diri:
“Hidupku aku jalani dengan kesadaran, atau aku jalani cuma untuk memenuhi tekanan standar sosial?”
Kalo dengan kesadaran, hidupmu nggak harus ngikutin timeline yang sama dengan orang lain. Tiap orang punya jatah rute dan waktu yang beda-beda.
Jadi orang yang berlebihan independent, semua-muanya dikerjain sendiri, sulit minta tolong, bisa jadi itu… mekanisme pertahanan diri karena sering dikecewain atau pernah sekali dikecewain begitu dalam.
Menariknya lagi adalah gimana karakter-karakter pendukung ngewakili beragam perspektif manusia dalam menghadapi klaim gila itu. Ada arkeolog antusias yang coba nyari celah logis, psikolog yang coba nganalisis motif psikologis di balik “cerita ajaib” tersebut, ahli biologi yang nuntut bukti ilmiah, seorang mahasiswi yang open minded, dan yang paling menarik ketika seorang profesor teologi Kristen yang taat ngerasa imannya diuji di saat John ngaku kalau dia pernah jadi bagian dari kisah sejarah Yesus.
Konflik ini ngeciptain cognitive dissonance sangat kuat, terutama buat karakter yang kuat agamanya. Di sini, The Man from Earth gak coba buat menghina agama, tapi justru mengajak penontonnya buat berandai andai: gimana jika sejarah yang udah kita yakini banget ternyata lahir dari kesalahpahaman manusia biasa? Bagaimana jika Yesus cuman manusia bijaksana, dan kisah kebangkitan cuman interpretasi. Karena seperti pepatah populer, “Sejarah ditulis oleh pemenang“
Tema lain yang juga menonjol adalah sifat relativitas sejarah dan pengetahuan manusia. Dari sudut pandang John, sejarah bukan garis lurus kemajuan, tapi lebih ke kumpulan peristiwa berulang: perang, migrasi, penemuan, kehancuran, lalu penemuan kembali. Ia udah nyaksiin gimana lahirnya pertanian, kota-kota pertama, agama-agama besar, dan bahkan revolusi industri, namun tetap melihat manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya sama: penuh harapan, takut, egois, dan kadang-kadang jiga mulia. Keabadian justru malah bikin dia makin lebih menghargai kefanaan hidup orang biasa. Bagi John, kematian ngasih makna pada tiap momen, sesuatu yang gak pernah ia rasain selama 140 abad.
Secara sinematik, The Man from Earth membuktikan bahwa kekuatan sebuah cerita gak selalu bergantung sama visual megah. Ia malah lebih mirip teater panggung atau dialog filsafat ala Plato daripada film Hollywood konvensional, tapi jauh dari kata boring apalagi ketika kita udah kelewat attached sama cerita John Oldman yang bikin penasaran itu. Penampilan David Lee Smith sebagai John Oldman itu tenang dan sangat meyakinkan, sampe-sampe bisa penontonnya bertanya “Gimana kalau ini semua benar?” Pertanyaan yang jadi dari daya tariknya. Ia gak pernah benar-benar ngasih jawaban pasti, meski endingnya yang nge-twist itu cukup ngejelasin, gak maksa kita milih buat percaya atau nggak, lebih ngajak kita merenungkan kerapuhan keyakinan kita sendiri.
5/5
Mau berlari kepenjuru manapun,
Mau menjerit sekeras apapun,
Mau menghiba kepada siapapun.
Tetap saja Yang bisa menolong, hanya Alloh Yang Maha kuasa.
#AaGymNotes