Bayangkan gmn dunia internasional mau percaya? 😓
Klo aturan (UU ini) bisa dirubah demi kepentingan (.....)
Sejak konstitusi diacak2, kejadian spt ini terus terulang.
Pd akhirnya ini salah 1 yg membuat mahasiswa bergerak.
Menjadi sejarah paling penting
ketika mahasiswa Universitas Trisakti sebagai pelopor aksi demonstrasi Mei 98 menuntut reformasi.
Perjuangan mereka tak sia-sia
meski empat mahasiswa gugur
ditembak peluru tajam aparat
saat aksi damai:
1. Elang M. Lesmana (Arsitek)
2. Heri Hertanto (Mesin)
3. Hafidin Royan (Sipil)
4. Hendriawan Sie (Ekonomi)
Peristiwa berdarah itu memicu
kerusuhan massal dan menjadi
katalis utama tumbangnya rezim otoriter Soeharto.
Saat ini rezim Prabowo tak bisa
liagi abai, ndableg, dan selalu:
- Defensif
- Denial & ngeles
- Nyinyir terhadap demo
- Buat demo tandingan
- Pura-pura buta
- Pura-pura budek
- Teriak hidup Jokowi
- Nyenyenyenye
Sejarah sudah sering mencatat
bahwa rezim yang arogan, tone
deaf, dan lupa diri ia akan jatuh
lebih cepat.
Jangankan rezim Prabowo yang
rapuh, rezim bengis Soeharto
yang kokoh saja tumbang oleh
gerakan aksi mahasiswa.
Jangan memantik kemarahan
rakyat dan jangan menganggap
remeh mahasiswa, kecuali mau
tumbang seperti Soeharto.
Panjang Umur Perjuangan!
𝗛𝗜𝗗𝗨𝗣 𝗥𝗔𝗞𝗬𝗔𝗧
𝗛𝗜𝗗𝗨𝗣 𝗠𝗔𝗛𝗔𝗦𝗜𝗦𝗪𝗔
Kalau badai melanda dan istana tiran itu runtuh, maka seperti yg sudah², hama di darat tiarap, lalu minggat tak terlihat.
Paling yg muncul & menenangkan badai, warna ungu dari lautan & warna jingga dari udara.
SEJARAH SELALU BERULANG.
Bukan Negara Islam = Zakat diurus negara
Negara tropis = buah mahal dan impor
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = minyak goreng mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = keadilan tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal dan impor
Bebas aktif = tunduk kepentingan asing
Negara religius = kitab suci dan haji dikorupsi
Negara agraris = keranjingan pangan impor
Lapor polisi = rugi berkali lipat
Pendidikan gratis = uang gedung mencekik
Jaminan kesehatan = kamar penuh, obat beli sendiri
Banyak pakar ekonomi = utang negara meroket
Raja nikel = pekerja lokal gigit jari, PAD nyungsep
Gaji pejabat kecil = hartanya banyak
Anti-KKN = anak dan menantu diusung Pilkada
Rakyat disuruh hemat = pejabat ganti mobil dinas
Taat bayar pajak = jalanan tetap berlubang
Penjara penuh = koruptor dapat fasilitas VIP
Jalan tol bertambah = biaya logistik tetap mahal
Kaya rempah = garam dan bumbu dapur impor
Swasta dicekik aturan = BUMN rugi disuntik dana
Janji lapangan kerja = tenaga kerja asing difasilitasi
Aturan hukum tebal = urusan lancar pakai "orang dalam"
Tanah vulkanis subur = kedelai dan pakan ternak impor
Banyak sungai besar = air bersih harus beli
Transportasi publik dibangun = macet hanya pindah lokasi
Dana desa triliunan = kepala desa pamer harta
Cita-cita swasembada daging = harga daging sapi termahal
Pesta demokrasi = menang karena serangan fajar
Komisi pengawas banyak = pungutan liar jalan terus
Bangga produk lokal = bahan bakunya impor semua
Tertangkap tangan korupsi = masih bisa senyum di TV
Konstitusi = bisa direvisi kilat demi kekuasaan
Wajib cinta tanah air = pejabat berobat ke luar negeri
Kebebasan berpendapat dijamin = kritik dipenjara pasal karet
Lahan negara luas = rakyat susah punya rumah
Subsidi triliunan = pupuk selalu gaib saat musim tanam
Budaya gotong royong = tetangga sakit tidak ada yang tahu
Digitalisasi birokrasi = urus izin tetap fotokopi KTP
Upah minimum naik = harga sembako naik duluan
Anggaran militer besar = alutsista yang dibeli barang bekas
Bangsa yang ramah = komentar netizen paling barbar
Darurat iklim = hutan lindung jadi kawasan tambang
Anggaran riset dipotong = pejabat rajin studi banding
Pusat data nasional = server gampang diretas
Gelar akademik berderet = kualitas kebijakan amatiran
Kaya warisan budaya = seniman tradisional melarat
Anti-penjajahan = rakyat digusur paksa proyek negara
Keadilan sosial = hanya untuk yang mampu membayar
@NataliusPigai2 Pernyataan Menteri HAM di negara yang presidennya pelanggar HAM—sementara sang menteri mengklaim dirinya sebagai korban pelanggaran HAM dan kini menjadi orang nomor satu di bidang HAM—sungguh “darderdor” menggambarkan wajah HAM di negeri ini.
