Dan selama kita hanya berduka tanpa berbenah, tragedi ini akan terus berulang dengan nama anak yang berbeda, di daerah yang berbeda, dengan alasan yang sama: negara terlambat hadir.
Pagi yang terlalu dingin, 4 Februari 2026.
Surat buat Anakku, Jenaka.
Ka, ada anak yang meninggal karena pena dan buku. Kalimat itu seharusnya mustahil ada di negara mana pun yang mengaku merdeka, berdaulat, dan menjunjung pendidikan sebagai hak dasar. Namun ia nyata. Terjadi. Dan menampar kita semua.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi orang tua, guru, atau tetangga. Ini adalah pengingat keras bahwa kegagalan negara selalu paling dulu dirasakan oleh yang paling kecil, paling miskin, dan paling tak bersuara.
Saya, Djuli Pamungkas membagikan sebuah foto cerita bertajuk "Fotografi: Jalan Sunyi Menyelami Toleransi" untuk mendukung kampanye (Promosi Tren Toleransi) yang digagas oleh @jakatarub_bdg menuju @bdglautandamai π
https://t.co/MSnTjVNqNz