Pembabatan hutan seluas 2,5 juta hektar, rekor deforestasi terbesar di Dunia.
Film Pesta Babi mulai jadi kenyataan.
Papua Bukan Tanah Kosong.
Papua Menolak PSN
Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjadi kontroversi. Film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale ini diputar di banyak tempat, tapi juga dilarang di sana-sini oleh tentara.
Film ini menyoroti tradisi awon atatbon dari suku Muyu di Papua Selatan sebagai bentuk perlawanan terhadap eksploitasi lahan. Tradisi ini bukan sekadar perayaan adat, melainkan sarana untuk menentukan batas wilayah dan menjaga kelestarian hutan dari ancaman proyek strategis nasional. Karya ini mendokumentasikan kerusakan ekologi berskala besar mengancam sumber pangan serta identitas spiritual masyarakat adat sekaligus perjuangan mereka melawan praktik kolonialisme modern.
Berkala fajar membahas proses pembuatan Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di https://t.co/MR22quwcLm
#TempoPlus
[DARURAT AGRARIA]
LUBANG KEDUA! PT. WKS (Sinarmas) kembali MENGGALI JALAN warga Desa Bukit Bakar, Tebo — bukan untuk membangun, tapi untuk MENGURUNG rakyat!
Swiss gak punya laut.
Singapura gak punya sawah.
Jepang miskin sumber daya mineral.
Arab Saudi hutannya minim.
Belanda bahkan gak punya gunung.
indonesia punya semuanya.
Alam lengkap, sumber daya ada, laut luas, tanah subur. Tapi kok UMR masih 5 juta ?
Stop.....✋️✋️✋️⚠️⚠️⚠️
Buka mata kalian wak
TOP 5 Daftar Pemilik Perusahaan Penghancur Hutan di Papua
1. Keluarga MARTIAS FANGIONO
🌴 Menguasai hampir jutaan hektar lahan di Papua
2. Anthony Salim
🌴Menguasai ratusan ribu hektar
3. Seung Eun-ho
🌴Menguasai ratusan ribu hektar
4. Jimmy Widjaja
🌴Menguasai puluhan ribu hektar
5. Rosna Tjuatja
🌴Menguasai puluhan ribu hektar
Yang paling sakitnya beberapa perusahaan penghancuran hutan tersebut terdaftar di luar negeri, yang artinya hutan kita di hancurkan pajaknya untuk bangun negara luar.
Di Indonesia ada suku yang tubuhnya mulai berevolusi jadi “manusia laut”. Mereka adalah Suku Bajau/Suku Bajo.
Sejak kecil, anak-anak Bajau lebih akrab dengan laut daripada daratan, sampai ada kiasan banyak yang bisa berenang sebelum lancar berjalan.
Rumahnya di Atas Ombak
Suku Bajau ini aslinya adalah sea nomads atau pengembara laut. Sebagian besar hidup mereka dihabiskan di atas air. Dulu, mereka tinggal berpindah-pindah pakai perahu kayu kecil yang namanya lepa-lepa. Bayangin aja, mulai dari lahir, tumbuh besar, sampai cari makan, semuanya dilakukan di laut. Di Indonesia sendiri, mereka banyak tersebar di Sulawesi (terutama Wakatobi), Kalimantan, sampai wilayah Timur.
Skill Nyelam yang “Gak Masuk Akal”
Yang bikin ilmuwan dunia melongo adalah kemampuan fisik mereka. Orang Bajau bisa nyelam dalam waktu yang lama banget tanpa bantuan tabung oksigen. Cuma modal tombak kayu sama kacamata selam sederhana, mereka bisa berburu ikan di dasar laut. Bahkan, biar bisa meluncur cepat ke kedalaman puluhan meter, mereka sering pakai pemberat batu.
Rahasia Biologis (Bukan Cuma Latihan!)
Awalnya dikira cuma karena sering latihan dari kecil, tapi ternyata ada faktor adaptasi genetik. Penelitian nemuin kalau limpa orang Bajau rata-rata lebih besar dibanding kita manusia biasa. Limpa ini fungsinya kayak cadangan oksigen saat mereka nyelam, organ ini ngelepasin sel darah merah tambahan ke aliran darah. Mekanisme ini mirip banget sama yang dimiliki anjing laut. Ini bukti kalau tubuh mereka sudah beradaptasi selama ratusan tahun dengan laut.
Pengorbanan yang Ekstrem
Biar bisa menahan tekanan air yang kuat saat nyelam dalam, ada praktik ekstrem yang dilakukan sebagian penyelam, mereka sengaja memecahkan gendang telinga mereka. Memang jadi nggak sakit lagi pas nyelam, tapi risikonya ngeri, banyak dari mereka yang akhirnya tuli atau mengalami gangguan pendengaran permanen saat tua.
Realita yang Keras
Meski sering disebut “manusia air”, hidup mereka sebenarnya penuh tantangan. Mereka bukan manusia super yang kebal segalanya. Suku Bajau justru jadi yang paling pertama kena dampak kalau laut rusak, ikan berkurang, atau pesisir mulai berubah karena industri dan modernisasi.
Suku Bajau adalah bukti nyata kalau tubuh manusia itu hebat banget karena bisa berubah dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat kita tinggal selama ratusan tahun.
Aturan di kantorku:
- cuti melahirkan 6 bulan
- cuti ayah 1 bulan
- adopsi anak (di bawah 2 tahun) cuti sama (6 bulan utk karyawati, 1 bulan utk karyawan)
- keluarga dekat meninggal cuti 7 hari
- cuti haid wajib
- cuti keguguran saat melahirkan 3-6 bulan (menyesuaikan)
- mudah izin utk jaga anak-ortu sakit
Seolah 'memanjakan' karyawan, tapi kantorku bisa jalan seperti ini 13 tahun. Saya tanpa pekerja yg andal, perusahaan akan tamat dalam sekejap. Karyawan tanpa fasilitas ramah keluarga akan lenyap dibajak kompetitor. Saling membutuhkan.
Saya juga tidak tahu masa depan perusahaan spt apa. Tapi saya tidak ingin mengubah kebijakan2 di atas. Bahkan ketika era covid ada yg dapat cuti melahirkan dan cuti ayah, kebijakan tetap diterapkan di masa sulit.
Kondisi dan karakter leader di tiap perusahaan tentu berbeda. Pasti banyak yg bingung dgn kebijakan kantor saya (dibilang moralis, disumpahin bangkrut, dll. Yeah, I got it a lot). Demikian juga saya bingung kalau perusahaan dgn margin/volume bagus tapi tdk punya kebijakan ramah keluarga. Beda prioritas sepertinya 😀🙏
Lomba rebahan di Jogja city mall
Pertama nya iseng" daftarin mbak di acara lomba rebahan PERTAMA DI INDONESIA udah mikir ga bakal menang deh karena banyak saingannya karena bener" mulai dr buka mall sampe tutup mall tp pujituhan Bener" menang dpt 5 jt boleh nihhh besok ada lagi lomba kek ginian karena hobby nya para generasi gen z 😍
( lisalashh_ )