★ - ̗̀⇢.˳⁺ EXO PLANET #6 - EXhOrizon in Jakarta ⁎˚ ✰
freebies by @00hyungnim
📍Indonesia Arena
🗓️ Day 1 (6 Juni 2026)
⏰ TBA
How to get :
♡ find me and say “Hii”👋🏻
♡ rt & like are appreciated🥰
♡ kindly tag me if you get😊
see you semuanyaa!! ・。ᐠ( ᐢ ᵕ ᐢ )ᐟ。・
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
sumpah lightshownya opera tu SELALU KEREN dr lighting stage sampe fanlightnya, ditambah lagi ini pake cape edan edan kalo liat lgsg mungkin gw cuma bisa bengong
BREAKING: Paus Leo KECAM HABIS-HABISAN pertemuan evangelikal pro-perang Trump di Oval Office! – “Perang bukanlah suci; hanya perdamaian yang suci!”
Paus Leo XIV, paus Amerika pertama, mengeluarkan kecaman keras dari Vatikan hari ini. Beliau langsung membantah para pemimpin Zionis Kristen yang berkumpul di Oval Office buat meletakkan tangan di Donald Trump dan “memberkati” perang ilegal melawan Iran.
Dalam seruan yang kuat, paus asal Chicago ini bilang: “Perang bukanlah suci; hanya perdamaian yang suci karena itu dikehendaki oleh Tuhan.”
Dia ulang kalimat itu berkali-kali biar makin ngena, dan nyebut konflik ini sebagai serangan yang “tidak bermoral”. Sudah ada korban jiwa tentara Amerika, warga sipil Iran (termasuk anak sekolah perempuan), dan ini berisiko bikin kawasan — bahkan dunia — masuk kekacauan lebih besar.
“Kalau dunia nggak peduli sama seruan ini, kami yakin Tuhan akan mendengar doa kami dan ratapan penderitaan yang begitu banyak orang,” kata Paus.
Beliau ajak pemimpin agama seluruh dunia ikut menyuarakan tuntutan perdamaian, kasih suara buat orang miskin yang nggak bisa bicara, para pengungsi, dan bumi yang hancur karena perang.
“Kita harus berani memilih perdamaian,” tegasnya. “Sudah cukup perang dengan tumpukan kematian yang menyedihkan, kehancuran, dan pengungsian massal.”
Paus bilang ini adalah krisis moral: pemerintah harus dengerin tangisan orang-orang yang menderita, bukan para fanatik yang nyucikan kekerasan pakai dalil agama.
Ini muncul pas tokoh-tokoh evangelikal (yang banyak terkait jaringan pendukung retorika “akhir zaman” Trump) berdoa di Oval Office sambil bilang serangan ke Iran itu kehendak Tuhan dan ramalan Alkitab. Kata-kata Paus langsung ngebantah narasi itu: nggak ada perang yang suci, apa pun bungkusnya.
Latar belakang Paus sebagai orang Amerika plus oposisinya yang konsisten ke kebijakan Trump bikin kritik ini makin berbobot. Sementara Trump cuek soal korban tentara (“begitulah adanya”) dan pejabat energinya ngaku ini perebutan minyak jangka panjang, Paus malah serukan de-eskalasi dan tantang dunia pilih perdamaian daripada pertumpahan darah.
Kalau bahkan Paus sudah bilang perang ini nggak bermoral dan pemberkatan itu salah arah, maka kekosongan moral dari sikap perang MAGA jadi kelihatan banget.