@weekendbcbuku@ferry_kdg kalau dari pernyataan kakaknya benar, bisa dikatakan banyak yg salah paham dengan thread sebelumnya. entah sender memang menggiring opini atau murni tidak tahu. terima kasih sudah meluruskan kak. fitnah akhir zaman memang semenakutkan ini ya kak
@txtdarigajelas Sya amati yg kontra mbg bersal dri kalangan terpelajar, anak muda yg kritis, yg aware negara in emng betulan lg chaos bgt,, tp yg pro justru mon maap dri klngan manusia jamet, sdm rendah,dll apkah in slah satu penampakan 58% itu,,, kapan sadarr Coba ,, 😭😭
Buat yang masih nyinyir, pendekatan pengeluaran (expenditure approach) itu bukan akal2an BPS biar angkanya bagus, tapi memang Standar Emas (Gold Standard) dalam pengukuran kemiskinan dan kesejahteraan di negara berkembang.
Kalau mau dibedah secara akademis dan standar internasional, ini alasan kenapa BPS pakai metode pengeluaran:
1. Rekomendasi Resmi Bank Dunia (World Bank)
Bank Dunia secara eksplisit menyatakan bahwa untuk negara berkembang, data konsumsi/pengeluaran jauh lebih akurat daripada data pendapatan. Mengutip dari dokumen metodologi World Bank (Deaton & Zaidi, 2002 dalam "Guidelines for Constructing Consumption Aggregates for Welfare Analysis"):
di negara dengan sektor informal dan agrikultur yang masif, pendapatan sangat sulit diukur karena fluktuasinya ekstrim. Bulan ini panen dapat puluhan juta, tiga bulan ke depan nol. Kalau pakai data pendapatan bulan itu, orang ini bisa tercatat sangat kaya atau sangat miskin secara keliru.
2. Teori "Permanent Income Hypothesis" (Milton Friedman)
Dalam ilmu ekonomi makro, pemenang Nobel Milton Friedman mencetuskan bahwa konsumsi seseorang itu mencerminkan permanent income (pendapatan jangka panjang yang diekspektasikan), bukan pendapatan sesaat. Orang yang hari ini nganggur tapi punya tabungan 1 Miliar akan tetap makan enak (pengeluaran tinggi). Pengeluaran memotret daya beli riil dan standar hidup yang sebenarnya.
3. Karakteristik Pekerja Indonesia (Didominasi Sektor Informal)
Lebih dari 59% pekerja di Indonesia (data BPS 2023/2024) adalah pekerja informal (freelancer, pedagang kaki lima, buruh harian, petani). Mereka tidak punya slip gaji bulanan yang pasti. Menanyakan "berapa gaji Anda bulan ini?" ke pedagang pasar akan menghasilkan data yang sangat bias. Sebaliknya, menanyakan "sehari habis berapa untuk makan, listrik, dan bensin?" jauh lebih mudah dijawab dengan jujur dan akurat.
4. Bias Pelaporan Pendapatan (Underreporting)
Sudah jadi rahasia umum di ranah riset statistik bahwa responden cenderung berbohong saat ditanya pendapatan. Orang kaya cenderung understate (menurunkan nominal) karena takut urusan pajak atau pamer, sedangkan orang miskin rentan juga menutupi atau melebih-lebihkan karena gengsi atau berharap bantuan sosial. Sebaliknya, saat ditanya pengeluaran beras, telur, rokok, listrik, responden jauh lebih sulit untuk berbohong secara sistematis.
Jadi, mbak surveyor di foto itu sudah menjalankan SOP statistik internasional dengan benar. Jawaban 'saya makan dari tabungan' membuktikan bahwa kemampuannya bertahan hidup (survival & welfare) saat ini ditopang oleh akumulasi kekayaannya, yang hanya bisa diukur lewat seberapa besar pengeluarannya hari ini, bukan dari nol pendapatannya bulan ini.
Literasi statistik publik kita memang masih perlu banyak diedukasi.
Sumpah sakit hati dengernya, “emang gue pikirin” keluar dari mulut seorang presiden
Lebih sakit lagi disambut tepuk tangan yang meriah, dosa apa indonesia sampe punya presiden begini
I mean, kalo ga percaya pemerintah gapapa, tapi salahnya petugas sensus apa? Mereka kan cuma kerja sama kaya kita. Yang bikin kuisioner juga bukan petugasnya, mereka cuma deliver, tapi kok yang jadi samsak petugasnya? Kenapa ga langsung protes ke kepala BPSnya?
Petugas sensus itu mitra btw, mereka juga direkrut selama 2,5 bulan buat sensus ini doang. Mereka sama kek kita yang butuh duit buat survive, jangan jahat jahat ke masyarakat sendiri jugalah. Sama sama butuh makan kok.
@tanyarlfes ini bukan cuma karna kurang literasi, tapi lebih ke omongan orang yang tidak bertanggung jawab menyebarkan mis informasi, contohnya aja kemarin di X ada yang nyebarin pertanyan hoax dan dilebih lebihkan. Seperti menaykan harga rumah kalok di jual, kan aneh.
@txtharihariWNI No 1. Padahal bisa di cek ke BPN njir
No 2. Padahal bisa di cek di laporan SPT
No 3. Padahal bisa di cek di BPN atau yg tiap tahun narik pajak PBB
No 4. Emang ini perlu ditanyakan?
No 5. Tinggal cek di laporan pajak tahunan atau oss
No 6. Sama
No 7. Tinggal cek PLN
Dst what?
@txtharihariWNI Momen nya ga tepat
Ngelakuin sensus gini di saat masyarakat lagi kecewa ama pemerintah ya wasalam
Pasti banyak yg kontra & di perlakuan ga enak