2016.
Saya melangkah ke politik dengan satu kesadaran: politik tidak pernah bekerja seperti hitung-hitungan di atas kertas.
1 + 1 tidak selalu menjadi 2, dan 11 x 11 belum tentu menjadi 121.
Semua bisa berubah, dinamika bisa berbalik, dan keputusan yang terasa benar hari ini bisa diuji ulang oleh waktu dan keadaan.
Di ruang itulah saya belajar tentang pengabdian dan tanggung jawab.
2026.
Jalannya berubah.
Bukan karena berhenti peduli,
tapi karena ingin terus berkontribusi dengan cara yang berbeda.
Hari ini saya memilih untuk melanjutkan pengabdian dengan fokus pada penciptaan lapangan kerja, membantu usaha kecil naik kelas, membangun bisnis yang menumbuhkan green jobs dan memperkuat green economy, sekaligus mendorong generasi muda untuk berani berusaha.
Untuk generasi penerus, izinkan saya menitipkan satu pesan: jangan masuk politik karena uang. Bangun kemandirianmu terlebih dahulu. Masuklah ke politik ketika kamu sudah bebas dari kebutuhan, agar keputusanmu lahir dari keberanian dan nurani, bukan dari ketergantungan.
Karena politik seharusnya menjadi tempat mengabdi, bukan tempat mencari nafkah.
#2026isthenew2016
Bencana kita adalah bencana demokrasi. Orde Baru lahir kembali, seperti yang telah kita duga. GenZ harus tahu, ini baru permulaan, ketika aspirasi tidak punya kanal lagi untuk disalurkan.
Ya Allah naikanlah UMR seluruh kota di indonesia, Ya Allah lindungilah warga dr musibah UMR rendah. Karena pada dasarnya kerendahan harusnya sifat dan hati manusia bukan UMR nya.🙏🏻🧎♀️
PRESIDEN SAWIT |
TAK PERNAH JADI DANDIM
TAK PERNAH JADI DANREM
TAK PERNAH JADI PANGDAM
______________________________
Seorang yg tak pernah ditempa di jalur "kewilayahan", tak pernah "membaca" denyut nadi warga desa, tak pernah mencium aroma keringat rakyat kecil, lewat hidung Danramil & Babinsa.
Ia tak bersahabat dgn suara sungai di wilayah resor militer, pun ia tak pernah jadi Pangdam, shg ia tak pernah memahami peta wilayah sbg tubuh & ruang yg hidup.
Kewilayahan baginya hanya koordinat di PowerPoint.
Ketika ia datang di panggung krisis ekologis di Sumatera, ia spt tamu negara yg salah alamat, yg hanya membawa bekal naskah pidato, tapi lupa medan.
Bahkan, ia bicara wilayah spt turis bicara kampung, fasih istilah tp fakir pemahaman.
Lalu, yg muncul refleks kekuasaan, bukan kepekaan ruang.
Maka yg lahir berantakan;
• bencana diperlakukan sbg insiden, bukan luka lanskap, rakyat sbg objek bantuan, bukan subjek pemulihan, wilayah sbg peta administrasi, bukan jejaring hidup;
• hutan, deforestasi & korban bencana ekologis jadi sekedar statistik, ruang dan orang direduksi jadi angka, pun manusia jadi variabel.
Ia gagap struktural, di mana pengalaman komandonya terputus dari realitas tanah, sungai, & desa.
Kebijakan²nya pun kerap jatuh spt sepatu bot dalam lumpur, berat, bising, tp tak pernah benar² melangkah.
Namun,
BUKAN KARENA IA TIDAK PEDULI;
tapi krn sejak awal, ia dididik utk menguasai, bukan memahami.
____________
Sayangnya, "wilayah" tak pernah tunduk pd orang yg hanya kenal peta, tanpa pernah menjejak tanah.
.
.
@salam4jari 11 - 12 dengan yang sebelumnya, bahkan sedikit lebih jelek terkait kordinasi.... lebihnya dikit bisa bahasa inggris....
Lainnya sama-sama produk gagal...
Maaf... ini produk gagal demokrasi