Selesai pensiun jadi Presiden
Rata-rata Presiden lain terus mendirikan Yayasan Sosial, jadi Dosen di mancanegara, atau Ketua Organisasi Internasional, atau balik lagi ke Bisnis semula.
Lha ini pensiunan Presiden Wakanda malah jadi Gelandangan.
Sibuk keluyuran ngga keruan, cuma demi menyelamatkan diri dan anak-anaknya dari ancaman tuntutan kerangkeng.
Selama dan setelah menjabat, ngga ada urusan sedikitpun dengan kepentingan rakyat. Semua hanya demi kepentingan syahwat kekuasaan dan keruk harta ngga ada puasnya.
Naudzubillahi mindzalik.
Terharu mendengar pidato Prof. J. Soedradjad Djiwandono, Beliau mengisahkan perjalanan 30 tahun pengabdiannya di FEB UI, mengenang bimbingannya terhadap para mahasiswa, kontribusi akademis, hingga pengalamannya di pemerintahan. https://t.co/3K7k4BnvBU
@agungmozin@sahabatmenteri
Netizen yg baik... terimakasih yg sdh belanja lewat link affiliasi sy yaa... pesat juga ternyata progresnya... alhamdulillah... Jangan bosan baca tuit sy yg nge-lapak yaa... Belajar ilmu baru nich...
@GeiszChalifah Hahahaha artinya kita sama mengalami masa itu.... bedanya saya dirobek sama babe gara2 dia marah pulang sekolah hanya baca cerita berjilid-jilid dari kho ping ho...
@tvOneNews Hukum yg sangat baik sekali di selama republik ini ada .luar biasa keadilanya pembunuhan berencana dan di lakukan orang yg paham hukum dan sering bermain dengan hukum ..selamat Untuk MA ..2024 anda layak di ganti semua
Halo pak @ListyoSigitP, Giliran Rocky Gerung, proses penyidikannya maraton dan sat set disidang. Tapi giliran penyebaran berita bohong si Denny Siregar cs, kasusnya lemot dan ga jelas kabar. Apakah seperti ini model penegakan hukum di negara kita? Miris sungguh miris. Tebang pilih hukum di republik ini !!!
Dalam diunair aula ditutup , Rocky Gerung tidak diperkenankan masuk , padahal para mahasiswa/i telah menanti nya ...
Abuse of power bermain !
Demokrasi macam apa ini ?
(Sedang Merenung)
Kok menkes tega yah menghapus mandatory spending...dan malah memilih hutang untuk program kesehatan...
#BatalkanUUKesehatan#BatalkanUUKesehatan
Bullying di pendidikan spesialis?
Nggak bisa dibantah memang ada. Saksi banyak, korban juga ada, nggak usah ditutupi.
Tapi dari mana asalnya? Sebatas apa bullying, dan di mana batasnya dgn proses pendidikan?
Ok ini hasil renungan pribadi saya bertahun-tahun, my two cents.
Menkes Ngebully Dokter
Menteri Kesehatan (Menkes RI), Budi Gunadi Sadikin, mengaku terkejut dengan ulah para senior yang melakukan bullying (perundungan) kepada juniornya dalam program pendidikan dokter spesialis.ย Budi mengatakan, 'tradisi' toksik tersebut kerap terjadi pada pendidikan dokter umum, internship, dan dokter spesialis.
Dalam beberapa kasus, para calon dokter spesialis 'diperas' habis-habisan secara fisik, mental, hingga finansial oleh para senior. (CNBC, 21 Juli 2023).
Menanggapi tingginya kasus bullying di lingkungan RS pendidikan kedokteran spesialis, Budi menegaskan bahwa Kemenkes akan secara tegas memutus praktik yang telah terjadi selama puluhan tahun dan turun-menurun tersebut. Kemenkes seakan lupa bahwa permasalahan itu sebenarnya ada pada pemerintah sendiri, bagaikan menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.
Fatwa Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Nomor 044 Tahun 2022 telah jelas menunjukkan bagaimana sikap profesi terhadap perundungan.
Tersirat dan tersurat Menkes berupaya menyudutkan profesi dokter melalui opini buruk proses pendidikan kedokteran hingga kegagalan IDI mengelola profesi.
Asumsi ini untuk menguatkan perlunya UU Kesehatan disahkan. Begitu ngototnya Menkes cawe-cawe mengurusi hulu hingga hilir profesi dokter hingga beliau lupa mengatasi rapor Merah kementeriannya atau mungkin sebaliknya, upaya mengangkat topik bullying hanyalah cara menutupi buruknya kinerja Kemenkes.
Bullying atau perundungan merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.
Bullying sebenarnya isu universal, terjadi dimana-mana dalam berbagai konteks. Bahkan studi di Amerika Serikat yang dipublikasi JAMA, 13,6% Residen Penyakit Dalam mengakui telah mengalami intimidasi dalam proses pendidikannya, bukan untuk membandingkan atau menganggap tidak ada masalah namun menjadikan bullying sebagai topik bahasan pasca pengesahan UU Kesehatan layaknya Menkes menabuh genderang perang dengan profesi kedokteran, alih-alih ingin menguatkan posisinya dalam mengambil alih segala kewenangan dunia kedokteran Menkes justru โmelacurkan diriโ dengan mengulang kebohongan publik. Hal ini merupakan pelanggaran UU No. 1 tahun 1946 pasal 15.
Dalam pasal ini, kualifikasi konten kebohongan publik yang dapat dijerat adalah dengan cara menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau tidak lengkap, sedangkan ia mengerti dan mampu menduga bahwa kabar itu akan menerbitkan keonaran.
Selain melakukan kebohongan publik kerap kali tidak disadari perilaku bullying yang dilakukan Menkes dengan menghakimi orang lain secara berlebihan, melakukan represif terhadap pihak-pihak yang melawannya terutama ASN yang kontra terhadap UU Kesehatan Omnibuslaw, baik melalui peraturan atau larangan serta tekanan pada pejabat atasannya.
Hal ini tidak sesuai pernyataannya pasca pengesahan UU, "Didalam demokrasi ini saya sangat menerima perbedaan pendapat. Saya tidak ingin mundur balik. Yang beda pendapat itu wajar, sampaikanlah dengan cara sehat dan intelektual. Saya enggak akan menutup pintu, WhatsApp juga akan saya balas," kata Menkes Budi.
Kalau tidak ada yang salah dengan UU Kesehatan ini tentunya beliau tidak perlu menempuh segala cara untuk membungkam sikap kritis, bahkan media internasional yang sudah merelease berita dipaksa merubahnya. Menghalalkan segala cara sudah menjadi bagian strategi memuluskan pemufakatan jahat UU Kesehatan.
Apa yang dilakukan Menkes menggambarkan integritas yang rendah seorang pejabat publik, mencoreng arang di muka sendiri.
Pembunuhan karakter baik secara personal maupun kelompok (guru besar termakan hoax), berbagai narasi sesat dan politik belah bambu mestinya menjadi alasan kuat beliau untuk lebih mengurus moralnya lebih dahulu.
Atau karakter ini yang memang diperlukan oligarki melengkapi kezaliman berkedok melindungi kepentingan rakyat ?
Kebenaran akan selalu mencari jalan untuk mengungkapkan dirinya.
Agung Sapta Adi
Dokter Indonesia Bersatu (DIB)
@perkumpulan_DIB
#BatalkanUUKesehatan
#BatalkanUUKesehatan