Prabowo Subianto on Indonesia’s underperformed GDP:
“Kita harus introspeksi, sadar, dan berani bertanya: kenapa kita tidak bisa mengelola ekonomi kita sehingga pendapatan negara kita bisa setara dengan negara seperti Filipina dan Meksiko? Apa yang menyebabkan kita tidak mampu? Bedanya apa kita dengan orang Malaysia, orang Kamboja, atau orang Filipina?”
#intinyadeh founder Dealls Jobs dan Sejuta Cita (Mawapres UI, lulusan Harvard), diduga lakukan pelecehan seksual pada karyawan2nya.
Suka ngajak jalan berdua, obrolan ngarah seksual, touchy.
Korbannya bbrp, ex-karyawan konfirmasi, termasuk jg peserta study trip yg masih minor.
Pada 1988, Kepala Staf Umum ABRI yang baru menjabat, Soedibjo Rahardjo, diminta menghadap Tutut Soeharto.
Di pertemuan itu, Tutut menuntut permintaan mengejutkan.
Tutut meminta seluruh bisnis senjata ABRI.
Semuanya.
Apabila ABRI membeli tank dari luar negeri, yang memegang pembeliannya harus perusahaan pengimporan milik Tutut. Tidak boleh ada kandidat lain di tender.
Demikian untuk senapan mesin, bom, peluru, truk, logistik, dll. Seluruh industri ini harus diserahkan kepada Tutut. Semuanya, segalanya, seluruhnya sampai setiap baut dan sekrup. Hanya Tutut seorang yang boleh memproduksi atau mengimpornya.
Apabila ABRI punya pemasok lain termasuk pabrikan milik sendiri, pemasok itu harus segera dicampakkan dan diganti Tutut.
Kesanggupan dan kompetensi Tutut untuk memasok seluruh senjata yang dibutuhkan seluruh ABRI akan dipikirkan nanti.
Apakah Tutut tahu bagaimana cara memasukkan tank ke dalam kapal dan mengirimnya ke Indonesia, itu urusan nanti. Apakah Tutut punya kapal untuk melakukannya, itu nanti. Printilan kecil.
Yang penting, Tutut seorang harus mendapat jaminan monopoli penuh terhadap seluruh industri alusista di seluruh ABRI.
Tutur mencatut bahwa ini adalah arahan dari ayahnya, Soeharto.
Skandal ini tercatat dalam buku otobiografi Laksamana Soedibjo yang berjudul "The Admiral". Soedibjo sendiri adalah orang Angkatan Laut pertama yang berhasil berprestasi menduduki jabatan setinggi itu di Mabes ABRI.
Menurut Soedibjo, ia terkejut dengan keserakahan Tutut.
Pasalnya, saat itu ada 350 perusahaan dan pabrik alusista berbeda yang menyuplai senjata ke ABRI. Ada yang besar, ada yang kecil rumahan.
Perusahaan-perusahaan ini memperkerjakan banyak sekali purnawirawan ABRI.
Apabila 350 perusahaan itu dicampakkan begitu saja oleh ABRI dan bangkrut, para purnawirawan itu akan kehilangan pekerjaan mereka.
Tutut tidak peduli dan menuntut supaya nantinya, kontrak seluruh 350 perusahaan perusahaan itu tidak udah diperpanjang, tetapi diganti oleh bisnis-bisnis milik Tutut.
Kelakuan Tutut yang secara terbuka serakah gila duit dan tanpa malu ini membuat Soedibjo panas.
Soedibjo menghardik: "Anda masih kurang duit?"
Tutut sepertinya terkejut bahwa seorang tentara dan Kepala Staf Umum ABRI menolak dijadikan anjing peliharaan patuh yang berjongkok apabila disuruh berjongkok.
"Lho, jangan gitu dong," kata Tutut gugup dalam bahasa Jawa kepada Soedibjo.
Soedibjo murka. "Kamu kaya harta tapi miskin akhlak," bentaknya dalam bahasa Inggris.
Usaha Tutut untuk menguasai seluruh industri senjata ABRI pun kandas, untuk saat itu.
Pada tahun 1992, Soedibjo dipindahkan ke luar negeri untuk menjadi duta besar.
---
Pada tahun 1994, Indonesia mengimpor sebanyak 104 tank Scorpion dari Inggris.
