Tahun 2026, saya merekomendasikan pergeseran paradigma BGN : From Feeding to Nourishing (Dari Memberi Makan ke Memberi Gizi)
Tidak hanya memastikan makanan sampai ke meja atau mulut (Feeding),
tetapi memastikan makanan tersebut memberikan dampak kesehatan, pertumbuhan,
dan perkembangan otak (Nourishing).
Mengapa Pergeseran Paradigma Ini Penting?
Anak bisa makan tiga kali sehari tapi tetap mengalami stunting,
Anak bisa makan tiga kali sehari tapi tetap mengalami"hidden hungerโ (kekurangan zat gizi mikro).
Ini akan menekankan bahwa keberhasilan program bukan diukur dari :
Berapa puluh milyar porsi yang dibagikan,
Berapa SPPG yang dibangun
Berapa puluh juta penerima manfaat,
Melainkan diukur dari
Seberapa signifikan penurunan angka stunting
Seberapa signifikan kenaikan skor kognitif anak bangsa.
Seberapa signifikan perbaikan skor antropometeri.
Bagaimana paradigma ini bergeser?
Jika biasanya BGN mengukur tahap input, proses, dan output. Kini BGN harus mengukur outcome.
Tahap Input dan proses (Feeding): makanan dibagikan, anak kenyang, kalori terpenuhi.
Tahap Output : Jumlah anak yang makan,
Tahap Outcome (Nourishing): Nutrisi terserap, stunting turun, IQ meningkat, Angka Kecukupan Gizi (AKG), perbaikan BMI dan Status Antropometri,
Bagaimana menerapkan paradigma ini secara praktis?
1. Bukan lagi food security (ketahanan pangan), tapi nutrition security (ketahanan
gizi).
- Food Security (Ketahanan Pangan): Menekankan pada ketersediaan dan akses
terhadap makanan secara kuantitas agar tidak lapar.
- Nutrition Security (Ketahanan Gizi): Menekankan pada kualitas makanan
(mikronutrien), air bersih, sanitasi, dan pola asuh.
2. Bukan lagi quantity, tapi quality dan diversity
Bukan lagi soal "yang penting kenyang" (karbohidrat dominan), melainkan
keberagaman pangan (protein hewani, sayur, buah) untuk mencapai gizi seimbang.
3. Bukan lagi distribution, tapi consumption and absorption
Fokus tidak berhenti saat logistik makanan sampai di lokasi (distribusi), tapi
memastikan makanan itu dimakan (konsumsi) dan nutrisinya mampu diserap tubuh
(absorpsi) tanpa hambatan infeksi atau sanitasi buruk.
Saya merekomendasikan kita melakukan rekalkulasi anggaran Rp 15.000 per porsi MBG dan melibatkan ahli gizi independen atau akademisi lokal untuk melakukan audit berkala terhadap kualitas gizi yang disajikan.
Masyaa Allah....andai smua pejabat spt blio yg ga mikir konten, mungkin mrk yg terdampak bencana akan lebih bisa segera teratasi
Dilema jg
Mikir,kok pemerintah enak bgt y relawan yg bantu makin byk dn pejabatnya malah sibuk ngonten
Tp klo dibiarin ga dibantu,kok tega bener sama rakyat yg menderita...
Wes mbuhlah...
Pak Presiden @prabowo saat ini (setelah bencana banjir longsor lumpur, kayu gelondongan) sudah tidak relevan lagi memilah yg Legal dan Ilegal.Melihat masifnya kerusakan, kehancuran lingkungan, infrastruktur, kematian kehidupan, rakyat yg kehilangan ayah ibu anak saudara, flora fauna hancur. STOP penebangan sekarang.
Berapa uang Negara dapat selama ini dr penebangan hutan? Sawit? Tambang? Berapa kerugian Negara setelah bencana ? Berapa kerugian masyarakat material & immaterial ? Pasti tidak berimbang. Dengan segala hormat, mohon hentikan dengan kuasa Bapak Presiden @prabowo sebagai pimpinan tertinggi di NKRI.๐๐๐๐