Papua2050 (45): bagi yang menolak pemekaran wilayah Papua mungkin perlu juga mencoba berpikir abstrak dan memproyeksikan akan seperti apa wajah hasil pemekaran itu di tahun 2050 (atau sekitar 27 tahun yang akan datang).
Papua2050 (44): Selama tiga tahun (2018-2021), KKB Papua melakukan sebanyak 215 aksi.
Korban tewas: 27 TNI; 9 polisi dan 59 masyarakat sipil
Korban luka: 51 TNI; 16 Polisi dan 53 masyarakat sipil,.
(https://t.co/CGpwbhf9qo, 27-01-2022).
Pada 2050, tak ada lagi kayak gini
Papua2050 (43): Viktor Kaisiepo, at the Papuan Congress in Jayapura in May 2000, told the audience, "I dream not of the UN. I work there. The Decolonisation Committee of the UN has a list with seventeen regions eligible for independence. West Papua is not on that list.โ
Papua2050 (42): adanya atau asumsi adanya pelanggaran HAM di suatu negara TIDAK selalu berkorelasi positif dengan isu self-determination atau kemerdekaan suatu wilayah di negara tersebut.
Papua2050 (41): Status Papua ke depan adalah kombinasi empat variabel kunci:
1. Tuntutan merdeka oleh aktivis separatis.
2. Kondisi faktual di Papua.
3. Sikap pemerintah Indonesia.
4. Sikap PBB & beberapa negara kunci.
Mengabaikan urgensi salah satunya berarti tidak realistik.
Papua2050 (39):
Empat momentum historis Papua yang perlu dipelajari dengan kepala dingin:
1. Hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) 23 Agt - 02 Nop 1949.
2. New York Agreement 15 Agt 1962.
3. Hasil Act of Free Choice (PEPERA) Juli-Agt 1969.
4. Resolusi SU PBB (UNGA) 2504, 19 Nop 1969
Papua2050 (38): Persis 58 tahun usia "New York Agreement (NYA)" yang diteken pada 15 Agustus 1962 oleh Belanda-Indonesia yang difasilitasi oleh Amerika Serikat. NYA adalah penyerahan wilayah Papua oleh Belanda kepada Indonesia, yang direstui Amerika Serikat.
Seringkali kita sulit dan bias dalam membedakan antara keindahan dan birahi. Dan selalu, perspektif akan mempengaruhi sudut pandang dan bobot pandangan kita.
Papua2050 (37): Jika Otonomi Khusus (Otsus) jilid-2 untuk Papua dilaksanakan semata karena "alasan keadilan" untuk menebus kezaliman masa lalu, maka tidak ada alasan untuk menolaknya. Sebab "alasan keadilan" itu akan menegasikan semua alasan penolakan.
Papua2050 (36): pelaksanaan prinsip keadilan di dunia nyata, betapapun kecilnya dan terbatasnya, jauh lebih berharga dibanding wacana canggih tentang keadilan di dunia pikiran. Dan di balik setiap pembangkangan, selalu ada faktor ketidakadilan. Solusinya jelas: tegakkan keadilan!
Papua2050 (35): Dalam sejarah, kolonialisme (penguasaan wilayah) bersama kapitalisme (akumulasi modal) dan rasisme selalu menjadi trio-doktrin yang bergerak simultan dalam melayani greedy (keserakahan). Dan bangsa Eropa adalah mahagurunya.
Papua2050 (34)
Di tahun 2019, mereka berteriak: "Papua akan merdeka 2020".
Sekarang tahun 2020, berteriak lagi: "Papua akan merdeka 2021".
Nanti di tahun 2021, akan berteriak lagi: "Papua akan merdeka 2022".
Saya khawatir, mereka akan terus berteriak begitu sampai 2050.
Papua2050 (33): Otonomi khusus (Otsus) , secara jangka panjang, memang akan semakin mempersempit ruang gerak dan manuver kelompok pro merdeka di Papua. Itulah alasan utama kenapa muncul penolakan terhadap Otsus Tahap-2.
RANDU (read and understood).
Papua2050 (32): Menentang rasisme dengan anggapan bahwa anda-saya berbeda dengan yang lain adalah juga sikap rasis.
Karene menentang perbedaan dengan asumsi adanya perbedaan justru memperkuat perbedaan itu sendiri.
Ini logika, Kaka
Papua2050 (31): "Gerakan kemerdekaan" pada dasarnya adalah "gerakan kebudayaan" sebelum menjadi "gerakan politik".
Maka setiap gerakan politik tanpa dasar kebudayaan yang kuat akan pincang dan gampang kehilangan orientasi. Akibatnya, akan sulit meraih kemerdekaan.