Jumlahnya sangat besar. Kejanggalannya membludak. Perampokannya fantastis.
Tutut diseret ke depan Komisi I DPR pada tahun 2005 untuk diperiksa atas megakorupsi militer ini. Akan tetapi, pada akhirnya Tutut tak pernah ditangkap.
Hari ini Tutut dan keluarga hidup santai bersama pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi keluarga Cendana yang ditumpuk dari berbagai sumber, seperti:
- Berbagai kejanggalan """bisnis""" alusista tentara seperti 104 tank Scorpion,
- Monopoli total terhadap seluruh dan semua proyek konstruksi jalan tol pada masa Orde Baru,
- Proyek pembangunan pipa migas Pertamina se-Jawa yang harganya mahal tidak masuk akal secara misterius (Note: perampokan ini dilakukan di tengah-tengah krisis ekonomi tahun 1998 yaitu pada bulan Februari, ketika rakyat sedang miskin dan menganggur),
- Uang cash dari Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) 1997 yang hilang dan tak pernah dikembalikan (Note: dana BLBI disuntikkan untuk menstabilkan ekonomi negara, tetapi malah dirampok sehingga krismon menjadi sangat ekstrem),
- Uang cash titipan bank-bank milik negara sebanyak Rp 6 triliun yang hilang misterius ketika masuk 7 yayasan milik Soeharto (ternyata dicuri langsung oleh Soeharto pribadi dan dibagi-bagikan seperti angpao ke anak-anaknya),
- dll.
Mengapa Soeharto tak ditangkap setelah jatuh pada 1998?
Pada tahun 2000, Gus Dur berusaha melakukan itu.
Gus Dur berusaha menangkap Soeharto dan keluarganya.
Sidang dijadwalkan pada 14 September 2000.
Pada 13 September 2000, bom raksasa meledak di Bursa Efek Jakarta.
15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil. Tubuh mereka hancur berceceran oleh bom mobil raksasa yang diparkir di basement Bursa Efek. Puluhan lainnya terluka parah.
Asap tebal membumbung di tengah-tengah SCBD di jantung perekonomian Indonesia. Gedung-gedung kantor besar perusahaan multinasional, bank, dan pemerintahan yang berisi ratusan ribu karyawan dilanda kepanikan dan dievakuasi.
Bom teroris besar itu menyebabkan kepanikan yang lebih besar.
Saat itu, Indonesia sedang tertatih-tatih memulihkan diri dari krisis 1997 dan mengembalikan kepercayaan internasional.
Kesejahteraan ekonomi ratusan juta rakyat bergantung pada kesuksesan pemerintahan Gus Dur melakukan hal itu.
Bom teroris di Bursa Efek sangat menggoncangnya. Harga saham jatuh. Indonesia terancam roboh kembali.
Jika Indonesia tak stabil, jutaan rakyat terancam kembali jatuh miskin dan menganggur.
Tentu saja, secara teori, jika Indonesia roboh, Soeharto dan keluarga Cendana tak akan bisa ditangkap.
Keluarga Cendana tidak akan pernah bisa ditangkap polisi apabila tidak ada polisi dan tidak ada penjara karena Indonesia bubar.
Siapa dalang bom teroris tersebut?
Kecurigaan tentu langsung tertuju pada keluarga Cendana, terutama Tommy Soeharto.
Alasan pertama, serangan bom teroris terjadi satu hari sebelum persidangan kedua yang seharusnya menyeret Soeharto dan keluarganya ke peradilan hukum.
Alasan kedua adalah Gus Dur yang langsung mengumumkan bahwa Tommy adalah tersangka utama dan memerintahlan pemeriksaan. Gus Dur sebagai presiden tentu berkuasa atas informasi intel.
Alasan ketiga, sebelumnya Tommy sudah terlibat dengan serangkaian kasus bom dan penembakan.
Lima bulan sebelumnya pada 13 Maret 2000, Tommy diseret ke hadapan Komisi V untuk diperiksa tentang kasus korupsi dan kegilaan monopoli cengkeh BPPC.
Pada saat itu, jendela ruang rapat Komisi V tiba-tiba ditembak orang misterius dengan senjata api.
Anggota Komisi V merasa sangat terancam. Bagaimana kalau yang ditembak berikutnya bukan jendela kosong, melainkan kepala mereka? Atau kepala anak mereka?
