Kebiasaan jelek sebagian orang Indo..
Mereka ga ngecek:
- Tambang-tambang Sherly
- Kinerja Sherly sebagai gubernur
- Kebijakan Sherly sebagai gubernur
- Rekam jejak dan pendidikan Sherly..
Yang mereka tahu...
"Wah, suami Sherly meninggal karena speedboatnya meledak saat kampanye"
"Wah, Sherly janda yang ditinggal sendirian secara tiba-tiba"
"Wah, Sherly punya pundak berat untuk meneruskan cita-cita suaminya"
Please lah rakyat Indo. Jangan fokus ke drama dan tragedi. Fokuslah ke hal yang objektif.
Demokrasi kita akan jalan di tempat kalau rakyat Indo masih berpikir seperti itu.
๐ UPDATE TARGET BOIKOT BDS ๐ต๐ธ๐ฎ๐ฉ
Per September 2025
โผ๏ธ Sudah +680.000 korban rakyat Gaza yang dibunuh Zionis Israel*. Buat kamu yang tergerak untuk membantu mereka, boikot adalah cara berjuang juga!
๐ข Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) sedunia sudah mengumumkan daftar boikot terbaru. Buat kamu yang pengen boikot selektif, berdampak, dan berhasil, kami siapkan diagram ini biar ga bingung lagi ๐๐ผ
Apa yang baru? โฌ๏ธ
1. Xbox sebagai bagian dari Microsoft, dan juga Dell, masuk target boikot utama karena terlibat langsung dalam pengadaan teknologi militer Israel. โ
2. Domino's dan ZARA masuk dalam boikot organik yang didukung BDS, seperti Coca Cola, McDonald's, dan Burger King. โ
3. Seluruh target dalam diagram ini ditentukan dengan mempertimbangkan popularitas dan potensi keberhasilan boikot di Indonesia, sesuai dengan kriteria target boikot BDS. ๐ฏ
โน๏ธ Informasi lebih lanjut mengenai diagram tersebut, silakan kunjungi:
https://t.co/9KvSnUISl3
atau scan QR code di diagramnya ya!
*https://t.co/5dGL8FonWW
#StopGenocide
KASAD tanya 'duitnya dari mana?' soal film Pesta Babi
Jawabannya ada di kredit film: WatchDoc, Greenpeace, Ekspedisi Indonesia Baru, https://t.co/nQiuAURhdg, LBH Papua ,semua tercantum, transparan.
Pertanyaan baliknya:
PSN yang konversi 2,5 juta hektar hutan Papua itu duitnya dari mana, dan siapa yang untung?๐๐๐
Nobar Pesta Babi dibubarkan aparat di 21 kota lebih.
Tiket sukarela 100% ke pengungsi Papua.
Riset 4 tahun, tayang gratis komunitas.
Tapi yang bikin resah militer bukan soal duit , tapi soal isi filmnya yang susah dibantah.
Kalau filmnya bohong, bantah datanya. Jangan bubarkan nontonnya๐
Barusan gw nonton podcast yang bilang rupiah akan nyentuh 22.000-25.000, pas bulan Juli-Agustus 2026
Itu kata Prof. Ferry Latulihin. Ekonom dan Mantan Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran.
Loh kok bisa? Alasan Prof Ferry:
- Efek krisis Hormuz, harga minyak sekarang di atas 100 dolar AS, bahkan otw 120 USD.
- Karena masih impor BBM dan subsidi ditahan, beban APBN makin berat.
- MBG sebagai the root of all evil. Bikin APBN boros karena memakan hampir 300 T
- Efek MBG => Defisit fiskal membengkak sekitar Rp240 triliun
Gara-gara ini kata Prof Ferry:
- Pasar takut sama APBN Indo. Bisa jebol ga ni anggarannya?
- Indonesia bisa turun rating menjadi non-investment grade
- Ujung-ujungnya, pasar makin tidak percaya.
Tapi ada lagi yang lebih seram..
pada nyangka ga si? kalimat โrakyat di desa ga butuh dollarโ bakal keluar dari mulut seorang presiden..
padahal itu kalimat yang biasa dikeluarin oleh mulut buzzer yg ga berpendidikan. jujur aja my expectation was low but what the helly??
kedelai 90% aja import, dan dia bisa bisanya ngomong โorang desa ga pake dollarโ
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 โ harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
SBY buruk, Jokowi buruk. Tapi mereka sama sekali gapernah ngomong kayak gini dalam forum resmi. Seorang presiden, pemimpin negara bicara dengan kapabilitas yang cuma seperti ini.
