One time pas lagi rebahan tiba-tiba udah ada niat beres-beres, terus pas bangun tetiba banget random ngitung halaman buku😩😂 setelah itu malah rebahan lagi😭🤣🤣 apapun akan dilakukan kecuali beres-beres 😋🤣🤣
¡PAU CUBARSÍ ENTENDIÓ TODO! 👏❤️
Justo después del silbatazo final que clasificó a España a la final de la Copa del Mundo, Pau Cubarsí no fue a celebrar de inmediato con todos sus compañeros.
El defensor español caminó directamente hacia Désiré Doué, quien estaba completamente destrozado por la eliminación de Francia. Lo abrazó, le dedicó unas palabras de aliento y le recordó que, por encima de cualquier rivalidad, siempre está el respeto.
En el momento más feliz de su carrera, eligió acompañar a un rival que estaba viviendo uno de los más duros. Ese gesto vale tanto como cualquier victoria.
Con apenas 19 años, Pau Cubarsí dio una lección de deportividad, empatía y grandeza.
TIENES NUESTRO RESPETO, CUBARSÍ 🇪🇸🤝🇫🇷
Hih tau tau ada bilang yang stenga nanti diantar besok, bilang lagi "kalo so tidak mau ba jual ba bilang", "kalo so tidak mau mo dibeli ba bilang", sabar ji tanteeeeee, nanti diantar besok Ya Allah astaghfirullah, tidak mau ko masak satu kali kan juga itu 12 literrrr?????
🚨🇪🇬 Las declaraciones del futbolista egipcio Zico le están dando la vuelta al mundo. Por fin alguien se atreve a denunciar lo que muchos consideran un arbitraje escandaloso.
“El árbitro fue injusto, es una opresión clara y evidente. Desperdició el esfuerzo de todo un país; desde el inicio estuvo en nuestra contra.
Es un PARTIDO AMAÑADO. Dios es mi juez y mi mejor defensor.
Disculpas a todo el pueblo de Egipto. No supimos cómo hacerlo… pero por la mano del árbitro.
El campeonato está amañado. Felicitaciones a Argentina por otra Copa del Mundo.”
Ojalá las demás selecciones que han sido acuchilladas en partidos contra Argentina, también alcen la voz. El futbol necesita transparencia y credibilidad.
Ada mimpi yang dikejar orang demi trofi. Ada juga mimpi yang sesederhana.
"Ibu saya bisa melihat saya bermain di Piala Dunia."
Itulah mimpi Vozinha. Bukan menjadi juara dunia. Bukan menjadi kiper terbaik turnamen. Hanya ingin ibunya melihat semua perjuangan yang dia jalani selama puluhan tahun akhirnya membawanya ke panggung terbesar sepak bola.
Dan pagi ini, bukan hanya sang ibu yang melihatnya. Seluruh dunia ikut menjadi saksi.
Cape Verde memang kalah 3-2 dari Argentina setelah perpanjangan waktu. Mereka tersingkir. Tapi rasanya, hasil akhir tidak pernah benar-benar bisa menceritakan pertandingan ini. Selama lebih dari 120 menit, sebuah negara kecil memaksa juara bertahan dunia bertarung sampai titik terakhir.
Di bawah mistar, Vozinha berdiri seperti yang sudah dia lakukan sepanjang turnamen ini. Menghalau demi menghalau, menolak menyerah, seolah ingin memperpanjang mimpi negaranya beberapa menit lagi.
Di usia 40 tahun, dia tidak sedang mengejar ketenaran. Dia hanya sedang menikmati setiap detik yang mungkin menjadi Piala Dunia terakhirnya. Dan justru karena itu, setiap penyelamatannya terasa begitu berarti.
Mungkin beberapa tahun lagi orang akan lupa skor Argentina melawan Cape Verde. Tapi saya yakin, banyak yang masih akan mengingat bagaimana sebuah negara kecil membuat salah satu tim terbaik di dunia harus berjuang hingga perpanjangan waktu. Dan di depan gawang, ada seorang pria bernama Vozinha yang menjaga harapan itu sampai detik terakhir.