3 bulan kemudian, pada 4 Juli 2000, Tommy diseret Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk diperiksa di Kejaksaan Agung.
Satu jam setelah Tommy meninggalkan gedung, gedung Kejaksaan Agung meledak oleh bom.
Ternyata yang meledak seharusnya dua bom. Tetapi salah satu bom untungnya gagal meledak.
Dua bulan kemudian, pada 31 Agustus 2000, sidang pertama kasus korupsi Soeharto dan keluarganya digelar.
Tiba-tiba, bus yang diparkir mencurigakan di samping tempat persidangan meledak. Ada orang yang menaruh bom besar di situ.
2 minggu kemudian, sehari sebelum sidang kedua pengusutan keluarga Cendana, terjadilah bom di Bursa Efek yang sangat brutal dan mengerikan ini. Ini adalah pengeboman teroris paling mematikan sejauh ini.
Gus Dur memerintahkan penyelidikan untuk mengusut Tommy dan antek-antek gerombolan premannya yang diduga keras menjadi dalang terorisme pengeboman Bursa Efek itu.
Pada saat itu, Menteri Pertahanan Mahfud MD menjadi sangat resah.
Ia membaca pola ancamannya: jika Gus Dur terus menginvestigasi Soeharto, gerombolan keluarga Cendana, dan pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi hasil rampokan mereka selama 20 tahun terakhir, Indonesia akan terus digoncang bom dan instabilitas. Ini sudah masuk ranah ancaman pertahanan nasional.
Mahfud seakan membaca tulisan yang ditulis dengan darah orang-orang Bursa Efek: "Jika kamu terus mengusut, Republik ini akan jatuh."
Gus Dur bebal. Dua bulan kemudian, Gus Dur menolak permohonan grasi yang dengan sangat belagu diajukan Tommy Soeharto. Saat itu Tommy baru saja didakwa korupsi memaling aset tanah Bulog dan akan segera dipenjara.
Apa yang dilakukan Tommy? Ia kabur dan menjadi buronan.
Pada 14 November 2000, polisi mengirim 18 tim untuk melakukan penggerebekan di 18 lokasi. Sebanyak 206 anggota polisi diturunkan untuk melakukan penggerebakan serentak, termasuk di rumah Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Gagal. Tommy tak bisa ditemukan.
Sebulan kemudian, rentetan bom teroris kembali meledak, yaitu pada Malam Natal 24 Desember 2000.
Yang ini sangat mengerikan.
23 gereja berbeda yang tersebar di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Mojokerto, Bandung, Ciamis, dan Lombok hancur oleh bom teroris yang dijadwalkan meledak serentak.
Serangan bom serentak ini menewaskan jemaat Kristen yang sedang berdoa, juga menewaskan Riyanto, anggota Banser NU yang ditugaskan menjaga gereja dari ancaman teroris. Ia mati syahid ketika berusaha menjauhkan bom dari para jemaat gereja.
Beberapa minggu kemudian pada Januari 2001, salah satu teman dekat Tommy, Elize Tuwahatu, berhasil ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Elize tertangkap basah membawa-bawa tiga buah bom raksasa dari Tommy.
Dari mulut Elize dan pelapornya, berbagai kelakuan Tommy berhasil dibongkar.
Ternyata, berapa hari setelah Bom Malam Natal, Elize ditugasi Tommy untuk menyusun rencana membunuh Jaksa Agung Marzuki Darusman serta Menteri Industri dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan dengan bom.
Bom pertama dan kedua ditujukan pada Marzuki dan Luhut, yang dianggap mengancam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset keluarga Cendana.
Apabila Luhut berhasil dibunuh dengan ledakan bom, kematian sadisnya juga akan mengguncang stabilitas industri dan perdagangan Indonesia, mengingat jabatan strategis Luhut saat itu.
Menperindag sebelum Luhut adalah Jusuf Kalla. Menperindag sebelum Jusuf Kalla adalah Rahardi Ramelan di zaman Habibie. Menperindag sebelum Rahardi Ramelan adalah Bob Hasan, operator bisnis keluarga Cendana.
Barangkali Luhut yang saat itu jadi anak buah Gus Dur menyentuh "sesuatu" yang membuat keluarga Cendana dan kroninya (seperti Bob Hasan) sangat marah.
