Sanyatanipun ing dinten punika, setya piyambak boten cekap, kawigatosan dipunanggep klentu, kawontenan arta kedah dipunperjuangaken, lan pambagyan ginem kedah dipunsaeni
Tidak ada yang menangis sedih, tidak ada yang tertegur lemah, bebarapa tersenyum. Karena warisan? Benar. Diwariskan kesederhanaan, keteguhan, ikhlas. Bukan hanya karena warisan tersebut kami sedikit tersenyum, tapi karena beliau sudah sembuh.
Kakak beradik sampai usia senja. Tuhan telah mempertemukan mereka kembali di tempat yang lebih layak dan tenang. Yang satu berpulang untuk kedamaian dan yang lain menyusul untuk kesembuhan. Sangat kental di ingatan semasa kecilku kami naik becak bertiga ke Gereja tiap minggu.
Tidak bisa berhenti bergerak. Aku lahir ketika usia mbag Barjo sudah senja dimana seharusnya mbah duduk manis menikmati masa istirahatnya. Tapi tidak demikian, mbah selalu berkegiatan untuk menggerakan sendi seperti ke sawah, mencari pakan ternak, dan membantu menyiapkan kenduri.
27 tahun dididik secara tidak langsung oleh seorang laki laki, sahabat, paman. Tegas, lugas, vokal, bijak, berpendirian. Orang kedua yang akan aku pilih sebagai sosok bapak. Tidak sempurna tapi terasa seperti rumah. Yustinus Gati Prasetyo.
Tapi tidak selamanya Tuhan memiliki rencana seperti yang kita inginkan. 27 tahun yang lalu om Gati hadir di kelahiranku, tapi 3 hari yang lalu aku tidak ada ketika om Gati akhirnya menyerah akan penyakitnya. 23 Januari 2026 om Gati terbaring di pusara.