Introducing a new way to reflect on how you use Claude.
Your monthly recap shows when you use Claude most and what you spent that time working on, with options to set quiet hours and nudges to take breaks. Find your dashboard in Settings under Reflect: https://t.co/8QAn47W5rI
Aku udah baca buku setebal 800 halaman karya Robert Sapolsky, seorang profesor neurosains yang udah meneliti otak manusia selama hampir setengah abad lamanya.
Satu hal paling menarik yang kutemukan:
Otak kita itu bukan satu, tapi kayak 3 lapisan yg fungsinya beda-beda.
Kalau paham soal 3 lapisan ini, kita bisa menentukan dengan lebih baik bagian otak mana yang tepat digunakan saat kerja dan ambil keputusan penting.
Yuk kita bahas rangkuman tips & trick-nya!
A thread 🧵 by Narasi Visual
Claude Cowork is coming to mobile and web.
Hand Claude a task at your desk and pick up the finished work from your phone. Close the laptop and Claude keeps going.
Beta is rolling out over the next several weeks starting with the Max plan, with more plans to follow.
Dua bulan lalu kami sempet spill info A1 dari temen yang seorang HR di MNC besar:
Waktu itu dia cerita bahwa kantornya udah ancang-ancang efisiensi. Banyak perusahaan lain juga merencanakan hal sama.
Sekarang beneran kejadian, dimulai dari Tokopedia yang mangkas 90% karyawan mereka.
Teman kami bilang AI jadi salah satu faktor utama penyebab layoff.
Tapi, dari berita yang kami baca, sebetulnya ada beberapa tersangka berbeda yang lagi mengancam karier kamu saat ini.
Biar gak kaget, yuk kita bahas satu persatu beserta solusi ampuh buat menghadapinya.
A thread 🧵 by Narasi Visual
cara paling cepat buat detachment, atau lepas dari seseorang yang sebenarnya lo pengen banget ada di hidup lo, adalah dengan ngebiarin dia ngelakuin apa pun yang dia mau. dari situ, lo bakal lihat sebenarnya apa yang dia pilih. kalau dia milih buat kehilangan lo, ya biarin. kalau dia memilih orang lain, ya biarin juga.
“oh, ternyata dia emang nggak milih gue.”
tapi itu jauh lebih baik daripada lo terus-terusan ngabisin energi dan perasaan untuk orang yang memang nggak memilih lo. sometimes, closure doesn’t come from explanations. it comes from their actions.
gen z itu currency nya di trust, either lu trust them or not
ada yg dikasih trust, bisa deliver tanpa micromanage
ada yg dikasih trust, ilang-ilangan bahkan ada yang sampe curi device kantor
case yang gabisa ditrust, ya gabisa diprevent, lesson learnt aja.. micro managing doesn’t solve lack of trust, it’s just giving penalty to performers
terus gimana risk management nya? build connection with them! Lu tau yg konten2 “ketika gen z jadi manager”? nah kayak gitu tuh, gen z trust you by the vibes
“are you vibing with us?”
“do you see me as an equal?”
“do you care about my task blockers?”
etc
makanya vibe check harusnya jadi salah satu stage interview di gen z 🙂↕️
Introducing Claude Science, a new app designed with every stage of research in mind.
Artifacts traced to their code, environments managed on demand, and 60+ optional scientific databases that you can connect.
Available now in beta.
Kemarin udah test,
Gimana GLM 5.2 itu Token Hungry, boros token tapi kualitasnya kayak Opus 4.8.
Gimana Deepsek v4 Pro dgn harga yang relative kecil bagus dan cocok buat daily drive
Rencananya aku bakal bikin workshop khusus ngebahas ini, Gimana model model open weight udah near GPT dan Opus level dengan cost, speed yang cukup bagus.
Ada yang tertarik ikut workshop?
Sayangnya emang kita gabisa replicating historical success sama persis. Timing, kondisi pasar, teknologi, dan sekian banyak konteks yang gak akan pernah sama lagi.
Kalo kalian lulus kuliah tahun 2019, kalian adalah generai yg paling beruntung. Banyak ekspansi start-up gila-gilaan. Minimal intern di start-up walau gaji sebulan cuma 1/2 UMR tapi benefit luber. Mau job hopping juga gampang.
Kalo kalian lulus tahun 2021, kalian gak seberuntung lulusan 2019. Start-up masih berkembang. Tapi tech-winter mulai datang.
Kalo kalian lulus tahun 2022, cuma selisih 1 tahun dari 2021 lho padahal. Tapi kerasa banget degradasi opportunity. Banyak orang kena layoff. Tech winter bener-bener kejadian.
Lulus tahun 2023? Kena geprek bos. Saingan lu orang-orang yang masih kuliah tapi udah punya experience mentereng karena Kampus Merdeka. Meanwhile lu baru lulus tapi gak punya pengalaman apa-apa.
Lulus tahun 2025? Banyak perusahaan organisasinya makin lean. Teknologi makin murah. Daripada bikin divisinya, banyak yang memutuskan pakai vendor. Pekerja lepas / outsource tapi gaji ngepas lebih preferrable.
Aku lulus 2021 lanjut kerja sampai awal tahun 2026.