Orang-orang yang memilih dia karena kasihan atau karena apapun, kalian berdosa sekali untuk seluruh manusia di negeri ini. Bajingan kalian dan pilihan kalian. Bedebah.
Nasib +62 seminggu terakhir :
- Putusan MK : Jakarta tetep ibu kota, gak jadi IKN
- Sambo Kuliah S2 di lapas
- Nadiem divonis 18 + 9 tahun
- Ibam divonis 4 tahun
- Andrie Yunus gak sopan dan ber etika, makanya disiram air keras
- Nonton Film Dokumenter dilarang
- Lembaga tinggi negara bikin cerdas cermat aja, juri nya blunder
Ada yg mau nambahin?
Pernah liat di thread. Berita internasional, kunjungan presiden RI yg maraton, multi negara.
Ada org luar komen dlm english. Intinya krg lbh dia blg:
"Percuma gencar promosiin investasi di negerimu. itu bos gojek yg konsepnya revolusioner, buka jutaan lap kerja, idenya ditiru bnyk negara, malah masuk pengadilan krn tuduhan berbau kriminalisasi,
pdhl dia asli bangsamu sndri.
Mana ada investor mau percaya naruh duit di negerimu dg kondisi hukum yg tdk pasti. Mending ke SG, MY, atau vietnam"
cc:alrogritm
Guys, lo udah dengar kan angka 5,61%? Udah pada seneng, udah pada bangga, udah pada share-share di medsos bilang Indonesia tertinggi di Asia.
Tapi tunggu dulu.
Rayon Chin baru bedah angka itu sampai dalam. Dan hasilnya bikin dahi mengernyit.
5,61% itu bagus.
Tapi bagus dari mana?
Bayangin lo punya warung.
Omsetnya Rp10 juta sebulan.
Terus lo utang Rp3 juta pakai kartu kredit, terus lo belanjakannya ke warung lo sendiri.
Omset naik jadi Rp13 juta.
Lo seneng?
Seneng lah.
Tapi utang Rp3 juta itu harus dibayar besok plus bunganya.
Nah itu yang lagi terjadi sama ekonomi Indonesia sekarang.
Yang bikin 5,61% itu bukan karena industri kita makin kuat, bukan karena ekspor kita lagi gacor, bukan karena manufaktur kita lagi ngebut.
Yang bikin angkanya segede itu adalah belanja pemerintah naik 21,81% dalam satu kuartal dari yang sebelumnya cuma 4,5%.
Lima kali lipat. Dalam tiga bulan.
Dari mana asalnya?
THR PNS menjelang Lebaran.
Distribusi MBG yang dipercepat di awal tahun.
Total belanja negara di Q1 tembus Rp815 triliun naik 31% dari tahun lalu.
Sektor yang ikut meledak?
Akomodasi dan F&B naik 13% ya karena Lebaran dan liburan. Konsumsi rumah tangga naik 5,52% ya karena orang belanja pas Lebaran.
Ini bukan engine yang jalan terus. Ini momen. Setelah Lebaran lewat, THR habis, MBG balik ke ritme biasa angkanya mau dibawa ke mana?
Yang bikin lebih serem bagian yang jarang diomongin media:
Di kuartal yang katanya tertinggi sejak bertahun-tahun, mesin terbesar ekonomi Indonesia justru melambat.
Manufaktur yang nyumbang 19% dari total GDP โ tumbuhnya turun dari 5,4% ke 5,04%. Ekspor cuma tumbuh 0,9% padahal dua kuartal sebelumnya 9,14% terus 3,25%.
Trennya turun terus turun terus turun.
Impor malah naik ke 7,18%.
Pertambangan anjlok 8,20%.
Yang naik adalah sektor yang sifatnya musiman dan tidak akan terulang di Q2.
Yang turun adalah sektor yang harusnya jadi tulang punggung pertumbuhan 10 tahun ke depan.
Dan ini bagian paling tidak enak:
Belanja pemerintah naik 31%.
Pendapatan negara naik cuma 10%.
Defisit APBN di Q1 sudah Rp240 triliun naik 2,5 kali lipat dari Q1 tahun lalu yang cuma Rp83 triliun.
Tapi yang lebih serem lagi adalah defisit primer ini ukuran paling jujur kesehatan fiskal negara.
Tahun lalu Q1 masih surplus Rp22 triliun.
