Jujur ngeri sih ini๐ฅฒ๐
Pertalite abis dimana-mana
Mall- Mall besar pada bikin pagar tinggi
Harga sembako naik lagi
PHK dimana-mana, banyak layoff
Polri vs Kejagung tiba2 selesai
Pejabat2 pada masukin keluarga jadi komisaris
Langsung ke intinya aja, jadi tanggal berapa sih?
Harus gimana menyikapi situasi ini?
๐๐ฅฒ
Jerome Polin kembali berikan pendapat dan merasa capek tiap hari liat berita buruk, melalui akun sosmed nya ia bilang:
"Jujur at this point aku bingung, kita sebagai rakyat tuh bisa apa sih? speak up di sosmed udah, ga didenger. Dilawan pake buzzer lagi. Demo udah, ga ada perubahan. Dilawan pake demo bayaran. Ada cara apalagi?? Segakbisa ngapa-ngapain itu kah?
Asli bingung dan bertanya2, apa masih ada harapan?
Yang berkontribusi malah dikriminalisasi. Terus harus apa? Bisa apa?
Rakyat susah cari kerja, kualifikasi harus S1 minimal. Eh ada yang ga lulus S1 jadi komisaris, segampang itu?"
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Pak Anies skrg sibuk bantu kota Riyadh, punya gerakan AksiBersama, bantu GerakanRakyat, ngisi kuliah tamu dimana2, dsb.
Pak Ganjar skrg sibuk bikin yayasan mental health Teman Bersama, jogging rutin sama anak2 Jogja, bantu UMKM paks LapakGanjar, dsb.
Kebayang kan aktivitas gerakan dan kegelisahan mereka masih tetap konsisten, saat pilpres dan setelahnya?
Artinya apa? Ya gak gimmick. Emang begitu orangnya.
Di atas podium sok teges; mengagung-agungkan sistem merit. Anti koneksi-koncoisme, anti ini anaknya siapa, ponakannya siapa. Faktanya? Bayangken, satu orang ADIK KANDUNG menjabat 5 posisi strategis sekaligus.
WHAT AN UNMISTAKABLY, PAINFULLY BLATANT HYPOCRISY!! ๐ซต๐ป
#RezimMunafik
Pemimpin yang bodoh lahir dari tangan pemilih yang bodoh.
(Jenderal Besar Soedirman)
Akhir zaman kekuasaan dipegang oleh orang2 bodoh dan zalim.
#RipIndonesiaKu
Baru kali ini, loh, kami melihat ada orang yang mencaci-maki akademisi dan cendikiawan. Apalagi kalo 'orang itu' adalah seorang Presiden.
Ini maksudnya siapapun itu yang memiliki intelektualitas lebih, dilarang untuk melempar kritik, yaa?
Khawatir bahwa mereka akan menularkan keintelektualitasannya pada mereka-mereka yang 'masih bodoh' dan 'belum sadar'?
Yg dulu nangisin pak wok disaat debat capres, sekarang nangis dipinggir jalan apa ngga?
BBM dan gas naik, sampai kresek aja melonjak, investor kabur, dollar perlahan tp pasti merangkak ke atas, APBN gamang..
Dipikir capres itu Drakor kale ya, gegara meweker, semua ikut kena dampaknya...
Aah pea..๐ฅด
@LambeSahamjja Lah justru itu kan? Superindo bisa jual 14.900 udah termasuk profit margin + operasional + hpp bahan. Mbg kan gaperlu ngitung profit margin, 5rb buat operasional, 10rb buat bahan. Superindo jual 14.900 gamungkin bahannya di harga 12rb. Maksmial margin hpp bahan tuh 40%
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami:
1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan.
2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami.
3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah).
4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan.
Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat.
Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat.
Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah.
โSaya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903)
Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya.
Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu.
Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.
Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan).
Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga ๐น๐ท๐ผ๐๐บ๐ธ๐ชป
BREAKING: Seorang siswa SMK di Kudus bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo, menolak jatah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya dan meminta anggaran tersebut (sekitar Rp6,75 juta untuk 1,5 tahun) dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru yang kesejahteraannya masih memprihatinkan.
Ia berargumen bahwa guru jauh lebih berperan membentuk generasi muda daripada program makan gratis, dan suratnya yang diunggah di Instagram menjadi viral.