Bedanya program bener dan enggak: liat kalau dicabut, yang protes yang nerima manfaat.
***
Kalau BPJS dihentikan yang protes rakyat yang berobat
Kalau KIPK dihentikan yang protes mahasiswa penerima
Kalau Subsidi BBM dikurangi yang protes rakyat kecil
***
Kalau MBG dihentikan, yang protes siswa dan ortunya?
Nggak. Bukan.
Yang protes pegawai SPPG.
***
Jadi siapa penerima manfaat MBG?
Respons BEM UI soal Tuduhan Demo Dibayar 200rb:
- Prabowo bilang tahu siapa yang bayar tapi tidak mau sebut nama.
- Untuk apa ngomong kalau tidak berani buktikan?
- Yang terbukti dibayar justru pro-MBG Rp100.000, wajan gratis, logistik
- bahkan aparat kita ikut ikutan saat demo pro MBG
- Tuduhan demo dibayar = Prabowo menghina pemilihnya sendiri
- Demo 12 Juni: 4.150 TNI/Polri vs 1.000 mahasiswa ini demokrasi atau intimidasi?
Bahlil soal Pertamax yang naik 32%:
"Pakai mobil Mercy, nongkrong di mal, minta BBM-nya disubsidi. Malu dikitlah."
Surya, ojol Semarang, juga pakai Pertamax.
Bukan karena gaya-gayaan. Motor injeksinya berkerak kalau diisi Pertalite, dia sudah coba 2 bulan. Sekarang kerja 7 jam sehari buat nutup selisih harga.
Agung, ojol Medan, mau pindah ke Pertalite tapi was-was sama mesin.
Nasi di warung langganannya naik dari Rp10.000 ke Rp12.000. Dia juga nambah jam.
Dua-duanya bukan pemilik Mercy, Pak Menteri.
Kalimat "malu dikitlah" itu terdengar gagah dari podium INDEF. Terasa berbeda dari balik stir motor ojol jam 7 pagi.
Mercedesnya di mana?
Cobalah simak talkshow-talkshow politik di media saat ini. Ada yang aneh nggak? Ya, para mahasiswa, perwakilan masyarakat, justru berdebat melawan anggota legislatif yang notabene merupakan wakil rakyat. Jadi, para mahasiswa dan perwakilan rakyat itu berdebat di ruang publik melawan wakilnya sendiri.
Benar kata Fatimah Az Zahra, wakil ketua BEM UI. Parlemen seperti kosong, meski Senayan penuh. Alih-alih mewakili rakyat, legislatif yang semestinya mengontrol pemerintah, banyak yang justru menjadi jubir dan perpanjangan para eksekutif.
Ya nggak semua mungkin, ya. Masih ada aleg-aleg yang pro rakyat (semoga). Kalau ada aleg yang membaca status ini, coba tanya jujur di benak Anda: Anda mewakili siapa saat ini?
Ternyata selama ini salah sangka, kirain informasi ga ada yg sampe ke presiden. TERNYATA SAMPE beliau emang jahat aja ga peduli
.
Fatimah : “ada yg lebih genting dr pd mengisi perut lapar”
.
—Satu hari setelahnya—
.
Prabowo : “ada org pinter bilang ada yg lebih genting dr mengisi perut lapar, saya rasa ga ada !”
‼️ Emang Gue pikirin.. ‼️
pendidikan itu public goods ya mentemen. kalo ada yg ngamuk biaya pendidikan mahal responsnya jangan "ya brarti targetnya bukan elo". GAK BEGITU YA. udah KEWAJIBAN pemerintah menyediakan aksesibilitas pendidikan buat seluruh LAPISAN MASYARAKATNYA, TANPA TERKECUALI.
Walau gue tahu Prabowo tuh goblok banget. Tetap aja gue heran setiap kali diksi yg keluar dari mulut dia kek orang ga pernah sekolah. Diksi dia tuh MINUS dan DANGKAL banget wkwkwkwkkwwwkkwkw kek beneran bukan orang terdidik, sering banget make low-level vocabulary anjinggg😭😭😭
Argumen Ahli hukum tatanegara dari DPR, Oce Madril selaku dosen dari UGM mudah dipatahkan oleh kuasa hukum dari Koalisi Selamatkan Pendidikan Indonesia (KOSPI), Daniel Winarta, dengan pertanyaan telak:
Jika MBG dimasukan dalam 20% Anggaran Pendidikan, dengan dalil penambahan gizi dari aspek kesehatan, lantas mengapa pil penambah darah untuk siswi serta imunisasi siswa-siswi di sekolah selama ini menggunakan anggaran kesehatan?
Dia gak bisa jawab 👊
Saya baru disensus BPS, pantas saja banyak yg meragukan akurasi datanya. Iseng sy jawab : saya ga berpenghasilan, saya makan tabungan
Si mba survei ternyata tidak punya kolom isian untuk jawaban semacam itu, jadi dia tanya : sehari hari pengeluaran habis berapa? Ternyata itu diakui sebagai sumber pendapatan. Dia tidak peduli ternyata pengeluaran kita itu dari hutang atau jual-jual aset.
Ya pantas saja diatas kertas ekonomi kita terus naik kalau cara pencatatanya begitu
cc : ige_pranata
LUHUT: perencanaan program MBG kurang matang, ini kesalahan KITA SEMUA
Gunakan kata “KAMI” bukan “KITA”
Ini salah kalian, Prabowo Gibran dan pemerintahan, bukan salah rakyat, jadi gunakan kata “kami”
sebuah perbedaan cara berpikir antara generasi muda dan tua, gen tua mikirnya "yang deket aja tetep ditangkap, ini bukti komitmen" yang muda mikirnya "lah yang deket aja berani korupsi, gimana yang jauh, makanya benerin sistemnya"