Narasumber bukan entitas yang statis. Mereka bisa berubah. Bisa menarik pernyataan. Bisa menyangkal juga. Dan perubahan itu tidak selalu berarti bahwa mereka sejak awal berbohong.
Ada banyak kemungkinan, bisa jadi
mengalami tekanan, mendapat ancaman hukum, mengalami intimidasi fisik atau digital, atau mungkin ada tawaran lain.
Karena itu, dalam jurnalisme atau dalam hal ini film dokumenter, perubahan sikap narasumber tidak otomatis dibaca sebagai bukti bahwa laporan sebelumnya salah, dan Papua baik-baik saja. Tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Justru di situlah pentingnya verifikasi berlapis dan prinsip informed consent.
Narasumber adalah manusia yang berada dalam relasi kuasa. Semoga Mama Yasinta sehat selalu.
sumpah generasi kita harus ngelewatin tahap seleksi kerja senyebelin ini cuma buat gaji yang gak seberapa dan workload jahannam jiers tapi dikata lemah terus
Inilah yang disebut “gaji berapapun akan selalu cukup,” krn kita akan selalu nemu cara untuk survive tapi efeknya apa? Hidup pas-pasan, gizi dan nutrisi terganggu, dan akhirnya gampang burnout.
Kalau ngeluh burnout, dibilang manja.
pernah baca kalau mata myopia, hipermetropia, astigmatism etc ini juga bagian disabilitas. tapi karena ada kacamata, contact lens sbg alat akomodasi yg accessible, orang2 yang mengalami kondisi ini bisa tetap beraktivitas dengan baik. the key is accessible accomodation!!