Seorang anggota Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran menyatakan:
Trump telah menyatakan sebanyak 106 kali bahwa ia mengalahkan Iran, mengatakan 95 kali bahwa 'kami menghancurkan Iran,' mengklaim 88 kali bahwa kesepakatan dengan Iran akan segera tercapai, dan menyatakan 75 kali bahwa Selat Hormuz terbuka; jika selat itu terbuka, mengapa mereka kembali memicu 'perang 17 hari' di Hormuz? Lalu mengapa memaksa Iran untuk kembali ke meja perundingan untuk membuka selat Hormuz?
Disaat engkau sholat. engkau titipkan kepada Allah segala rahasia hatimu dan engkau serahkan seluruh hari-hari mu dan hidupmu.
Dan engkau berkata :
“Yaa Allah, jagalah aku, lalu engkau tidur”
Apakah rasa takut masih membayangimu dalam hidup ini . . ?!
☕️🌹
"Saya tidak mengetahui ada satu negara pun di kawasan ini, atau bahkan di seluruh dunia, yang lebih buruk daripada kerajaan Arab Saudi.
Arab Saudi itu otoriter, diktator, zalim, dependen (terikat pihak asing), dan korup.
Lalu mereka (AS/Barat) justru menyediakan fasilitas nuklir untuk pemerintah yang seperti ini. Mereka mengumumkan akan membangun pembangkit listrik nuklir dan pusat produksi rudal untuk Saudi.
Bagi mereka (pihak Barat), hal itu tidak masalah di sana, karena Saudi tunduk dan budak mereka. Jadi, tidak ada masalah bagi mereka untuk mengembangkannya.
Mereka mengumumkan hal ini sekarang, dan jika mereka benar-benar membangunnya, secara pribadi saya tidak merasa khawatir. Karena saya tahu, dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua itu insya Allah akan jatuh ke tangan para pejuang (mujahidin) Islam."
(Pekikan Takbir Hadhirin di Akhir Pidato): Allahu Akbar! Allahu Akbar!...)
2015: Koalisi pimpinan Saudi untuk menyerang Yaman
2026: Koalisi pimpinan Saudi untuk membela Arab Saudi dari Yaman
Israel Melakukan GENOSIDA Terhadap Saudara MUSLIM Mereka di Gaza, Tapi Tidak Ada Koalisi Pimpinan Saudi atau Tidak Ada Koalisi Negara-negara Islam Melawan Israel.
Ini Pengkhianatan dan Kemunafikan.
KENAPA IRAN GA SERANG HABIS-HABISAN AJA?
Ini jawaban buat ibuk-ibuk yang nanya ke saya: kenapa sih Iran kok menyerang Israel dan pangkalan militer AS habis-habisan aja biar cepet beres perangnya?
Harap maklum kalau ibuk-ibuk macam kami pada gemes. Ibuk-ibuk juga banyak lho, yang cerdas geopolitik dan mengikuti dengan intens perang Iran vs AS-Isr. Jawaban saya saat itu singkat aja, "Namanya strategi perang pasti ada perhitungannya, ga bisa ngikutin maunya kita para komentator."
Setelah baca-baca tulisan netizen, terutama akun @MenchOsint@cirnosad@DD_Geopolitics@Soureh_design2, saya rangkum di sini jawaban yang lebih detil.
Perang modern bukan soal membuat ledakan sebanyak-banyaknya. Yang dihancurkan bukan hanya gedung, tetapi kemampuan lawan untuk melihat, bergerak, mengisi bahan bakar, berkomunikasi, dan bertahan.
Misalnya, bila di kompleks pangkalan militer AS ada delapan bangunan dan Iran hanya menyerang satu, itu tidak selalu berarti serangannya lemah. Bisa jadi intelijen Iran mengetahui bahwa personel atau peralatan penting berada di bangunan tersebut. Menghancurkan tujuh bangunan kosong hanya membuang rudal.
Apalagi jika Iran memiliki sumber intelijen manusia di pangkalan itu. Menghancurkan seluruh kompleks justru bisa memutus sumber informasi. Sebaliknya, bila AS sadar pangkalannya telah ditembus intelijen Iran, pangkalan itu mungkin ditinggalkan tanpa Iran perlu meratakannya. Artinya: AS menyia-nyiakan jutaan/miliaran USD hanya dengan diserang secara terbatas oleh Iran; sebaliknya Iran menghemat amunisi.
Ini disebut "logika perang presisi."
Banyak orang mengira sasaran terpenting haruslah T3L Av. Padahal, sangat mungkin, secara militer, radar di Kuwait atau pusat data di Bahrain bisa jauh lebih penting daripada gedung simbolis di pusat kota Zion.
