Spending Bahagia vs Spending Pamer
Tidak semua pengeluaran memberi kebahagiaan. Ada yang benar-benar membuat hidup lebih baik, ada juga yang hanya untuk terlihat keren di mata orang lain. Sayangnya, banyak orang terjebak pada pengeluaran kedua.
Spending bahagia adalah pengeluaran yang memberi nilai jangka panjang. Misalnya, pendidikan, kesehatan, pengalaman, atau waktu bersama keluarga. Sementara spending pamer lebih fokus pada persepsi orang lain—barang mahal, gaya hidup tinggi, atau simbol status.
Masalahnya, spending pamer jarang memberi kepuasan lama. Setelah euforia hilang, muncul keinginan baru. Siklus ini membuat keuangan terkuras tanpa benar-benar meningkatkan kualitas hidup.
Sebaliknya, spending yang tepat memberi dampak yang lebih dalam. Anda merasa lebih puas, lebih tenang, dan tidak terus-menerus mengejar validasi.
Kuncinya adalah kejujuran. Apakah Anda membeli karena benar-benar ingin, atau karena ingin terlihat sukses?
Evaluasi 3 pengeluaran terakhir Anda. Apakah itu memberi kebahagiaan atau sekadar pamer?
Semua diulas dengan lengkap dan praktikal pada buku The Art of Spending (edisi Bahasa Indonesia). Dapatkan buku The Art of Spending yang super amazing disini ya gaes : https://t.co/m2LYQ2Uod7
Kalimat yg benar maybe : orang tua yg mampu membelikan stroller seharga Rp 23 juta kemungkinan besar akan bisa membawa anaknya sampai ke puncak karir 😊
Faktanya beragam studi menujukkan status sosial ekonomi orang tua benar2 menentukan masa depan sang anak. Saat Anda dilahirkan dari leluarga yg mapan, maka kemungkinan besar Anda akan sukses di masa depan.
Sebaliknya, jika Anda lahir dari low income family, maka perjuangan Anda untuk berhasil akan jauh lebih sulit.
Logikanya sederhana. Saat orang tua punya daya beli yg kuat (bahkan untuk membeli stroller seharga jutaan), maka mereka pasti akan bisa memberikan aneka makanan dengan gizi memadai dan mampu menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan yg juga premium.
Mereka jg akan mampu membiayai aneka les, membelikan buku-buku bagus, dan membiayai beragam fasilitas yg dibutuhkan sang anak.
Semua itu dalam jangka panjang pasti akan berdampak pada sukses anak di masa depan.
Sebaliknya, anak-anak dari low income family, akan jauh lebih sulit untuk mendapatkan aneka privilige spt di atas. Makan seadanya. Sekolahnya juga berkualitas medioker. Boro-boro ikut aneka les dan beli buku, bayar SPP saja sering nunggak.
Dalam jangka, anak yang lahir dari low income family akan punya peluang lebih rendah untuk bisa menjemput impiannya.
Study dari Georgetown University bahkan pernah menemukan faktak kelam : anak bodoh dari keluarga kaya akan cenderung lebih sukses daripada anak pintar dari keluarga miskin.
Yang lebih muram dan lebih sering terjadi adalah : sudah nggak pandai, dan kemudian lahir dari low income family. Otomatis Madesu. Masa depannya suram.
Study dari ekonom Raj Chetty (Profesir ekonomi Standord) juga menunjukkan hal yg sama : status sosial ekonomi orang tua amat sangat menentukan sukses sang anak.
Dengan temuan ini, maka sejatinya sukses seorang anak relatif mudah ditebak. Yakni seberapa mapan orang tuanya. Atau dari level sosial ekonomi seperti apa sang anak lahir.
Apakah ibunya sanggup membelikan stroller seharga jutaan? Atau hanya bisa beli stroller bekas di pasar Klender? Atau bahkan hanya bisa pinjam dari saudara, karena sama sekali tak punya uang sisa untuk membeli “kemewahan” ini?
Selamat, Anda lulus SMA di umur 18 tahun!
Jangan lupa:
1) Tes masuk PTN maksimum 2 tahun setelah lulus SMA, jadi 20 tahun maksimum,
2) Lowongan kerja buat freshgrad lulusan S1 maksimum 25 tahun,
3) Beasiswa buat sekolah lanjut S2 maksimum 30 tahun,
4) Beasiswa buat sekolah S3 maksimum 35 tahun,
5) Kalau masuk kedokteran, buat lanjut sekolah spesialis, maksimum 35 tahun,
6) CPNS maksimum usia 40 tahun.
7) PPPK maksimum 35 tahun.
Jadi jangan sampai sakit, kerja, patah hati, atau berduka kelamaan.
Jangan.
guys, menurut keyakinan gua..
ketika seseorang tau cara menjadi kaya, tau cara cepat menjadi kaya, tau cara menggandakan uanh, tau cara cepat sukses..
logika sederhananya, ngapain dia share?
kalo sharing ke keluarga atau ke kerabat dekat, oke lah
tapi, kalo ujung2 ny jualan kelas, ya sebenarnya kekayaan dia itu dari kalian juga, dia cuma manfaatin ‘kelemahan psikologis’ kalian aja
make sense ya..
Dari keramaian timeline akhir-akhir ini ngasih reminder buat jangan terburu-buru memberikan aksi pada emosi yang sedang dirasakan. Dorongan emosi yang dominan lebih sering berdampak buruk.
Semakin sadar bahwa ketrampilan meregulasi emosi itu sangat penting.
Realitas pahit yg acap kita hadapi: biaya hidup makin mahal, sementara kebutuhan datang tanpa menunggu kita siap.
Kadang ada pengeluaran mendadak yang benar-benar diluar kendali.
Suka engga suka shalat berjamaah itu secara engga langsung melatih diri bahwa “lu itu bukan pusat dunia”
Shaf lurus, status sosial hilang, semua gerak seragam, bahkan termasuk sunnah menjenguk tetangga yang biasa bejamaah tapi saban hari absen ikut
Alias anti-ego-individualism
@tanyakanrl Gue berak paling lama 5 menit
Average 3 menit 10 detik
Kok bisa cepet?
Karena lancar.
Temen2 gue yg rutin olahraga utamanya lari, beraknya juga average 3-5 menit.
Justru lo yg lama2 kenapa?
Kurang fiber kah?
@Strategi_Bisnis Consumer Uncertainty Theory
Konsumen enggan beli barang baru kalau masa depan produknya tidak pasti.
Harga turun terus → muncul wait-and-see behavior → penjualan justru stagnan meski harga murah.
Inilah paradoks pasar yang terlalu kompetitif.