Lagi ramai narasi kebijakan fiskal dan moneter Indonesia "tabrakan".
BI naikin rate 100 bps dalam 2 bulan sambil nyerap likuiditas via SRBI.
Di saat yang sama Kemenkeu melebarkan defisit dan menempatkan dana pemerintah Rp400 triliun di Himbara.
Satu ngerem, satu ngegas.
Kalau kombinasinya begini, rupiah arahnya ke mana?
Based on framework klasiknya Mundell-Fleming.
Dampak policy mix ke kurs tergantung seberapa bebas modal asing keluar-masuk.
• Di negara high capital mobility: kurs digerakkan capital flow. Rate naik → asing masuk ngejar yield → currency menguat.
• Di negara low capital mobility: kurs lebih digerakkan neraca dagang. Fiskal ekspansif → impor naik → trade deficit melebar → currency melemah.
Indonesia di tengah2.
Capital account terbuka, tapi asing terus menyusut di dua pasar sekaligus: di SBN porsinya tinggal ~13% dari ~40% satu dekade lalu, di equity dari ~65% ke 42%.
Untuk mix moneter ketat × fiskal ekspansif, jawaban teorinya: indeterminate.
Rate tinggi menarik inflow, ekspansi fiskal bikin investor minta risk premium.
Dua gaya tarik-menarik.
Rupiah akan menguat atau melemah tergantung gaya mana yang lebih kuat.
Ada satu istilah, namanya differential.
Differential itu selisih suku bunga acuan BI dan the Fed (BI Rate dikurangi Fed Funds Rate).
Kenapa ini yang dilihat investor global?
Mereka selalu punya pilihan parkir di aset dollar, currency paling aman di dunia.
Buat mau pindah ke aset rupiah (yang lebih berisiko) harus ada bayaran ekstra.
Differential itulah bayarannya.
BI 5,75% dan Fed 3,63% artinya differential ~2,1pp: pegang SBN dapat ekstra ~2,1% per tahun dibanding instrumen dollar.
Pertanyaannya: cukup nggak differential tersebut untuk compensate risiko rupiah yang ditanggung?
Cara ngukurnya bisa dilihat langsung dari perilaku asing di SBN secara historis.
• Era differential tebal 2010–2016, rata2 6,5pp: asing masuk hampir tanpa henti, porsinya naik dari belasan persen ke hampir 40%.
• 2017–2019 differential menipis ke ~3,4pp, tapi asing bertahan di 38–40%. Posisi yang sudah terbangun itu sticky/lengket.
• Setelah 2020 porsinya longsor. Diawali efek banjir penerbitan SBN era COVID, lalu asing benar2 keluar di 2022 saat differential terkompresi ke 0,4–2pp. Sekarang porsinya cuma 12,75%, terendah dalam dua dekade.
Posisi sekarang, differential 2,1pp hari ini masih jauh dari pembanding historisnya.
Era yang membangun porsi asing 40% itu differential rata-rata 5,5pp, dan dipertahankan satu dekade.
Respons asing terhadap hike kemarin juga masih tipis: 12,6% → 12,75% di Q2.
Rupiah masih di ~17.900.
Artinya concern fiskal masih jadi overhang di mata investor global, dan yield yang ditawarkan belum menutupnya.
Tentu bukan PR yang bisa diselesaikan BI sendirian.
Hike hanya memperbaiki sisi kompensasi.
Sisi risikonya: arah defisit, kualitas belanja, kejelasan pembiayaan, hanya bisa dibereskan dari fiskalnya sendiri.
Era asing 40% dulu dibangun dengan keduanya: differential lebar dan fiskal yang disiplin.
Lee Kuan Yew:
“Air conditioning was a most important invention for us, perhaps one of the signal inventions of history. It changed the nature of civilization by making development possible in the tropics. Without air conditioning you can work only in the cool early-morning hours or at dusk. The first thing I did upon becoming prime minister was to install air conditioners in buildings where the civil service worked. This was key to public efficiency."
Berdasarkan IDX, kepemilikan ETF pada saham Indonesia turun dari Rp 115 T pada Akhir April 2026 menjadi Rp 100 T pada akhir Mei 2026
Sebagian disebabkan karena harga turun, sebagian lagi karena ada penjualan
Saham apa saja yang masih dimiliki ETF di atas Rp 100 M ??
@pinkbourbon8898@Saham_fess Kalo baca secara sederhana dari tabel gak seburuk itu ya. Soal information flow, Korea juga kena (-) jadi sepertinya bukan tone negatif info hari ini, kuncinya nunggu tgl 24 berarti ya pak.
Salah satu kesalahan paling umum dalam membaca data makro: terpaku pada angka absolutnya.
• "Inflasi naik ke 4%."
• "BI hike 25 bps."
• "GDP tumbuh 5%."
Refleksnya langsung menilai bagus/jelek dari angka itu.
Padahal pasar bereaksi terhadap "Surprise Factor".
"Surprise Factor" adalah selisih antara REALISASI dan KONSENSUS.
Harga itu sudah mendiskon faktor2 yang forward-looking.
Sebelum sebuah data rilis, konsensus tentang data tersebut sudah priced in di harga.
Market sudah antisipasi data makro yang belum keluar based on konsensus.
Ketika datanya riilnya keluar, satu2 informasi baru adalah selisihnya terhadap ekspektasi, dan itulah yang menggerakkan harga, bukan angkanya sendiri.
Kalau inflasi keluar di 4% dan konsensus memang 4%, market price most likely tidak akan kemana2.
4% itu sudah priced in.
Yang menggerakkan pasar adalah kalau yang keluar ternyata 4,5% (di atas dugaan) atau 3,5% (di bawah).
Implikasinya adalah, angka "bagus" bisa menurunkan pasar kalau di bawah ekspektasi, dan angka "jelek" bisa menaikkan kalau lebih baik dari yang ditakutkan.
Di portfolio management, ini masuknya ke Macroeconomic Factor Model. (terlampir di gambar)
Di pasar global ada indeksnya: Citi Economic Surprise Index (Citigroup), yang mengukur data aktual vs konsensus.
Jadi kalau ada rilis data atau keputusan bank sentral, pertanyaan pertamanya bukan "angkanya berapa", tapi "angkanya berapa dibanding yang diperkirakan."
Yang sesuai ekspektasi, sekencang apa pun headlinenya, sebagian besar sudah priced in di harga.
@handierawan Dalam segala kekalahan kunci balikin mental ya pernah menang dulu pak. dimulai kemenangan/profit kecil tapi konsisten pasti mental balik lagi.
@TradingDiary2 Memang sangat2 gak menarik pak mulai januari itu. Cuma ditarik untuk dijatuhkan, bukan optimis untuk pulih. Yg sangkut2 di porto udahlah cukup saya liatin aja. 😅
@txtdaritaxpayer Atau itu sebuah sindirian dari kementerian itu untuk menunjukkan ke masyarakat bahwa dugaan selama ini benar kalau menteri malah melapor ke eselon 2? Who knows.
@NoeNoeNeon@miniloveattack Tbh dia pemalas sih wkwk tapi kehadiran istrinya bener2 bisa buat si cowok lebih baik lah, memulai usaha sampingan skrg. Jadi ya ada benarnya.
@GooalMouth He is good manager tbf but this season is a mess. Wrong transfer, many injuries without proper backup, changing room mess, so many loses points from winning position. He could be title challenger next season but no time for it.