Tahun ini Q1 defisit Rp95 triliun.
Bukan cuma memburuk tapi berputar total.
Dari plus ke minus hampir Rp100 triliun dalam setahun.
Artinya: pendapatan rutin negara tidak cukup untuk biayai operasional dasar bahkan sebelum bayar bunga utang.
Jadi negara harus utang baru bukan untuk bangun jalan atau sekolah, tapi untuk bayar tagihan harian dan cicilan utang lama.
Dan cadangan devisa BI turun 8,4 miliar dolar di Q1 karena harus terus intervensi supaya rupiah tidak makin babak belur.
Siklusnya muter terus:
defisit lebar, utang baru, yield SBN naik, asing kabur, rupiah lemah, BI intervensi, cadangan devisa terkuras.
Dan pertumbuhan 5,61% ini nikmatin siapa?
MBG mengalir ke vendor, catering, kontraktor lalu ke petani dan peternak supplier. Idenya bagus.
Tapi transparansi suppliernya masih gelap.
Belum jelas berapa persen yang benar-benar sampai ke rakyat paling bawah.
THR PNS?
Yang nikmatin ya PNS.
Sementara 60% pekerja Indonesia ada di sektor informal.
Tidak dapat THR.
Tidak dapat kenaikan apapun dari belanja pemerintah ini.
Lebaran spending?
Yang nikmatin kelas menengah ke atas yang punya kapasitas belanja.
Mall, hotel, restoran ramai.
Yang tidak punya duit lebih ya tidak ikut merasakan apapun.
Pekerja manufaktur, buruh harian, petani yang harga gabahnya tidak naik secepat sembako, pekerja informal yang upahnya kalah cepat dari inflasi mereka tidak ikut menikmati 5,61% itu.
Tapi siapa yang nanggung biayanya?
Defisit lebar ujungnya rupiah lemah.
Rupiah lemah ujungnya harga impor naik.
Harga impor naik ujungnya inflasi.
Dan yang paling keras kepukul inflasi adalah mereka yang paling tidak ikut menikmati pertumbuhannya.
5,61% itu angka yang nyata dan sah. BPS tidak bohong.
Tapi angka itu datang dari mesin suntikan belanja pemerintah yang melonjak lima kali lipat, Lebaran yang tidak terjadi setiap kuartal, THR yang hanya dirasakan sebagian kecil pekerja.
Sementara manufaktur melambat, ekspor trennya turun, defisit primer berbalik total dari surplus ke minus hampir Rp100 triliun, dan cadangan devisa terkuras.
Q1 2026 kemungkinan adalah puncaknya. Q2, Q3, Q4 Lebaran sudah lewat, THR sudah habis, MBG kembali ke ritme biasa. Angkanya mau dibawa ke mana?
Itu yang harus dijawab pemerintah. Dan itu yang harus lo kawal.
Kenyataan bahwa abis orang pada bilang "tidak" dan dia masih bisa bilang, "MBG itu penting," adalah bukti beliau nih tuli terhadap suara masyarakat bahkan secara langsung.
Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
bukti nyata 1 langkah kecil bisa berarti besar..
meet Arief Kamaruddin
pemuda 34 tahun dari Ciliwung yang bikin gubernur Jakarta gelar rapat khusus soal ikan sapu-sapu
kenapa dia mulai gerak
> dari kecil hobi jala ikan
> dulu dapetnya udang atau lele liar
> sekarang isinya sapu-sapu semua
> spesies asli ciliwung hancur sisa 20 spesies
> sapu-sapu ini invasif dan nggak ada predator
cara kerjanya hardcore
> turun ke sungai 1-3 jam tiap hari
> kadang nyari sampe jam 2 pagi
> nyemplung ke air keruh beracun
> ngeraba akar pohon pake tangan kosong
> resiko: beling, paku, ulerdapet ikan, patahin lehernya, lalu kubur
impactnya nggak main-main
> viral sampe masuk podcast close the door
> gubernur dki langsung instruksi walikota
> dinas gelar operasi massal tiap jumat
> di jaksel kemaren tembus hampir 7 ton
> rilis warning bahaya makan sapu-sapu ciliwung
strateginya pinter
dia pake sapu-sapu cuma buat pintu masuk
tujuan utamanya nyentil isu sampah dan limbah
karena kalo bahas sampah doang publik gampang abai
dari jaring seadanya, dia sukses maksa birokrasi buat turun tangan.
di tempat kalian ada sosok
seniat ini nggak?