Selama hampir 5 years of experience, karirku cepet. Aku cabut di kerjaan terakhirku dengan tittle manager. Aku sempat kerja di top startup & fmcg indo. Gajiku bisa hit 50juta gross sebulan sebelum aku usia 26 tahun. Kalo kalian lulus di tahun dan punya horizon yang sama kayak aku, taktik "yang penting perusahaannya, bukan jabatan atau gajinya" itu mungkin masih make sense. Saran ikut bootcamp itu pasti masih make sense.
Tapi kalo kalian baru akan lulus atau baru lulus, i don't think the same advice would work for your generations.
At this point adek gw yang belum lulus kuliah tapi cita-citanya jadi juragan cabe (literally dia ngomong pengen jadi juragan cabe) jauh lebih visioner menurut gw daripada kerja di company mentereng. Karena competitiveness sama efficiency threats di workplaces seserius itu skrg.
Walau konteks gak lagi sama, walau misal gw kalo jadi fresh graduate tahun ini juga belum tentu bisa replicating my past success... blueprint sukses lintas generasi itu selalu sama: jadi tahan banting dan cepet.
Jangan capek upgrade diri walau requirements kerja makin gak tau diri. Meski perusahaan makin susah digapai, siapa tahu nasib lu lu semua bukan buat jadi pegawai. Never ever ever stop, walau banyak isu sistemik. You're gonna make it. Jangan capek, semangat.
Kadang bosen ama rutinitas yg sama terus tiap hari. Trus jadi “mbesengut” sendiri.
Untungnya selalu save foto, memori di notes.
Sebagai reminder bahwa hidup yg kurasakan bosan ini, bisa jadi impian orang lain.
Always remember the day one.
Kata managerku yang dulu gini:
“kamu jangan cuma belajar jadi orang pinter, belajar juga jadi orang yang kalau dikasih kerjaan, bisa bikin orang lain bisa tidur tenang”.
setuju. at some point value kita bukan lagi soal skill doang, tapi seberapa jauh orang bisa lean on you tanpa rasa khawatir
real. jadi orang yang “safe hands” itu lebih penting daripada cuma jadi orang yang “smart mind”
Keren ya melindungi manusianya.. tdk seperti saingannya yg membiarkan layoff masif krn tenaga kerja manusia digantikan AI dan robot.
Pengadilan Tinggi Hangzhou baru saja mengeluarkan putusan penting: perusahaan tdk boleh memecat karyawan hanya krn pekerjaannya bisa digantikan AI demi memangkas biaya.
Kasusnya nyata.
Seorang supervisor quality control bernama Zhou (hired 2022) di sebuah perusahaan tech. Tugasnya memeriksa output model AI. Perusahaan kemudian menggantikannya dgn large language model (LLM), menawarkan demosi dan potongan gaji 40%. Zhou menolak. Perusahaan memecatnya.
Pengadilan memutuskan: adopsi AI adalah "keputusan bisnis sukarela", bkn “perubahan keadaan objektif” yg membolehkan pemutusan kontrak secara sepihak sesuai UU Kontrak Kerja China.
Perusahaan harus membayar kompensasi sekitar Rp 550 juta (260.000 yuan). Putusan ini sdh diterbitkan secara resmi oleh Hangzhou Intermediate People’s Court dan menjadi preseden hukum.
Poinnya: China tetap agresif mendorong AI, tapi tdk boleh menjadikan teknologi sbg alasan murahan untuk membuang tenaga kerja tanpa retraining atau penyesuaian posisi yg layak.
Stabilitas sosial diutamakan di atas efisiensi murni. Ini sinyal jelas untuk perusahaan mana pun yg sdg gencar otomatisasi: inovasi teknologi bagus, tapi hukum kerja tetap melindungi manusia sbg aset, bkn sekadar variabel biaya.
Hmm.. bgmn menurut kalian, apakah pendekatan seperti ini bisa jadi contoh bagi negara lain, atau justru menghambat kemajuan teknologi?
12 tahun didunia kerja kantoran, aku bisa nyimpulin salah satu kesamaan, kalau orang yang paling jahat dikantor adalah orang yang gak bahagia dalam rumah tangganya atau keluarganya
Teman-teman, saya ingin meluruskan sedikit. Tulisan saya ini murni berdasarkan pengalaman pribadi selama 12 tahun bekerja, bukan untuk menggeneralisasi semua orang. Saya sadar setiap orang punya latar belakang dan cerita yang berbeda.
Kalau ada yang kurang setuju atau merasa kurang nyaman dengan tulisan saya, saya mohon maaf. Terima kasih sudah berbagi sudut pandang masing-masing
cc:threadvaalldear
Nemu kalimat kayak gini di IG :
Barangkali rezekimu mengalir bukan karna kamu sibuk bekerja siang dan malam, tapi karena kamu selalu menerima apapun yang terjadi di dalam hidupmu, tanpa balas dendam, tanpa drama dan memilih untuk diam sambil mendoakan hal yang baik
SELAMAT HARI JUMAT
Beneran legit kok.
Hampir 2x join.
2022 gajadi karena pas itu gabisa relocate.
2025 giliran bisa relocate gajadi karena ga cocok di role/gaji padahal sempet office tour kesana 😅
Ya emang bukan jodohnya aja wkwkw