Selain Marzuki dan Luhut, kedua bom itu juga diharapkan memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf Kejaksaan Agung dan staf Kemenperindag dan menciptakan sebesar-besarnya teror dan kekacauan nasional.
Bom ketiga ditujukan untuk memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf di kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk semakin menebar teror di sektor-sektor kunci pemerintahan dan kestabilan ekonomi.
Tommy sendiri ternyata memiliki penyuplai bom yang menurut investigasi kepolisian diduga adalah suatu oknum pengkhianat negara di Kopassus. Secara semangat korsa, ini sangat menyedihkan mengingat Luhut sendiri adalah mantan komandan Kopassus. Tetapi memang, pada zaman Soeharto, Kopassus sempat dipimpin oleh orang yang sangat dekat dengan keluarga Cendana.
Enam bulan kemudian, pada Juli 2001, tragedi kembali terjadi. Hakim yang sedang mengusut Tommy Soeharto, Syafiuddin Kartasasmita, dibunuh dengan sangat brutal di tengah jalanan Jakarta menggunakan senapan mesin ketika sedang menuju tempat kerjanya.
Hakim Syafiuddin ini mati syahid dengan tubuh berlubang-lubang. Kematian mengerikannya sangat menghebohkan Indonesia.
Pembunuhan Hakim Syafiuddin yang luar biasa sangat sadis inilah yang ternyata berhasil digunakan penegak hukum untuk mengumpulkan cukup bukti tak terbantahkan untuk menangkap Tommy Soeharto.
Dalam suatu periode drama kehebohan nasional yang membuat rakyat menempel ke TV, Tommy si Penjahat Nomor Satu diburu oleh penegak hukum.
Tim sangat elite ini diberi nama Tim Kobra dan dikomandoi oleh perwira lapangan bereputasi cemerlang yang sedang naik daun saat itu, Tito Karnavian. Meski begitu, awalnya penyelidikan mengalami kebuntuan.
Menggunakan penyadapan sinyal telepon dan pengamatan intel, lokasi Tommy diisolasi ke sebuah rumah di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
Akhirnya Tommy berhasil digerebek, diseret keluar, dan ditangkap sebagai hewan buruan terbesar pemerintahan Gus Dur pada 28 November 2001, 4 bulan setelah Syafiuddin mati dibunuh.
Tommy dipenjara selama beberapa tahun dan hidup mewah di penjara dengan sofa, kulkas, TV, dapur, dan akses untuk bermain golf di Jakarta.
Tommy bebas dengan masa tahanan yang sangat dipotong remisi. Setelah bebas, ia langsung berusaha membeli Golkar pada tahun 2009 dengan pundi-pundi raksasa kekayaan keluarganya. Ia dikalahkan Aburizal Bakrie.
Gus Dur sendiri tidak sempat melihat Tommy ditangkap dari posisi menjabat sebagai presiden.
Gus Dur keburu digoncang dengan Operasi Semut Merah dan berbagai krisis politik.
Akhirnya, Gus Dur kalah dan digulingkan dari kursi kepresidenan pada pertengahan 2001.
---
Itulah bagaimana keluarga Cendana berhasil lolos dari jerat hukum.
Soeharto mati dengan pulas dan santai pada tahun 2008. Tubuhnya dikubur di suatu ancient temple mistis di atas bukit yang tersembunyi di tengah hutan lebat kaki Gunung Lawu yang angker, seperti seorang raja Jawa kuno. Ketika gw solo travelling ke situ dengan motor, templenya dijaga segerombolan penjaga.
Masih banyak penggundulan hutan, masih banyak banjir bandang, masih ada yang mati keracunan karena MBG, masih ada pejabat yang ijazahnya tak jelas, masih banyak pejabat yang gajinya selangit tapi kerjanya tdk jelas.
Tapi, yang diurusi: PANDJI!!!
prabowo i researched your background wkt skripsian. i know you are not an idiot. i can only assume that you are doing this on purpose. you are actively escalating the situation. the question is why?
Anehnya adalah, secepet itu mereka bisa shut down fitur media sosial, tp gabisa berantas situs judol. Artinya apa? ya, mereka hanya nyingkirin hal yang merugikan MEREKA, bukan KITA 🤭
congratulations to the government. you’ve successfully radicalized your whole country in just under one week.
whatever the outcome of this mass protest wave is, tomorrow will never be the same.