Tidak semua mimpi berakhir dengan mengangkat piala. Kadang, mimpi itu berakhir dengan sesuatu yang tidak kalah indah: pulang dengan kepala tegak, lalu disambut rasa hormat dari orang-orang yang menyaksikaan perjuanganmu.
Dan saya rasa...
Untuk seorang anak dari Cape Verde yang dulu hanya ingin ibunya melihatnya bermain di Piala Dunia...
Itu adalah akhir yang layak dikenang.
❤️🇨🇻 ¡¡NO PERDISTE NADA, CABO VERDE… TE GANASTE EL RESPETO DEL MUNDO ENTERO!!
El pitazo final los encontró de rodillas, entre lágrimas y con el corazón roto. Sabían que habían estado a un paso de lograr el milagro. Cayeron 3-2 en la prórroga ante la tricampeona del mundo, pero se marcharon con la frente en alto y el orgullo de haber protagonizado una de las historias más inolvidables de esta Copa del Mundo.
Era su PRIMER MUNDIAL. Muchos los daban por eliminados antes de empezar. Sin embargo, una selección valorada en apenas 60 millones de dólares llevó al límite a una Argentina que supera los 1.000 millones en valor de mercado. La obligó a jugar tiempos extra, la encerró por momentos en su propia área y estuvo a centímetros de firmar una de las mayores hazañas que se recuerden en la historia de los Mundiales.
Un país de apenas 500.000 habitantes hizo temblar a uno de los gigantes del fútbol. Vozinha, con 40 años, firmó una actuación legendaria. Sus compañeros corrieron cada pelota como si fuera la última de sus vidas. Nunca jugaron con miedo. Jugaron con convicción, con orgullo y con el corazón.
No levantarán la Copa del Mundo, pero consiguieron algo que muy pocos logran: conquistar la admiración de millones de personas. Hoy, Cabo Verde dejó de ser una selección desconocida para convertirse en el equipo que enamoró al planeta con su entrega, su valentía y su fe.
El fútbol no siempre recompensa con títulos. A veces recompensa con algo todavía más grande: el respeto eterno.
👏❤️ GRACIAS POR HACERNOS CREER, CABO VERDE. EL MUNDO ENTERO TE APLAUDE. 🇨🇻
KROASIA DALAM 3 PIALA DUNIA TERAKHIR:
2018: RUNNER UP
2022: 3RD PLACE
2026: 32 BESAR ❌️
SAATNYA REBOISASI KROASIA!!!
THANKS FOR THE MEMORIES PARA LEGEND 🇭🇷
LUKA MODRIC 40th
IVAN PERISIC 37th
ANDREJ KRAMARIC 35th
ANTE BUDIMIR 34th
Luka Modrić (40) @lukamodric10 International Stats
🇭🇷
Caps: 202
⚽ Goal: 28
🎯 Assist: 32
🎖️ Kapten sejak 2016
🗓️ Debut senior 1 March 2006 vs Argentina
FIFA World Cup:
🥈 Runner-up (2018)
🥉 Third place (2022)
🏆 Ballon D'Or (2018)
• Pemain dengan caps terbanyak sepanjang sejarah Kroasia.
• Salah satu dari segelintir pemain yang mencapai 200+ penampilan internasional
• Di Piala Dunia 2026, menjadi pemain tertua yang mencatatkan assist dalam sejarah Piala Dunia.
Sebuah karier yang akan dikenang selamanya 🫡
Croatian Golden generation Officially close!
Piala Dunia akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada Luka Modrić. 💔🇭🇷
Perjalanan terakhir sang maestro berakhir dengan cara yang begitu kejam: kebobolan di menit-menit akhir dan melihat gol penyeimbang Kroasia dianulir oleh VAR.
Ia memang tak pernah mengangkat trofi terbesar di sepak bola, tetapi warisannya akan hidup selamanya. Membawa Kroasia ke final Piala Dunia 2018 dan kembali menembus empat besar pada 2022 adalah bukti kebesaran seorang Luka Modrić.
Terima kasih untuk setiap momen magis yang telah kau berikan.
Piala Dunia tidak akan pernah terasa sama tanpamu. 🇭🇷❤️
#FIFAWorldCup