Momen haru menyelimuti ketika seorang kurir mengantarkan paket berisi mainan yang dipesan seorang ayah untuk anaknya. Mainan tersebut dibeli sebagai bentuk kasih sayang sekaligus penyemangat, agar sang anak tetap kuat menghadapi sakit dan segera pulih.
Namun kenyataan berkata lain. Saat paket itu tiba, sang anak telah lebih dulu berpulang.
Sebuah kisah yang menyentuh, tentang harapan, cinta, dan kehilangan yang datang terlalu cepat. Rubicnews
Etika Berkendara: Antara Ego dan Keselamatan.
Video ini menjadi potret nyata rendahnya kesadaran akan keselamatan dan etika di jalan raya. Kejadian ini menyoroti tiga kesalahan fatal yang dilakukan pengendara tersebut.
Bara dan abu rokok yang tertiup angin sangat berbahaya bagi pengendara lain, terutama jika mengenai mata. Selain melanggar hukum, ini adalah bentuk ketidakpedulian terhadap sesama pengguna jalan.
Membawa Bayi Tanpa Perlindungan Layak: Membonceng bayi di motor sudah memiliki risiko tinggi, apalagi jika dilakukan sambil merokok. Asap rokok sangat beracun bagi paru-paru anak yang masih berkembang.
Alih-alih meminta maaf saat ditegur, pengendara ini justru menunjukkan sikap galak dan defensif. Ini mencerminkan rendahnya kematangan emosional dan kurangnya pemahaman akan aturan yang berlaku.
Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi kebiasaan buruk seperti ini. Menegur adalah bentuk kepedulian, dan menerima teguran adalah langkah awal menjadi manusia yang lebih beradab. Jangan biarkan ego di jalan raya membahayakan nyawa orang-orang tersayang.
Artikel. https://t.co/iqBqWMHR7y
@Kakarianzi@adityawirmandi Aku iki contoh’e pak, jarak tempuh sakmene akehne iku akun strava ku tak joki’no. Ben kitok sangar ngunu nek dipamerno nang sosial media. Tapi nek ono seng nantang long run panggah tak layani. PEEEEEEEEHHHHH NYEEEENNIIIII WOOOOOKKK👌
Pas tahlil nang umahne dona tonggo” podo takok: awakmu kok bendino mlayu Rol? Iyo ben ga keliling kampung gawe sarung karo nyekel rokok. 👌
Isok ngguyu kabeh. Hahahahahah