I try to keep in touch with my friends tapi capek juga kalo terasa one-sided begini. Makes me questioning if I'm a good friend or not. Or what if... if they are the ones who actually want to stop being in touch with me? I mean i'm not exactly a green-flag friend either 😵💫
Btw jadi mikir deh kalo misalnya aku stop reaching out gimana ya. I've been thinking about this for a while: what if I change my phone number and all my socials except my business ones of course and then just... disappear. I wonder if anyone realizes.
(controversial) wedding prep budgeting tip yang aku terapin 🤨👀
1. Ga ngundang temen yang udah ga chat/in touch 6 bulan terakhir
2. Ga pake bridesmaid kalau merasa belum bisa provide kebutuhannya (book hotel, mua, beliin seragam dll)
3. Akad jam 10 pagi dan selesai sebelum dhuhur
4. Ga pakai entertainment, proses adat, dan no resepsi
itu lah kenapa ketika ingin menekuni visual arts sy rekomendasikan baca baca sejarah seni rupa asia dan sejarah seni rupa barat (but then again kita tinggal di indonesia)
Kelak untuk tetap bisa bekerja, orang orang ini harus terus memenangkan Prabowo-Gibram ditahun 2029
Lalu demi mereka & pekerjaan mereka. Sekolah, taman baca masyarakat, TK, PAUD dan fasilitas publik lainnya milik desa harus dirobohkan.
Analisis media sosial dari Monash University Indonesia menemukan pola terorganisir dan hampir mustahil dilakukan secara manual terkait beredarnya kembali video-video demonstrasi mahasiswa. https://t.co/MUazB1Z40k
And then they cry because they can't get pussy to fuck because the burning acid flowing through our vagina causes them pain. Para pejantan ini pun berevolusi. Mpreg pun tercipta. Amen.
@fujikaize wow ini bener banget. mereka bisa makan lebih dari nasi dengan lauk lengkap sedangkan yg ngasih makan harus nahan lapar biar bisa ngasih mereka. tp mereka ga tau malu malah pamer makanannya
bro, tau ga alasan kenapa mereka2 ini kalau post selalu dihujat?
karena mereka makan di depan orang2 lapar dengan nasi yg dikumpulkan dari mereka yg kelaparan 🙂
AKU MAU NGEBACA RESPON ORANG-ORANG DEGDEGAN padahal perasaan nada twitku udah kasual tapi ada aja yang ngegoblok-goblokin dan ngetolol-tololin 😐 Direct your anger ke Prabowo instead not to me I'm just a mere human with little legs 😭
Yang bikin aku penasaran, apa ada ya yg relijius terus ngorek2 beginian dan semakin relijius? Karena kalo aku pribadi ya akhirnya jadi nganggap kalo agama itu buatan manusia. Kalo misal jadi makin relijius dan semakin percaya Tuhan, itu proses mikirnya gimana?
1. Enki Ninhursag > Adam Hawa
2. Epos Gilgamesh & Atrahasis > Nabi Nuh
3. Sargon dari Akad > Bayi Musa di Sungai Nil
4. Ziggurat Mesopotamia > Menara Babel
5. Kode Hamurabi > Inspo Hukum Taurat
Abrahamik ni hobi ngedit cerita apa gimana, namanya juga dongeng 😄
Baru liat banyak bener QRT-nya tapi yg masuk ke notif cuma 4-5 respon aja 😐 Btw ini nanya genuine ya, ga ada maksud mencemooh atau merendahkan, terlepas sentimen OP yg ku-QRT itu kayak gimana.
Lo baca lanjutannya deh. Di situ dia jelas menulis bahwa itu faskes rujukan satu-satunya yang punya alat untuk kondisi medis dia. Baca tuh yang lengkap, cek profile dia gitu lho. Dia mau pindah ke mana lagi? Lo baca tidak bahwa dia disuruh pindah ke kamar mayat dan alam lain?
Dari bahasa yang dia gunakan dia cuma menulis dua kalimat.
Kalimat pertama "Delapan jam belum dapat ruangan." Ini sebuah fakta. Ini kenyataan yang dia hadapi.
"Ga mau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," ini dia namanya sadar diri. Dia tau dia membutuhkan jasa RS (lewat program BPJS) tersebut sehingga besar kemungkinan bahwa dia tidak ingin nama RS tersebut jelek.
Opini apa yang digiring di sini? Bahwa dia delapan jam tidak dapat ruangan? Bahwa dia tidak spill nama RSnya? Bahwa dia menggunakan BPJS?
Pun dia tidak sekalipun menyinggung tenaga medis dan kesehatan. Nakes dan named di Threads aja yang baper dan julidnya kebangetan. They can go fuck themselves.
Beda pandangan ya boleh aja, but make it make sense.
Self-talk di cermin itu high-stakes political suicide. Kontak mata langsung sama bayangan sendiri. Immediate self-audit yg bikin existential crisis, karena lo fully aware kalau lo lagi defaulting tanpa modal legitimasi apa pun buat nge-claim self-validation.
Duta Sheila On 7 kasih insight menarik soal kenapa mereka lebih milih radio ketimbang podcast.
Katanya, radio itu diawasi KPI, jadi obrolan bisa tetap dalam, tapi tetap ada batasan yang bikin nyaman didengar semua umur.
Sementara podcast? "Yang nonton lebih enggak bisa dikontrol, semua umur nonton," kata Duta.
Padahal bahasanya sering enggak cocok buat semua kalangan.
Jujur, ini pandangan yang jarang dilihat dari sudut kreator konten.
Biasanya diskusi soal radio vs podcast fokus ke soal jangkauan atau tren doang.
Duta malah angkat soal tanggung jawab moral ke penonton lintas usia.
Di tengah maraknya podcast yang kadang lepas kontrol soal bahasa dan konten, sikap kayak gini justru refreshing.
Bukti kalau nyaman itu enggak harus soal ramai-ramaian doang. 🙏