Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.
Kalian gak pake sistem keyword dan/atau di google scholar sampe page 8 ya……………. Kalian gak download pdf dengan nama random sampe kadang lupa ini artikel yang mana kalo udah close tab……………
agree. punya pasangan yang bisa ngobrol sama kita berjam-jam, talking about anything. laughing until our stomach hurt. even still comfortable enjoying each other's silence is a privilege. tolak ukur paten jg buat jadi pasangan. ngga butuh fancy date melulu, quality time it is.
Gara-gara info dari @alfatj_ akhirnya ikutan pamer “STRAVA” baca buku di IG story. 😆
Yang mau cobain juga, bisa pakai generator-nya di tautan ini gengs: https://t.co/ByqYbGcvlh
Murid tiba2 telpon
Murid: “Sir maaf hari ini aku ga jadi les dulu ya, soalnya ternyata harus ke gerejanya lagi 😭”
Me: “eh iya gapapa kokk”
Murid: “Sir mami minta alamat Sir ya”
Me: “eh buat apa?”
Murid: “gatau saya sir”
Ga lama kemudian dateng ini, Rejeki 🥹