Contohnya adalah serangan terhadap fasilitas Amazon Web Services di Bahrain. Serangan ini mungkin terlihat seperti serangan terhadap perusahaan teknologi sipil. Namun, pusat data dalam kondisi perang menjadi ekosistem kontraktor pertahanan serta operasi yang bergantung pada jaringan digital.
Kalau kita cek target-target serangan Iran:
-Tower 22 menopang operasi AS di Al-Tanf, Suriah.
-Muwaffaq Salti Air Base menampung pesawat AS dan operasi koalisi.
-Erbil menopang intelijen dan operasi khusus.
-Bahrain menjadi markas Armada Kelima AS.
-Kuwait adalah pusat logistik dan penempatan pasukan.
-Al Udeid di Qatar menjadi markas depan CENTCOM dan pangkalan udara terbesar AS di kawasan.
-Aqaba penting sebagai pelabuhan dan jalur suplai.
Tempat-tempat ini bisa diibaratkan mata, telinga, dan tangki bahan bakar kekuatan AS di Timur Tengah. Karena itu, Iran tampaknya sedang menjalankan strategi bertahap:
-radar peringatan dini dihancurkan;
-pertahanan udara dan stok interceptor dikuras;
-hanggar, gudang bahan bakar, pusat komunikasi, serta fasilitas logistik diserang;
-pusat data dan infrastruktur digital ditekan;
-pangkalan depan dibuat terlalu berbahaya;
Serangan ke aset-aset AS di Yordania sangat penting karena inilah lapisan terakhir pelindung Israel (Yordania berbatasan dengan Israel; dan selama ini Yordania membantu menghalangi rudal-rudal Iran ke Israel).
Tujuan AS membangun jaringan pangkalan dan radar di negara-negara Arab adalah untuk menjadi "kubah" pelindung bagi Israel. Jadi, ketika radar di Kuwait, Bahrain, Qatar, atau Yordania dihancurkan, yang melemah bukan hanya pangkalan AS, tetapi juga sistem pertahanan berlapis Israel.
Belum lagi bicara soal menguras uang AS. Satu rudal Patriot bernilai jutaan dolar. Stoknya terbatas. Ketika serangan Iran tersebar, dari Tower 22, Al-Tanf, Muwaffaq Salti, Al Udeid, Bahrain, Kuwait, hingga Aqaba sekaligus, AS juga harus menyebar radar, kru, dan rudal pencegat ke banyak tempat. Bahkan rudal Iran yang berhasil dicegat sebenarnya juga menguras duit AS (dan negara-negara Arab, jika mereka juga ikut menembakkan rudal penangkis).
Jadi, ukuran kemenangan Iran bukan hanya berapa gedung yang hancur. Ukurannya adalah: berapa radar yang lumpuh, berapa interceptor yang habis, berapa jaringan komunikasi yang terganggu, berapa pangkalan yang ditinggalkan, berapa jauh pesawat AS harus mundur, dan berapa mahal setiap operasi berikutnya.
Sebaliknya, ketika AS menyerang gedung-gedung sipil di Iran, membunuh ratusan warga sipil, itu bukan tanda kemenangan dan kedigdayaan militer AS. Tindakan itu semakin meruntuhkan legitimasi dan citra AS selama ini (yang sok-sok demokrasi dan HAM).
Karena itu, “serang habis-habisan sekarang” belum tentu strategi terbaik. Resikonya bisa menghabiskan amunisi terlalu cepat. Apalagi kalau ada warga sipil tewas (Iran akan dituduh pelanggar HAM, anehnya AS dan Israel jarang dituduh serupa) bisa menyatukan negara-negara Teluk melawan Iran dan memberi AS alasan untuk memperluas perang.
Warga Gaza @dn_osama_rabee menulis:
Mereka membohongi Anda.
Saya tidak mengatakan Gaza kembali berdarah, karena sesungguhnya pendarahan itu tidak pernah berhenti selama tiga tahun terakhir. Yang terjadi sekarang adalah penderitaan Gaza telah mencapai titik paling kritis—di ambang antara hidup dan mati.
Seluruh kota itu seolah sedang mengembuskan napas terakhirnya, sedikit demi sedikit. Namun kepada dunia, mereka berusaha menampilkan seolah-olah Gaza sedang pulih. Di balik layar, penghancuran terus berlangsung.
Karena itu, kembalikan perhatian dunia kepada Gaza. Mungkin sorotan itu tidak langsung menghentikan perang, sebagaimana dulu juga tidak. Tetapi setidaknya dunia dapat melihat kejahatan yang sedang terjadi, tekanan publik bisa meningkat, dan kesadaran masyarakat tidak padam.
Jangan biarkan Gaza menghilang dari perhatian. Sebab, dilupakan adalah kemenangan yang tidak boleh diberikan kepada mereka yang bertanggung jawab atas tragedi ini.